Penyakit Kecanduan Gawai Bisa Sebabkan Anak Tantrum, Bahkan Membunuh

  Rabu, 19 Juni 2019   Rahim Asyik
Penyakit kecanduan gawai bisa sebabkan anak tantrum. (Ilustrasi: www.smartparenting.com.ph)***

‚ÄčKomisi Perlindungan Anak Indonesia mengaku pernah menemukan pasien kecanduan gawai di rumah sakit yang tantrum atau mengamuk kalau tak ada gawai, bahkan sampai mengancam akan membunuh.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitti Hikmawatty mengatakan bermain gawai dapat menyebabkan anak menjadi mudah mengamuk atau tantrum dan hiperaktif.

"KPAI sudah pernah mendapat pasien kecanduan gawai dirawat di rumah sakit. Karena begitu kecanduan dengan gawai, ketika tidak ada gawai langsung tantrum, mengamuk," kata Sitti dalam acara diskusi "Kemitraan Dalam Upaya Melindungi Hak Anak dan Remaja" dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-65 IDAI, Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Sitti menuturkan ketika dipisahkan dari gawainya, anak yang kecanduan gawai itu mengamuk luar biasa, bahkan sampai mengatakan benci kepada ibunya dan hendak membunuhnya jika dipisahkan dari gawai.

Menurut Sitti, Badan Kesehatan Dunia sepakat menyatakan kecanduan gawai adalah suatu penyakit.

Selain itu, Sitti mengatakan banyak predator yang siap memangsa anak-anak lewat interaksi di gawai, termasuk bahaya dari pelaku pedofilia dan kekerasan seksual.

AYO BACA : Ulama Aceh Haramkan PUBG dan Game Sejenisnya

Dia menuturkan pelaku pedofilia dengan intens mengincar korban dalam jangka waktu tertentu misalnya, enam bulan sampai satu tahun. Ketika ibu lengah atau sedang memasak di dapur, ibu tidak tahu bahwa meskipun anak berada di rumah, namun anaknya ternyata sedang berbicara dengan orang asing lewat gawai, yang berusaha menjebak anak dalam kasus pelecehan seksual.

Ada juga kasus di mana anak mengalami kekerasan seksual oleh orang yang dia kenal lewat media sosial saat mereka bertemu di di dunia nyata.

Dia mengatakan banyak kemungkinan yang bisa menyebabkan anak terjebak dalam kekerasan seksual. Untuk itu, anak-anak juga harus dipantau saat menggunakan gawai.

Pendapat senada disampaikan Dokter Spesialis Anak Meita Dhamayanti. Menurut Meita, banyak penelitian yang menunjukkan adiksi gawai berdampak buruk bagi psikososial anak. Anak yang terkena adiksi gawai, 30% berisiko lebih tinggi terkena masalah mental dan sosial.

AYO BACA : Iklan Rokok Diblokir di Medsos. Ini Tanggapannya...

"Dengan asyiknya dia sibuk sendiri bermain gawai, terpapar tayangan yang negatif, mereka menjadi hiperaktif, jadi agresif, dan kemampuan interaksi sosialnya menjadi tidak baik," tutur Meita.

Dijelaskan Meita, paparan gawai pada balita bisa memengaruhi stimulasi tumbuh kembang anak tidak optimal.

"Prinsipnya tumbuh kembang harus optimal tidak hanya satu sisi tapi seluruh aspek tumbuh berkembang itu harus terstimulasi dengan baik," kata Meita.

Meita yang merupakan dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung menuturkan stimulasi merupakan interaksi dua arah. Padahal bermain gawai hanya bersifat satu arah, sehingga tidak ada rangsangan optimal yang menyebabkan interaksi atau gerakan motorik seluruh tubuh untuk tumbuh kembang anak.

Lamanya paparan gawai bisa menyebabkan anak-anak mendapat stimulasi yang tidak optimal dan tidak tepat. Anak-anak jadinya hanya fokus pada gerakan mata yang terus tertuju pada layar gawai.

Meita berharap para orangtua berinteraksi lebih aktif dengan anak-anak mereka ketimbang membiarkan anak-anak bermain atau hanya fokus pada gawai.

AYO BACA : Pasangan Suami-Istri di Tasikmalaya Pasang Tarif Live Sex Rp5.000 per Anak

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar