Jangan Biarkan Anak Belajar tentang Seks dari Temannya atau Internet

  Minggu, 16 Juni 2019   Rahim Asyik
Video viral anak berseragam SMK di Bulukumba, Sulawesi Selatan kembali mengingatkan kita akan pentingnya pendidikan seks sejak dini. (konten.co.id)***

Membicarakan seks dengan anak dalam konteks pendidikan masih dianggap tabu oleh sebagian orangtua. Akibatnya, anak belajar soal seks dari temannya yang juga pengetahuan tentang seksnya dangkal yang malah bisa menyesatkan.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) berharap, orangtua ikut membantu meningkatkan pendidikan seks kepada anak-anaknya agar mereka memiliki integritas diri.

"Sejak kecil, anak-anak harus diberikan edukasi seksualitas. Kenapa tidak boleh atau dilarang melakukan ini dan itu? Apa yang harus dilakukan dan dijaga supaya mereka punya integritas diri. Tahu ada bagian penting dari tubuhnya yang tidak boleh dipegang orang lain atau diekspos," kata Sekretaris Jenderal LPAI Henny Hermanoe kepada Antara di Jakarta, Minggu (16/6/2019).

Henny mengaku prihatin terhadap peristiwa di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, ketika ada anak berseragam SMK berhubungan seks di dalam kelas. Video kejadian itu viral di WhatsApp dan Youtube.

Henny menuturkan pendidikan seks harus diajarkan kepada anak sejak dini karena pendidikan itu adalah pintu gerbang bagi anak-anak untuk tahu bagaimana berperilaku dan berperan sesuai dengan gendernya. Dengan pendidikan itu, anak memahami perilaku seksual yang seharusnya dilakukan, memahami kesehatan dan perkembangan reproduksi, memahami hubungan lelaki dan perempuan serta batasan-batasan yang tidak boleh diabaikan.

AYO BACA : Kawin Kontrak: Prostitusi atau Bukan?

"Kami mengimbau orangtua, mari kita mulai menjaga anak, memberikan edukasi seksualitas kepada anak. Tidak hanya rangtua, orang-orang di sekitar anak juga berkewajiban melindungi anak-anak," ujar Henny.

Sayangnya, membicarakan seks dalam konteks pendidikan dengan anak masih dianggap tabu oleh sebagian orangtua. Padahal pendidikan itu menjadi penting sebagai bekal pengetahuan untuk memahami dan menjaga diri.

"Yang terjadi adalah orangtua tabu berbicara seks kepada anak. Alhasil anak-anak belajar seks dari anak-anak yang orangtuanya juga tabu berbicara seks," tuturnya.

Selain itu, anak-anak juga harus diarahkan pada kegiatan positif baik dalam kegiatan ekstrakulikuler maupun karang taruna di lingkungan masyarakat.

"Pada usia SMP, SMA, SMK, gejolak seks tumbuh sejalan dengan berkembangnya alat reproduksi anak, sehingga perlu pendidikan seksualitas dan pengawasan," tuturnya.

AYO BACA : Batik Indonesia DIminati Warga Afrika Selatan

Di sisi lain, kontrolĀ  keluarga juga kurang. "Orangtua sibuk mencari uang atau asyik dengan dunianya sendiri sehingga anak kurang mendapat pengawasan," kata Henny.

Dia mengatakan perlu melihat secara komprehensif penyebab terjadinya peristiwa di Bulukumba itu. Kejadian tersebut bisa disebabkan oleh lemahnya ketahanan keluarga, komunikasi keluarga yang tidak terjaga, fondasi keagamaan yang mungkin sudah hilang atau luntur, belum gencarnya pendidikan nilai-nilai moral dan seksualitas yang diajarkan orang tua serta kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak.

Henny menuturkan dari peristiwa itu, ada sejumlah hal yang harus dipelajari dan diperbaiki termasuk cara orang tua mendidik anak dan bagaimana komunikasi yang terjalin di lingkungan keluarga.

Dia mengatakan ikatan yang bagus antaranggota keluarga, orangtua dan anak, bagaimana tiap anggota keluarga menjalankan peran masing-masing dengan baik, cara mengasuh anak, kehangatan dan keharmonisan yang tercipta dalam keluarga, diperlukan untuk menciptakan ketahanan keluarga yang kokoh dan menghindarkan anak-anak melakukan perbuatan menyimpang.

Pengawasan terhadap anak harus dilakukan orangtua dengan baik, termasuk membangun dialog untuk mengetahui pergaulan seperti apa yang dijalani anak-anak. Orangtua juga tidak membiarkan anak-anak bermain gadget tanpa pemantauan karena akan mudah terpapar konten negatif. Tanpa pemahaman dan bimbingan yang tepat dari orangtua atau orang dewasa, anak-anak rentan melakukan hal menyimpang untuk memenuhi rasa keingintahuan mereka.

Kurangnya pengawasan dari sekolah juga berdampak buruk, dan disayangkan bahwa hubungan seks tersebut terjadi di lingkungan sekolah.

Orangtua dan sekolah harus bersama-sama berkolaborasi melindungi anak-anak. Orangtua tidak serta merta melepaskan tanggung jawab untuk perlindungan anak kepada sekolah terkait pendidikan anak selama di sekolah.

Di lain sisi, sekolah juga harus memiliki informasi bagaimana pendidikan dilakukan di dalam rumah. Sementara, ada jeda antara kehidupan anak di rumah dan di sekolah yang juga harus diperhatikan. Oleh karena itu, pengawasan terhadap anak dan peran melindungi anak harus menjadi bagian kolaborasi antara orangtua, sekolah, dan lingkungan.

AYO BACA : Aplikasi TransportasiKu Mulai Banyak Diunduh Warga Surabaya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar