Pasangan Suami-Istri Pasang Tarif Rp5.000 pada Anak-anak yang Mau Menonton Adegan Seksnya

  Rabu, 19 Juni 2019   Rahim Asyik
Pasangan suami-istri di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mempertontonkan adegan seksnya kepada anak-anak. Yang mau menonton harus bayar Rp5.000 per orang. (pixabay.com)***

Pasangan suami-istri di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mempertontonkan adegan seksnya kepada anak-anak. Yang mau menonton harus bayar Rp5.000 per orang.

TASIKMALAYA, AYOSURABAYA.COM— Pasangan suami-istri warga di Desa/Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya mempertontonkan adegan seksnya kepada anak-anak. Anak-anak itu harus membayar Rp5.000 per orang.

Anak-anak yang umurnya di atas 12 tahun itu bahkan diperbolehkan merekam hubungan seks yang dilakukan di kamar rumahnya.

"Laporan ini berawal dari para orangtua yang resah dengan kelakuan suami-istri tersebut. Awalnya hanya informasi mulut ke mulut, sampai akhirnya pengakuan dari anak-anak yang pernah menonton dan membenarkan kejadian tersebut," jelas Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto kepada Irpan Wahab Muslim dari ayotasik.com, Selasa (18/6/2019).

Menurut Ato, pasangan suami-istri itu dengan sengaja mengumpulkan anak-anak di sekitar rumah mereka yang ingin menonton live sex.

"Informasi ini membuat geger warga sekaligus membuat resah. Sampai akhirnya kami pun mencari informasi lebih detail. Pasangan itu hanya memperbolehkan yang menontonnya anak-anak saja," tambah Ato.

AYO BACA : Senarai Tanggapan Soal Pemblokiran Iklan Rokok di Medsos

Saat dicek ke lokasi, kata Ato, pasangan suami-istri itu sudah kabur. Keduanya kini tengah dicari polisi.

"Kalau dari informasi warga peyebabnya tetap masalah klasik, suami istri itu melakukan itu karena keterbatasan ekonomi," jelas Ato.

Psikolog kondang Kasandra Putranto menyatakan, kasus itu harus jadi perhatian semua pihak.

Menurut Kasandra, anak-anak yang menonton adegan ranjang suami istri itu bisa kecanduan karena mereka merasa perasaan senang yang ditandai dengan produksi dopamin dan endorfin di dalam mereka.

Kasandra juga meminta dilakukannya pemeriksaan lebih lanjut dan intervensi kepada anak-anak yang menonton adegan itu. "Untuk mengetahui kondisi dampak dan menentukan intervensi apa yang diperlukan," kata Kasandra kepada Antara di Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Menurut dia, perbuatan tersebut sebagai bentuk kejahatan yang sangat mengkhawatirkan, terutama dengan adanya kemajuan teknologi saat ini, yakni munculnya predator seks yang merusak anak ada di mana-mana.

AYO BACA : Polisi Tangkap Penyebar Info Sensen Komara Itu Rasul dan Presiden

"Dampak ke anak-anak bisa sangat beragam. Mulai dari kecanduan sampai meniru," kata psikolog klinis dan forensik lulusan Universitas Indonesia ini.

Kasandra mengingatkan kondisi itu dapat mendorong kecanduan dan bahkan menumbuhkan keinginan untuk melakukan hal yang sama. Sementara kapasitas pengambilan keputusan mereka (anak) masih sangat terbatas dan mereka tidak mampu mempertimbangkan dampaknya.

Untuk mencegah hal ini, Kasandra menyebutkan perlu pengawasan ketat para orang tua dalam mengawasi kegiatan anaknya sehari-hari.

Sementara itu, Kepolisian Resor Tasikmalaya dikabarkan sudah menangkap pasangan suami istri berinisial E (25) dan L (24). Keduanya, selain dianggap memiliki perilaku seks menyimpang mengingat menikmati adanya penonton, juga melakukan pelanggaran terhadap UU Pornografi dan Pornoaksi serta UU Perlindungan Anak.

Sejauh ini, hasil penyelidikan KPAID Tasikmalaya menyebutkan, ada sekitar 5 hingga 6 anak yang menonton adegan itu. "Harus ada pemeriksaan psikologis lengkap dan intervensi kepada pasutri ini. Dilakukan oleh psikolog forensik untuk mengetahui kondisi psikologis keduanya," kata Kasandra.

Kasandra mengatakan tindakan yang dilakukan pasutri tersebut sebagai kejahatan yang tidak bisa didiamkan. Untuk mengatahui hukum apa yang dapat dijatuhkan kepada keduanya dilihat dari jenis pelanggaran hukum apa yang telah dilakukannya.

"Saya harus memeriksa untuk menganalisa perbuatan apa saja yang melanggar hukum dan UU yang dilanggar dan sanksinya, apakah UU perlindungan anak atau pornografi," kata Kasandra.

AYO BACA : Kalimantan Selatan Layak Jadi Ibu Kota Negara Karena 7 Alasan Ini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar