Coca-Cola Indonesia Kurangi Materi Plastik Sekitar 25-30%

  Kamis, 13 Juni 2019   Rahim Asyik
Coca-Cola. (www.coca-cola.co.id)***

Coca-Cola Indonesia akan mengurangi penggunaan materi plastik dalam produknya antara 25-30% untuk sebagai bagian dari upaya pengurangan limbah plastik.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- Coca-Cola Indonesia berupaya mengurangi penggunaan material plastik sampai sekitar 25-30% dalam kemasan produknya sebagai langkah pengurangan limbah plastik.

"Dari desain, kami mencoba kurangi penggunaan materi plastik," kata Public Affairs and Communication Director Coca-Cola Indonesia Triyono Prijosoesilo di Jakarta, Kamis (13/6/2019).

Di sela diskusi yang menjadi rangkaian gerakan Plastic Reborn #BeraniMengubah yang diinisasi perusahaan itu, Trijono mencontohkan pengurangan material plastik itu mencakup di seluruh produk.

Triyono mencontohkan produk air minum dalam kemasan Ades yang juga diproduksi Coca-Cola beratnya hanya berkisar 10 gram dengan pengurangan material plastik itu.

AYO BACA : Penumpang Pesawat di Bandara Internasional Juanda Turun 25%

"Sementara di pasaran (produk sejenis) bisa 15-17 gram. Artinya, sudah sangat ringan. Di packaging produk lain pun seperti itu," katanya.

Dengan semakin berkurangnya material plastik dalam kemasan produk, kata dia, sampah plastik yang dihasilkan masyarakat dari konsumsi produk itu juga berkurang.

Kedua, Trijono mengatakan Coca-Cola Indonesia juga berupaya mendorong sistem pengumpulan dan daur ulang sampah secara lebih masif.

"Kami ada target (pada) 2030 ingin meng-collect dan me-recycle sejumlah sama dengan apa yang kami produksi. Kami akan pelajari kondisi di Indonesia seperti apa, strategi ke depan seperti apa," jelasnya.

AYO BACA : Penjualan Toyota Naik 5.200 Unit Selama Lebaran

Regional Technical Director Coca-Cola Indonesia Gunawan Mangunsukarjo juga memastikan memastikan dukungan perusahaan terhadap konsep "circular economy" dengan membuat seluruh kemasan dapat didaur ulang pada 2025.

Coca-Cola Indonesia memproduksi berbagai merek minuman, seperti Coca-Cola, Sprite, Fanta, Diet Coke, Frestea, Minute Maid, Aquarius, hingga Ades.

Sementara itu, pakar pengelolaan udara dan limbah Institut Teknologi Bandung Enri Damanhuri dalam kesempatan sama menyampaikan permasalahan sampah merupakan tanggung jawab seluruh pihak.

Namun, kata dia, penanganannya dapat dimulai dari masing-masing individu dengan mengelola sampah di sumbernya, mulai rumah, sekolah maupun kantor.

"Faktor utama sampah tentu berasal dari perilaku masyarakat yang semakin konsumtif. Minimnya kesadaran dan pola pikir juga turut andil," kata Enri.

AYO BACA : Laris Manis Penjualan Tiket Kereta Api Sleeper Luxury 2

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar