UNESCO Akan Deklarasikan Kawasan Samota Jadi Cagar Biosfer

  Sabtu, 15 Juni 2019   Rahim Asyik
Pulau Moyo di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. (indonesiaraya.co.id)***

UNESCO akan mendeklarasikan wilayah Teluk Saleh, Pulau Moyo, dan Gunung Tambora atau dikenal dengan Samota di Nusa Tenggara Barat menjadi cagar biosfer.

MATARAM, AYOSURABAYA.COM-- Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) akan mendeklarasikan wilayah Teluk Saleh, Pulau Moyo, dan Gunung Tambora (Samota) yang berlokasi di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat menjadi cagar biosfer.

Menurut Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTB Najamuddin Amy, peresmian Samota sebagai cagar biosfer akan dilakukan dalam agenda pertemuan Dewan Koordinasi Internasional Manusia, dan Program Biosfer, UNESCO atau The International Coordinating Council Of The Man And The Biosphere Programme di Paris, Prancis pada 17-21 Juni 2019.

"Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama dengan Pemerintah Kabupaten Dompu, Sumbawa, dan Bima menyambut baik penghargaan dan amanah yang diberikan oleh PBB-UNESCO tersebut," kata Najamuddin di Mataram, Jumat (16/4/2019).

AYO BACA : Lukisan

Najamuddin menilai keberhasilan yang dicapai dalam mendorong penetapan Samota sebagai cagar biosfer ini merupakan buah dukungan beberapa pihak. Antara lain Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Komite Program Nasional MAB chapter Indonesia, jajaran Pemerintah Provinsi NTB, dan Pemkab Dompu, Bima, dan Sumbawa. "Tidak lupa pula komunitas lokal dan berbagai elemen masyarakat dan individu di ketiga wilayah itu," ucap Najamuddin.

Menurut dia, Pemprov NTB memiliki sejumlah alasan untuk mendorong agar Samota dijadikan cagar biosfer.

Di antaranya karena Samota berada di antara bukit dan pegunungan yang di dalamnya terdapat berbagai flora dan fauna yang dilindungi. Selain itu, Samota juga merupakan lokasi dari Gunung Tambora yang diketahui pernah menjadi salah satu erupsi gunungapi terbesar dalam sejarah peradaban manusia.

Selain itu, deklarasi Samota menjadi cagar biosfer diharapkan dapat memfasilitasi dan mempercepat pemerintah daerah dalam upaya mencapai SDGs (Sustainable Development Goals) di daerah masing-masing.

AYO BACA : Lebaran Sapi, Tradisi Khas Warga Desa Sruni di Boyolali

Deklarasi itu diharapkan pula akan memberi manfaat kepada NTB dalam rangka melindungi sumber alam dan mempercepat kesejahteraan ekonomi dan sosial di dalam provinsi tersebut.

"Rinjani dan Samota akan menjadi tuan rumah 13rd South East Biosphere Reserve Network tahun depan. Ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi NTB dengan mendatangkan pengunjung dan juga upaya memperbaiki kondisi di daerah," jelasnya.

"Dideklarasikannya Samota sebagai cagar biosfer menjadi bukti dan komitmen Pemprov NTB dalam mendukung pengembangan berkesinambungan," katanya menjelaskan.

Menurut Najamuddin, ada sejumlah manfaat yang bisa diperoleh dengan ditetapkannya Samota menjadi cagar biosfer dunia. Yakni, hal ini akan memberikan kontribusi dalam rangka mewujudkan cita-cita konvensi keanekaragaman hayati. Samota akan menjadi media kerja sama antarpengelola cagar biosfer di seluruh dunia.
Samota juga dapat digunakan sebagai penelitian ilmiah, pemantauan global, dan pelatihan pakar dari seluruh dunia.

"Saat ini terdapat sejumlah wilayah yang telah ditetapkan sebagai cagar biosfer di Indonesia. Wilayah itu antara lain Gunung Leuser, Pulau Siberut, Lore Lindu, Pulau Komodo, Gunung Gede Pangrango, Tanjung Putting, Giam Siak, Taman Laut Wakatobi, Bromo-Semeru-Tengger-Arjuno, Taka Bonerate, Blambangan, Berbak Sembilang, Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu, Rinjani, Lore Rindu, dan Samota. Dua wilayah terakhir akan dideklarasikan tahun 2019 di Paris," katanya.

AYO BACA : Kuliner Gresik: Kolak Ayam, Makanna Warisan Sunan Dalem

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar