5 Nilai dan Kisah Pilu di Balik Tradisi Baratan, Pesta Lampion Khas Jepara

- Sabtu, 22 Januari 2022 | 20:16 WIB
Kisah Pilu di Balik Tradisi Baratan, Pesta Lampion Khas Jepara
Kisah Pilu di Balik Tradisi Baratan, Pesta Lampion Khas Jepara

AYOSURABAYA.COM -- Di Jepara terdapat sebuah tradisi yang kini masih digelar oleh masyarakatnya.  

Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan Baratan.

Menurut Rukiyah dalam jurnal “Pesta Baratan di Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara” tahun 2020, asal usul Tradisi Baratan tidak lepas dari peran Ratu Kalinyamat, putri Sultan Trenggono, Raja Kesultanan Demak. Keberadaan Ratu Kalinyamat memiliki pengaruh besar terhadap Kabupaten Jepara. Salah satunya ialah pengaruh spiritualisme.

Baca Juga: Kasus Omicron Melonjak Hingga 11 Ribu Perhari, Tokyo dalam Status Darurat

Pesta Baratan merupakan tradisi peninggalan Ratu Kalinyamat sebagai bentuk penghormatan atas kematian suaminya, Sultan Hadlirin yang tewas dibunuh oleh Arya Penangsang. Di saat kematian Sultan Hadlirin, Ratu Kalinyamat membawanya pulang dengan iring-iringan pasukan pengawalnya.

Sepanjang perjalanan warga desa yang menyaksikan iring-iringan tersebut, menyalakan obor sebagai penerangan jalan untuk melintasnya pasukan pengawal dan sebagai wujud belasungkawa atas kematian Sultan Hadlirin. Dari sejarah tersebut, kini setiap tahun tradisi Baratan diperingati dengan menyalakan lampion dan dikenal dengan pesta lampion.

Tradisi Baratan merupakan pesta lampion yang dilaksanakan setiap tahun pada malam ke-15 bulan Syakban tahun Hijriah atau 15 hari menjelang bulan Ramadan di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Baca Juga: Cara Klaim Jaminan Hari Tua Secara Online dan Dokumen yang Harus Dipersiapkan

Kata Baratan berasal dari bahasa Arab yaitu “bara’ah” yang bermakna selamat atau berkah. Tujuan diadakannya pesta Baratan adalah sebagai wujud menyucikan diri menyambut datangnya bulan Ramadan.

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X