Riset tentang Sampah Laut di Indonesia Masih Tertinggal

  Jumat, 14 Juni 2019   Rahim Asyik
Nelayan beraktivitas mencari ikan di antara sampah yang berserakan di Pulau Santen, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (18/5/2019). Kendati jadi masalah berat, riset sampah laut di Indonesia masih ketinggalan bila dibanding dengan luar negeri. (Budi Candra Setya/Antara Foto)***

Riset tentang sampah laut di Indonesia mulai meningkat. Akan tetapi jumlahnya masih kalah banyak jauh dibandingkan dengan riset sejenis yang dilakukan di luar negeri

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- Hasil studi terbaru beberapa peneliti Indonesia yang dipublikasikan di Marine Pollution Bulletin Journal of Elsevier, Rabu (12/6/2019), menunjukkan bahwa belum banyak riset tentang sampah laut yang dilakukan di Indonesia. Di lain pihak, penelitian mengenai sampah laut secara global terus meningkat dengan Tiongkok memberikan kontribusi signifikan dibanding empat produsen sampah laut terbesar lain, termasuk Indonesia.

Dalam studi riset yang hasilnya diterbitkan di Marine Pollution Bulletin Journal of Elsevier itu, para peneliti mengidentifikasi jumlah publikasi di dunia per tahun meningkat dari satu naskah pada 1978 menjadi 579 naskah tahun 2018. Peningkatan itu erefleksikan meningkatnya perhatian internasional terhadap sampah laut.

"Paper (makalah) kami kemarin yang saya share (bagi) sebenarnya me-review (meninjau) sejauh manakah riset marine debries (puing-puing di laut) telah dilakukan di Indonesia. Kenyataannya belum banyak bila dibandingkan dengan luasan laut teritorial Indonesia yang sangat luas," kata peneliti madya Bidang Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Widodo Pranowo kepada Antara di Jakarta, Jumat (14/6/2019). Widodo terlibat dalam studi "Marine debries in Indonesia: A review of research and status".

"Riset terkait sampah laut Indonesia juga memiliki lebih sedikit koneksi jaringan kolaborasi internasional ketimbang negara-negara lain dengan tingkat produksi sampah laut yang lebih rendah, meski persoalan ini bersifat lintas batas," kata Widodo.

Hasil studi peneliti dari KKP, Universitas Padjadjaran, Universitas Raja Ali Haji Maritim, dan Mantawatch International juga menunjukkan studi lebih banyak dilakukan di wilayah barat Indonesia, terkonsentrasi di Pulau Jawa, dan kebanyakan fokus pada persoalan ekosistem pesisir, khususnya pantai. Riset mengenai ekosistem laut dan samudera belum banyak menurut para peneliti.

AYO BACA : Mahasiswa UMP Temukan Celana Terapi untuk Perbaiki Kaki Bayi

Selain itu, menurut para peneliti, studi yang menyelidiki komposisi dan distribusi sampah laut makro di Indonesia cukup dominan sedangkan penelitian yang membahas dampak dan atau mitigasi sampah laut lebih sedikit.

Para peneliti juga menyebutkan bahwa menurut studi hasil riset sampah laut di Indonesia sekitar 75% berupa manuskrip dari jurnal peer-review dari makalah konferensi, dan 25% sisanya terdiri dari literatur abu-abu atau laporan teknis dan tesis akademik.

Berdasarkan hasil analisis dari 4.752 naskah riset kolaborasi antarnegara yang diidentifikasi dari Clarivate Analytics Web of Knowledge menggunakan paket bibliometrix diketahui bahwa sebagian besar publikasi diterbitkan dalam jurnal yang berfokus pada ilmu lingkungan atau manajemen sumber daya alam.

Mengingat sifat multidisiplin, cukup mengejutkan tidak ada studi sampah laut yang dikaitkan dengan bidang-bidang seperti kesehatan, sosial ekonomi, teknik atau kebijakan.

AYO BACA : Tahun 2021, Sedotan Plastik Hilang dari Kanada

"Saya mendengungkan ajakan riset sampah laut sejak 2015, pada World Ocean Day. Waktu ada beberapa peneliti di universitas maupun KKP dan LPNK yang sudah meneliti walau belum banyak. Baru kemudian pertengahan 2016 dan 2017 Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mulai menginisiasi kampanye dan renstra terkait penanganan sampah plastik, dan alhamdulillah pihak LIPI mulai menyediakan dana hibah bagi yang ingin melakukan riset sampah laut di Indonesia," kata Widodo.

Menurut dia, ada pula lembaga pendanaan riset dari luar negeri yang menawarkan dana riset, namun cukup kompetitif.

Kendati demikian, kalangan pelajar sekolah menengah dan perguruan tinggi sudah mulai tertarik melakukan riset mencari teknologi untuk mengolah sampah laut menjadi sesuatu yang lebih berguna.

"Ini sinyal bagus. Semua komponen masyarakat turut serta memikirkannya," ujar Widodo.

Riset yang dilakukan oleh peneliti di Indonesia dan luar negeri, Widodo mengatakan, antara lain ditujukan untuk mencari bahan pengganti plastik yang lebih ramah lingkungan.

"Teman-teman peneliti bioteknologi di KKP juga berusaha meriset kemungkinan rumput laut dapat digunakan sebagai bahan pengganti plastik," katanya.

Namun, menurut dia, riset terkait sampah laut yang penting dan dibutuhkan secara paralel saat ini adalah yang terkait dampak negatif sampah laut, termasuk terkait akumulasi mikroplastik di organisme laut, inovasi teknologi dalam pengelolaan sampah laut agar lebih bermanfaat serta perilaku warga terkait persoalan sampah laut.

AYO BACA : Spesies Baru Cecak Batu Ditemukan di Gunung Muria

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar