Obesitas Bayang-bayangi Era Revolusi Industri 4.0 di Indonesia

  Selasa, 09 Juli 2019   Rahim Asyik
Obesitas dan penyakit degeneratif lainnya bayang-bayangi era Revolusi Industri 4.0 di Indonesia. (Pixabay)***

Penyakit degeneratif seperti obesitas, hipertensi, ginjal, dan kencing manis bayang-bayangi era Revolusi Industri 4.0 di Indonesia.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- Dunia kesehatan Indonesia masih dibayangi berbagai permasalahan besar di era Revolusi Industri 4.0.

Data riset kesehatan 2018 menunjukkan buruknya indikator berbagai penyakit degeneratif seperti obesitas, hipertensi, penyakit ginjal kronis, dan kencing manis.

"Tidak kurang dari 21,8% proporsi penduduk Indonesia mengalami obesitas, prevalensi kencing manis mencapai 2%, serta jumlah penderita penyakit ginjal kronik yang mencapai 3.8 per mil pada populasi di atas usia 15 tahun," kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Budi Wiweko kepada Antara, Senin (8/7/2019).

Akademisi yang akrab disapa Prof Iko ini mengatakan angka ini tergolong tinggi bila dibandingkan dengan prevalensi di negara tetangga atau pun negara maju di dunia.

AYO BACA : Gula dan Karbohidrat Buruk Buat Otak dan Mental

Iko juga menyayangkan kebiasaan merokok yang semakin meningkat dan berkontribusi negatif terhadap masyarakat.

Di sisi lain, penyakit infeksi tuberkulosis dan demam berdarah masih menjadi momok menakutkan dengan angka kematian yang sangat tinggi.

"Kita merupakan negara peringkat kedua untuk prevalensi tuberkulosis tertinggi di dunia setelah India," tutur Iko.

Meski demikian, Iko memuji peningkatan angka harapan hidup serta keberhasilan program keluarga berencana yang membawa kita pada bonus demografi di tahun 2030.

"Namun, sekitar 15% populasi Indonesia atau sekitar 45 juta penduduk pada tahun 2030 merupakan kelompok usia lanjut, yang memerlukan antisipasi yang baik dalam pengelolaannya," tambahnya.

AYO BACA : Makanan yang Aman dan Bergizi Adalah Kunci

Dia mengatakan para pengambil kebijakan dan profesional kesehatan negeri ini harus sensitif, untuk mampu mengadopsi dan beradaptasi dengan cepat sehingga bisa menghasilkan inovasi disrupsi dalam memecahkan berbagai permasalahan besar di atas.

Iko atau Budi Wiweko adalah salah seorang guru besar tetap (profesor) termuda di bidang kedokteran. Dia dilantik pada usia 46 tahun 10 bulan.

Iko mengajar di Departemen Obstetri Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Dr. Cipto Mangunkusumo. Saat ini, Iko menjadi wakil direktur Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI-FKUI), sebuah institut riset dan inovasi di bawah naungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Konsistensinya sebagai pendidik telah diakui secara nasional, dengan dinobatkannya Iko sebagai pemenang pertama Dosen Berprestasi Nasional pada tahun 2015.

Ketertarikannya di bidang inovasi pengembangan kualitas perguruan tinggi juga menyebabkan Iko terlibat pada berbagai kegiatan lintas keilmuan antaruniversitas di dalam maupun luar negeri.

Kini, pria yang gemar berdiskusi ini kini sedang memfokuskan diri untuk memberikan kontribusi terhadap bangsa melalui kiprahnya sebagai insan pendidik, membangun bangsa lewat kedokteran reproduksi dan perguruan tinggi, di era yang penuh tantangan, yakni era disrupsi.

AYO BACA : Inilah Makanan yang Harus Dikonsumsi Saat Menstruasi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar