Refleksi Hari Kemerdekaan: Mengingat Sejarah Teks Proklamasi Dibuat

- Kamis, 4 Agustus 2022 | 22:40 WIB
Refleksi Hari Kemerdekaan: Mengingat Sejarah Teks Proklamasi Dibuat. (Kemendikbud)
Refleksi Hari Kemerdekaan: Mengingat Sejarah Teks Proklamasi Dibuat. (Kemendikbud)

AYOSURABAYA.COM - Bagi warga Indonesia, mungkin sudah tidak asing dengan istilah proklamasi. Sebab, sejak teksnya dibacakan, maka Indonesia resmi meraih kemerdekaannya dari penjajahan.

Pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan pada Jumat, 17 Agustus 1945 atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang. Teks Proklamasi yang dibacakan di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat oleh presiden pertama RI, Ir. Soekarno dengan didampingi wakilnya, Drs. Mohammad Hatta.

Sebelum pembacaan teks proklamasi tersebut, ada sebuah tragedi pada tanggal 6 Agustus 1945, yaitu sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh pasukan sekutu, Amerika Serikat. Tragedi ini mengakibatkan menurunnya moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia lantaran kerugian yang mereka alami.

Menyadur situs pojokiklim.menlhk.go.id, hal tersebut dimanfaatkan oleh para pahlawan nasional. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau "Dokuritsu Junbi Cosakai", berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang.

Pergantian nama ini bertujuan untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia pada saat itu. Tanpa diduga, pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan kembali di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya.

Peristiwa tersebut menjadi penanda pula berakhirnya Perang Dunia II. Indonesia pun tidak menyiakan kesempatan tersebut untuk mempercepat proses kemerdekaan bangsanya.

Pada prosesnya, Soekarno dan Hatta selaku pimpinan PPKI, serta Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi.

Mereka mendapat kepastian kabar sana bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu.

Mendengar berita tersebut, para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak pernyataan bahwa bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.

Halaman:

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Sumber: Kemdikbud, Kementerian LHK

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X