Sejumlah Tokoh Siap Meramaikan Pilwalkot Surabaya 2020

  Senin, 08 Juli 2019   Rahim Asyik
Komisi Pemilihan Umum bersama Pemkot Surabaya membahas kebutuhan anggaran Pemilihan Wali Kota Surabaya 2020, Rabu (3/7/2019). (kpu-surabayakota.go.id)***

Banyak nama disebut-sebut akan meramaikan bursa Pemilihan Wali Kota Surabaya 2020. Ada yang dari partai, ada pula dari organisasi kemasyarakatan dan jalur independen. Siapa saja mereka?

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM-- Dukungan terhadap bakal calon Wali Kota Surabaya terus bergulir. Salah satunya dari Komunitas Kiai Kampung dan Pesantren Kreatif, yang mendukung Ery Cahyadi untuk maju pada pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya pada 2020.

Pembina Asosiasi Pesantren Indonesia Kreatif (APIK) Dr KH Muhammad Zakki, MSi, mengatakan, Ery orangnya masih muda, wajahnya millenial pula.

"Insyaallah larinya akan gesit dalam membangun Kota Surabaya seperti seniornya Bu Risma," katanya di sela kegiatan yang dilakukan Jamaah Pengajian "Ngaji Sugih" Pesantren Mukmin Mandiri dan Komunitas Pesantren Kreatif Jatim, di Pesantren Mukmin Mandiri di Waru, Sidoarjo, Minggu (7/7/2019).

Pengasuh Pesantren Mukmin Mandiri ini mengatakan, dukungan diberikan kepada Kepala Bappeko Kota Surabaya, Ery Cahyadi ini bukanlah tiba-tiba karena dia selama ini merupakan orang di belakang layar atas kesuksesan Bu Risma membangun Kota Surabaya.

"Jadi saat ini sudah bukan waktunya lagi sembunyi menyimpan jurus pembangunan. Sudah saatnya menjadi panglima terdepan dalam pembangunan Kota Surabaya yang makin dan lebih baik lagi," katanya.

Ia menilai, sosok Ery yang masih muda diharapkan semakin lincah dalam mewujudkan pembangunan yang lebih baik di Kota Pahlawan.

"Jika Bu Risma bisa 24 jam melayani warganya, Ery yang lebih muda harus bisa lebih dari itu," katanya.

Menanggapi dukungan tersebut, Ery Cahyadi menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh Jamaah Ngaji Sugih Pesantren Mukmin Mandiri dan Komunitas Pesantren Kreatif.

"Saya akan tetap seperti biasanya, yakni merencanakan pembangunan Kota Surabaya yang lebih baik," katanya.

Dalam mengentaskan pengangguran di kalangan muda di Surabaya, kata dia, saat ini pihaknya tengah mewujudkan program kerja sama dengan banyak hotel, apartemen dan penginapan di Kota Surabaya dengan memanfaatkan hasil produk-produk UKM anak muda Surabaya.

"Alhamdulillah, hasilnya sudah banyak dirasakan anak-anak muda. Dengan demikian pengangguran akan terus berkurang," katanya.

Ery menegaskan, akan menjaga dengan baik dukungan yang disampaikan oleh Komunitas Pesantren Kreatif dengan meningkatkan kualitas pembangunan yang lebih baik di Kota Surabaya.

"Kami akan merencanakan sejumlah program yang lebih baik lagi dalam perencanaan pembangunan di Kota Surabaya," katanya.

Selain Ery Cahyadi, nama M. Machmud juga disebut-sebut sebagai kandidat Direktur Eksekutif Surabaya Consulting Group (SCG) Didik Prasetiyono menilai anggota DPRD Kota Surabaya tiga periode, M. Machmud, mempunyai modal elektoral berupa perolehan suara yang tinggi di Pileg 2019 atau mencapai 19.000 suara untuk maju di Pilkada Surabaya 2020.

"Caleg terpilih dengan suara terbanyak merupakan potensi bagi partai-partai untuk menjadi modal awal pemenangan kontetasi pilkada karena mereka berpengalaman dalam penguasan elektoral wilayah," kata Didik Prasetiyono di Surabaya, Kamis (4/7/2019).

Didik berpendapat, semua partai yang memperoleh kursi di DPRD Surabaya berpotensi untuk mencalonkan pasangan calon berkoalisi dengan partai lainnya.

Koalisi dapat dibentuk dengan partai atau gabungan partai yang memiliki kursi 20% atau setara 10 kursi, dan juga bisa dibentuk oleh partai atau gabungan partai yang memiliki suara 25% atau setara 366.719 suara.

Dalam konteks Partai Demokrat Surabaya, lanjut dia, yang memperoleh 4 kursi DPRD Surabaya dengan total suara partai sebanyak 78.263, maka dibutuhkan bergabung dengan partai lain untuk memenuhi syarat pencalonan.

AYO BACA : Inilah Tahapan Pilwalkot Surabaya 2020

Didik mengatakan koalisi masih sangat terbuka mengingat semua partai di Kota Surabaya tidak mencukupi untuk mencalonkan diri tanpa bergabung dengan partai lainnya.

Hanya PDI Perjuangan Surabaya yang tidak memerlukan koalisi untuk memenuhi syarat pencalonan karena memperoleh 15 kursi di Pemilu 2019.

"Yang menarik adalah perolehan caleg terpilih M. Machmud, memperoleh suara termasuk yang banyak, yaitu 19.000 suara. Ini dapat menjadi modal elektoral dalam pemilihan kepala daerah," katanya.

Ia menilai Pilwalkot Surabaya akan menarik melihat perkembangan nama-nama yang muncul dan telah mendeklarasikan diri untuk maju, semua partai tentunya akan melihat elektabilitas kandidat dengan survei awal menjadi pertimbangan penentuan calon.

"Semua partai tentu ingin menang dan pertarungan kecermatan dalam memilih calon yang dicalonkan akan menjadi kunci kemenangan dalam Pilkada Surabaya," ujarnya.

Sejauh ini, kata dia, SCG melihat belum ada calon yang mempunyai keteguhan elektabilitas seperti yang dimiliki Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan justru ini menjadi sangat terbuka bagi semua calon untuk ikut meramaikan Pilkada Surabaya.

Pada hari yang sama, seorang pengacara M. Sholeh mendeklarasikan diri sebagai Calon Wali Kota Surabaya jalur independen.

"Kami sejak awal ingin melibatkan masyarakat dengan adanya dukungan KTP ini. Jalur independen ini punya sisi positif karena bisa mendekatkan dengan masyarakat," kata M. Sholeh di acara deklarasi Cawali Surabaya Independen di salah satu kafe di Surabaya, Kamis (4/7/2019).

Acara deklarasi tersebut dihadiri sejumlah elemen masyarakat mulai dari advokat, para guru honorer, seniman, budayawan, lembaga swadaya masyarakat, pegiat sosial dan warga Surabaya. Mereka satu persatu memberikan testimoni terkait dukungan terhadap M. Sholeh.

Menurut dia, dengan memilih jalur cawali independen tersebut, bukan berarti dirinya anti terhadap partai, melainkan mengingatkan kepada publik bahwa ada pengalaman Pilkada Surabaya 2015, di mana banyak partai tapi tidak mengajukan calon.

Akibatnya pasangan Cawali-Cawawali Surabaya, Tri Rismaharini dan Whisnu Sakti Buana yang diusung PDI Perjuangan menjadi calon tunggal. Baru setelah dibuka pendaftaran lagi, Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional yang awalnya tidak mengajukan calon, akhirnya mengusung Rasio-Lucy.

Selain itu, lanjut dia, maju melalui jalur partai tidak semudah yang dibayangkan karena transaksinya agak rumit dan agak susah diikuti. Ia mengingatkan siapapun calon yang mau pencitraan lewat partai agar tidak kecewa kalau nantinya tidak dapat rekomendasi partai.

"Saya tidak ngomong ada uang, lebih baik independen karena lebih mudah, yang penting KTP terpenuhi," katanya.

Sholeh mencontohkan, jika dirinya maju melalui Partai Gerindra yang mendapat 5 kursi di DPRD Surabaya, tentunya tidak bisa karena syarat maju Pilkada harus 10 kursi, sehingga harus koalisi dengan partai lain agar mendapatkan 5 kursi lagi.

"Untuk mendapatkan 5 kursi lagi, misalnya mengandeng PSI (Partai Solidaritas Indonesia) yang memiliki 4 kursi. Ketika saya sudah menggandeng PSI, ternyata kurang 1 kursi. Bayangkan jika 1 kursi itu adalah PPP. Tentunya PPP akan bisa naik daun. Jadi kalau tidak siap sekian, ya, tidak jadi. Itu fakta, saya tidak ngomong soal uang. Saya juga tidak antipati terhadap partai," katanya.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya berharap agar jangan sampai pesta demokrasi lima tahunan itu dibuat permainan partai politik. "Maka independen ini paling pas sebagai kendaraan antara calon dengan masyarakat. Ini tidak bisa dibuat mainan lagi," katanya.

Ia sendiri menikmati jalur independen ini. Dengan independen, calon jadi tidak perlu takut kalau tidak punya wakil di DPRD Surabaya sehingga akan terjadi impeachment atau pemakzulan. "Bu Risma diusung PDIP, tapi faktanya di-impecement PDIP. Bagi saya, Bu Risma tidak punya partai, tapi nyatanya menikmati sampai sekarang. Prinsipnya itu, pemimpin punya kebijakan yang bagus," katanya.

Saat ditanya program apa saja yang akan dibawa saat pencalonan, Sholeh mengatakan saat ini pihaknya tidak bicara soal program dulu karena saat ini masih proses bagaimana memgumpulkan KTP.

"Saya ingin mengatakan warga kita ajarkan memilih pemimin harus dilihat latar belakangnya, jelas tidak, maling atau tidak. Kalau ngomong program, koruptor pun kalau mencalonkan diri pasti programnya bagus, tapi rekam jejaknya jauh lebih utama. Kalau rekam jejaknya bagus memimpinnya juga bagus. Kalau rekam jejaknya tidak jelas, tidak salah kalau nanti ditangkatp KPK," katanya.

Untuk mendukung pencalonannya itu, M. Sholeh menargetkan 135.000 kartu tanda penduduk sebagai salah satu persyaratan.

AYO BACA : Vinsensius Awey, Kandidat Calon Wali Kota dari Nasdem

"Targetnya 135 ribu terpenuhi, dalam waktu empat bulan. Prediksinya pembukaan pendaftaran cawali jalur independen Januari 2020. Setelah deklarasi ini langsung gas pol, mulai bekerja mengumpulkan KTP," kata M. Sholeh.

Menurut dia, pihaknya sudah punya sejumlah perangkat yang nanti akan memperlancar proses pengumpulan KTP. Perangkat tersebut diantara para pendukung yang terdiri dari advokat, para guru honorer, seniman, budayawan, lembaga swadaya masyarakat, pegiat sosial dan warga Surabaya.

"Nanti ada teman-teman yang dulu saya bantu akan membantu proses pengumpulan KTP," kata Sholeh.

Selain itu, lanjut dia, dalam pengumpulan KTP, pihaknya akan membuka tenan atau posko di sejumlah tempat umum. Melalui posko tersebut, ia akan mengajak warga Surabaya memberikan dukungan terhadap dirinya yang maju sebagai Cawali Surabaya independen.

"Kita juga akan posko di masing-masing kelurahan di Surabaya," katanya.

Ketua Panitia Deklarasi Cawali Surabaya Independen, Kusnan mengatakan dukungan terhadap Sholeh terus mengalir dari sejumlah elemen di Surabaya. Bahkan, lanjut dia, para aktivis 1998 juga siap memberikan dukungan kepada Sholeh.

"Kami menilai Sholeh sebagai sosok yang berani dan jujur. Bahkan Sholeh sering memberikan bantuan hukum kepada warga Surabaya yang kesusahan," katanya.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam menilai usaha memasangkan tokoh yang berasal dari kekuatan ormas Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk maju dalam Pilkada Surabaya 2020 jalannya tidak mudah, terjal, dan penuh tantangan.

"Kelihatannya tampak indah dan prospektif, tetapi sesungguhnya jalannya tidak mudah, terjal dan penuh tantangan," kata Surokim, Kamis (4/7/2019).

Menurut dia, Kota Surabaya merupakan kota metropolitan yang kompleks, dinamis, dan heterogen. Pertumbuhan pemilih rasional juga kian signifikan.

Namun, lanjut dia, dalam pilkada, figur amat menentukan dan memberi sumbangsih porsi yang paling banyak. Jika figurnya belum banyak beredar dan memiliki portofolio publik tentu lebih berat dan jalannya lebih terjal. Belum lagi meyakinkan kepada partai pengusung

"Sesungguhnya menurut saya Surabaya ini butuh calon-calon yang tidak biasa-biasa saja butuh calon calon dengan kemampuan daya kejut yang wow," ujar Peneliti Surabaya Survey Center (SSC) ini.

Apalagi, lanjut dia, jika melihat hasil Pemilu Legislatif 2019, maka mengandalkan basis kekuatan basis tradisional saja rasanya tidak cukup.

Memang sejauh ini, lanjut dia, jika melihat perolehan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk tolok ukur kekuatan pemilih strong voters (solid) Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya relatif stagnan dan masih kalah jauh dengan kalangan nasionalis seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Begitu juga Partai Amanat Nasional (PAN) sebegai kekuatan pemilih strong voters Muhammadiyah

juga hasilnya juga belum memuaskan. "Itu pun calon-calon belum tentu mendapat respons dari struktural PKB dan PAN," ujarnya.

Jika memang serius, kata dia, maka upaya yang harus dilakukan adalah terlebih dulu meyakinkan PKB dan PAN di Surabaya. Jika itu sudah bisa didapat, maka selanjutnya bagaimana menciptakan efek kejut tadi.

"Usaha untuk memasangkan kekuatan NU dan Muhammadiyah sekali lagi tidak mudah untuk memenangkan kontes di Surabaya," katanya.

Untuk itu, kata dia, butuh calon-calon petarung yang punya daya kejut luar biasa untuk bisa bersaing dengan calon-calon yang sudah ada. Memasangkan figur dari ormas NU dan Muhammadiyah kelihatannya gemerlap tapi sesungguhnya jalannya terjal jika berasal dari generasi x.

Saat ditanya bagaimana dengan figur Ketua PCNU Surabaya Muhibbin Zuhri dan Ketua PD Muhammadiyah Mahsun Jayadi, ia menyarankan agar NU dan Muhammadiyah lebih baik mengambil tokoh muda berkualitas nasional.

"Menurut saya tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau-beliau rasanya untuk menghadirkan daya kejut itu agak berat. Kandidat di usia beliau relatif sudah banyak yang berlari kencang," katanya.

AYO BACA : Whisnu Minta Warga Surabaya Tetap Solid

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar