Pertanian Responsif Bisa Tingkatkan Produktivitas Petani Sampai 30%

  Senin, 17 Juni 2019   Rahim Asyik
Foto udara areal persawahan di Desa Ampel Gading, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (10/6/2019). Untuk meningkatkan optimalisasi lahan rawa, Kementerian Pertanian melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) menargetkan optimalisasi baru pada 2019 seluas 500.000 hektare. (Oky Lukmansyah/Antara Foto)***

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika klaim pertanian responsif bisa meningkatkan produktivitas petani sampai 30%.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengklaim pertanian responsif (responsive farming) bisa meningkatkan produktivitas petani sampai 30%. Pertanian responsif adalah metode pertanian dengan memperhitungkan perubahan iklim.

"Rata-rata melalui ini (pertanian responsif) ada peningkatan produksi pertanian hingga 30%. Sebetulnya selama ini petani tidak sadar bahwa iklim sedang berubah, jadi jika tidak diajari mereka bertani seperti biasa, tahun ini awal musim bisa Oktober, tahun depan bisa November dan sebagainya," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal di Jakarta, Senin (17/6/2019).

Pernyataan itu disampaikan Herizal dalam konferensi pers seusai pembukaan pelatihan teknis untuk penyuluh atau "training for trainer" (TOT) pertanian responsif bagi 19 peserta dari 7 negara anggota kerja sama The Colombo Plan, termasuk Indonesia, di Jakarta. Pelatihan dilaksanakan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan BMKG di Bogor, Jawa Barat, 17-23 Juni 2019.

AYO BACA : Mesin Otomatisasi Karya Anak Bangsa Diminati Pengusaha Meksiko

Menurut Herizal, Indonesia cukup percaya diri untuk menjadi contoh sukses dari pertanian responsif di tengah perubahan iklim dan membagikan pengalaman tersebut kepada negara-negara lain.

"Sebetulnya sejak 2011, pemerintah Indonesia sudah menyadari perubahan iklim akan mengganggu produksi pertanian jika tidak dimitigasi, makanya pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden 9/2011 tentang penguatan ketahanan pangan dan bagaimana menghadapi perubahan iklim ekstrem," kata Herizal.

Pelatihan teknis pertanian responsif bagi calon penyuluh pertanian dari 7 negara anggota The Colombo Plan itu dikemas dalam bentuk Climate Field School (CFS) untuk membekali petani dengan pengetahuan dan keterampilan tentang pengaruh perubahan iklim terhadap semua kegiatan pertanian.

AYO BACA : Riset tentang Sampah Laut di Indonesia Masih Tertinggal

Lebih lanjut, Herizal menjelaskan CFS akan mencakup pembelajaran tentang tiga aspek utama dalam pertanian, yakni tanah, bibit, dan iklim.

"Bibit ada rekayasa genetika. Lahan bisa penggemburan, tapi iklim sampai sekarang kita belum bisa mengendalikan, adanya menyesuaikan. Jadi fokusnya mengenalkan informasi tentang iklim pada trainer sehingga mereka bisa menyebarkan lebih luas lagi kepada para petani di negara masing-masing," kata Herizal.

Selain cara membaca informasi cuaca atau iklim, melalui CFS para peserta juga diajarkan cara merespons pergeseran informasi tersebut untuk diaplikasikan di lapangan.

"Harapannya, para trainer dapat menyebarluaskan hasil pelatihan ini kepada para petani dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga petani dapat menanam sesuai dengan kondisi iklim yang ada," kata dia.

TOT pertanian responsif diselenggarakan BMKG, Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Luar Negeri, dan Sekretariat The Colombo Plan.

AYO BACA : Mahasiswa UMP Temukan Celana Terapi untuk Perbaiki Bentuk Kaki Bayi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar