Sejarah Stasiun Gambir dari Masa ke Masa

- Senin, 27 Juni 2022 | 20:00 WIB
Kesibukan di Stasiun Gambir Sekitar Tahun 1921 (Tropenmuseum)
Kesibukan di Stasiun Gambir Sekitar Tahun 1921 (Tropenmuseum)

AYOSURABAYA.COM – Stasiun Gambir pada awalnya hanyalah tanah rawa, merujuk ke sejarahnya yang dikutip Ayosurabaya.com dari Kabarpenumpang.com, awalnya daerah Gambir adalah tanah rawa dengan pemilik tanah tersebut bernama Anthony Paviljoen.

Kemudian tahun 1697 tanah ini dibeli oleh Cornelis Chastelein dan membangun sebuah rumah dengan dilengkapi dua kincir sebagai penggiling tebu. Cornelis diperkirakan yang memberi nama tempat ini dengan sebutan Weltevreden yang berarti sangat puas.

Kemudian, di tahun 1871 Weltevreden diubah menjadi sebuah halte Koningsplein atau berarti halte lapangan raja dan dikelola sampai tahun 1884 oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dengan bangunan kecil dan sangat sederhana.

Baca Juga: Mengapa Jembatan Selat Bali Tidak Dibangun? Ternyata Ini Alasannya
Halte ini kemudian diubah lagi jadi stasiun Weltevreden, dan dibuka pada 4 Oktober 1884 di tempat Stasiun Gambir sekarang berada. Dari sinilah awal cerita kawasan Gambir menjadi salah satu perlintasan kereta, sejak saat itu hingga tahun 1906, stasiun ini digunakan untuk pemberangkatan tujuan Bandung dan Surabaya.

Desain bangunan stasiun ini atapnya dulu bertumpu pada bantalan besi cor dengan rancangan Staatsspoorwegen (SS). Lalu, tahun 1928 setelah, stasiun kemudian diperbesar dan satu tahun kemudian mengalami perubahan yang cukup signifikan dimana tampak luar bergaya art deco. Atap untuk penumpang di peron juga diperpanjang ke sisi utara hingga 55 meter.

Masuk tahun 1937, stasiun ini kemudian diresmikan sebagai stasiun Batavia Koningsplein. Hingga akhirnya 55 tahun kemudian tepatnya tahun 1992, stasiun direnovasi secara besar-besaran menjadi stasiun layang dan berubah nama menjadi stasiun Gambir. Sejak saat itu, stasiun ini difungsikan menjadi ruas jalur kereta Jakarta Kota-Manggarai.

Baca Juga: Jadwal Puasa Dzuhijjah, Tarwiyah dan Arafah Jelang Idul Adha 2022 Plus Bacaan Niatnya Lengkap dengan Latin

Terkait penamaan Gambir belum diketahui kapan pastinya, diduga sekitar tahun 1922. Saat itu masyarakat menyebut Koningsplein dengan Lapangan Gambir, konon kabarnya karena  di lapangan tersebut tumbuh Pohon Gambir. Pohon yang getahnya dapat disadap sebagai bahan baku pembuat gambir, salah satu bumbu untuk menyirih.

Stasiun Gambir sendiri saat ini berada di ketinggian 16 meter dan masuk dalam Daerah Operasional (DaOp) Perkeretaapian Wilayah I Jakarta. Di sana ada empat jalur, jalur 2 dan 3 adalah sepur lurus.

Saat ini stasiun gambir memiliki tiga tingkat, di tingkat pertama ada aula utama, loket, tempat makan dan toko serta layanan perbankan ada di tingkat dasar. Naik ke lantai dua ada ruang tunggu dan beberapa tempat makan cepat saji. Lalu di lantai paling atas difungsikan sebagai peron dan jalur lintasan kereta.

Kini, Gambir juga dilengkapi dengan Rail Transit Suite, yakni hotel transit khusus untuk penumpang kereta yang hendak beristirahat. Dari segi pelayanan, status Stasiun Gambir yang berada tepat di jantung Ibu Kota memang terasa eksklusif.

Stasiun ini tak melayani pemberhentian KRL Commuter Jabodetabek, melainkan dikenal khusus melayani keberangkatan dan kedatangan KA kelas Eksekutif tujuan luar kota.

Editor: Kukuh Tri Laksono

Sumber: Kabarpenumpang.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X