Program Raskin Sebabkan Warga Maluku Konversi Makanan Pokoknya dari Sagu ke Beras

  Sabtu, 22 Juni 2019   Rahim Asyik
Warga sedang menokok pohon sagu yang sudah dibelah untuk diambil ela atau ampasnya. (Monalisa/Antaranews)***

Program raskin atau rastra (beras sejahtera) menyebabkan perubahan pola konsumsi warga lokal Maluku, dari tadinya makan sagu kini makan beras.

AMBON, AYOSURABAYA.COM-- Peneliti sagu dari Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon, Wardis Girsang, mengatakan bahwa masyarakat lokal Maluku mulai meninggalkan sagu dan beralih ke beras.

"Provinsi Maluku merupakan daerah penghasil dan pengonsumsi sagu sebagai makanan pokok, tetapi yang terjadi saat ini masyarakat lokal mulai meninggalkan sagu dan beralih mengonsumsi beras," kata Wardis di Ambon, Sabtu (21/6/2019).

"Masyarakat yang mengolah sagu saat ini sangat sedikit jumlahnya dan berdampak pada kenaikan harga sagu, karena produksi sagu sedikit dan harganya menjadi lebih mahal dari beras," kata Wardis.

AYO BACA : Pendapat Pakar dan Ulama tentang Kawin Kontrak

Wardis menjelaskan bahwa sagu menghasilkan pati kering sumber karbohidrat, dan bisa diolah menjadi bioenergi. Potensi sagu Maluku belum dimanfaatkan secara optimal, dan masyarakat setempat perlahan meninggalkannya, beralih ke sumber karbohidrat lain.

"Perubahan ini dikarenakan program pemerintah untuk mengatasi krisis pangan melalui program raskin yang saat ini lebih dikenal dengan rastra atau beras sejahtera, hal ini yang menyebabkan masyarakat lebih memilih konsumsi beras dibandingkan pangan lokal," ujarnya.

Padahal, ia menjelaskan, sagu memiliki kadar kalori yang hampir sama dengan jagung dan beras, dan lebih mudah dibudidayakan.

"Sagu menyimpan air, patinya banyak dan tahan dengan perubahan iklim, berbeda dengan padi yang rentan terhadap hama dan penyakit dan banyak menghasilkan gas metan ke udara sehingga mempengaruhi pemanasan global," kata Wardis.

AYO BACA : Jangan Biarkan Anak Belajar Seks dari Temannya atau Internet

Sebagai bahan pangan pokok sebagaimana beras dan jagung, mestinya sagu bisa terus memperkaya ragam pilihan makanan pokok warga.

"Potensi sagu sangat besar, jika dikembangkan oleh pemda akan menjadi penyangga pangan nasional, yang dimulai dengan merawat hutan sagu dengan tidak mengalihkan fungsinya, serta memproduksi sagu menjadi produk yang beragam dan diminati masyarakat," kata Wardis.

Ia mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Maluku telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Pelestarian Sagu. Akan tetapi penerapannya belum diperhatikan secara serius.

"Sagu harus ditanam dan dirawat dengan baik dengan pengelolaan dari hilir sampai hulu sehingga masyarakat kembali mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok, dan makanan olahan sagu semakin beragam," katanya.

AYO BACA : Ukuran Kawin Kontrak Masuk Kategori Prostitusi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar