Setiap Pemimpin Harus Paham Potensi Bencana di Wilayahnya

  Jumat, 12 Juli 2019   Rahim Asyik
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (kiri) menerima Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (11/7/2019) malam. Kedatangan Kepala BNPB itu terkait pelepasan tim ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) yang dimulai dari Banyuwangi, Jawa Timur pada Jumat 12 Juli 2019. (Didik Suhartono/Antara Foto)***

Kepala BNPB Doni Monardo berharap setiap pemimpin mengetahui potensi bencana yang ada di wilayahnya. Dengan pengetahuan itu mereka bisa menyusun strategi dan menyiapkan antisipasinya manakala terjadi bencana.

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM-- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo mengatakan bahwa setiap pemimpin daerah harus memahami potensi bencana di wilayahnya serta melakukan upaya-upaya untuk mencegah dan mengantisipasi kemungkinan dampaknya.

"Bupati/wali kota, camat, sampai kepala desa harus mengetahui apa potensi ancaman bencana di daerah masing-masing," katanya usai bertemu dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi di Surabaya, Kamis (11/7/2019) malam.

Mengetahui dan memahami potensi dan ancaman bencana, menurut Doni, merupakan bagian dari kesiapan mencegah dan mengantisipasi dampak bencana.

AYO BACA : KPK Geledah Rumah yang Diduga Milik Komisaris Bank Jatim

Setelah mengetahui dan memahami potensi bencana di wilayahnya, ia melanjutkan, pemimpin daerah harus menyiapkan strategi pencegahan dan penanggulangan dengan tujuan meminimalkan jumlah korban dan kerugian akibat bencana.

"Pelayanan publik yang terbaik adalah bagaimana negara hadir memberikan perlindungan kepada masyarakat dan menyelamatkan jiwa manusia," katanya.

Dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan dalam mencegah dan menghadapi bencana, BNPB mengadakan Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami dengan menyusuri desa-desa rawan tsunami di pesisir selatan Jawa, mulai dari Banyuwangi hingga Serang.

AYO BACA : 8 Kontainer Sampah dari Brisbane, Australia, Masuk Surabaya

"Ekspedisi ini adalah tindak lanjut dari informasi-informasi tim intelijen kebencanaan yang terdiri atas para pakar di bidang kebencanaan," kata Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kurniawan di Graha BNPB di Jakarta, Rabu (10/7/2019).

Lilik mengatakan ekspedisi merupakan bagian dari program kesiapsiagaan atau pencegahan yang akan dimulai pada Jumat (12/7/2019) di Banyuwangi dengan dibuka oleh Kepala BNPB Doni Monardo.

Pesertanya adalah forum pentahelix yang digagas kepala BNPB, yaitu kementerian, lembaga, pemerintah daerah, relawan, dan lembaga swadaya masyarakat, lembaga usaha, perguruan tinggi dan akademisi, serta media.

"Ekspedisi ini akan mengecek kesiapsiagaan desa-desa di selatan Jawa dalam menghadapi tsunami, seperti apakah sudah ada sirine, jalur evakuasi, rambu-rambu petunjuk evakuasi, dan tempat evakuasi," tutur dia.

Selain itu, kata dia, peserta ekspedisi yang direncanakan 200 orang juga akan melakukan edukasi dan sosialisasi tentang kesiapsiagaan tsunami kepada masyarakat, khususnya di sekolah-sekolah.

Lilik mengatakan 5.744 desa yang ada di seluruh Indonesia rawan terhadap tsunami. Di selatan Jawa terdapat 584 desa yang tergolong rawan tsunami.

"Karena itu, wilayah selatan Jawa penting untuk memiliki kesiapsiagaan terhadap tsunami karena penduduknya cukup banyak dan menjadi tujuan pariwisata. Bila terjadi tsunami, korbannya akan sangat banyak bila masyarakatnya tidak tangguh," kata Lilik.

AYO BACA : Inilah Daftar Nama Jalan Baru di Kota Surabaya. Ingat-ingat Ya!

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar