Menengok Sisa-sisa Kejayaan Batu Akik di Pasar Rawa Bening

  Jumat, 12 Juli 2019   Rahim Asyik
Seorang perajin batu akik di Sukaharja, Karawang, Jawa Barat, Selasa (18/6/2019). Di tengah meredupnya pamor batu akik, masih tertinggal orang yang masih setia menggeluti bisnis ini. (M Ibnu Chazar/Antara Foto)***

Di tengah meredupnya popularitas dan pamor batu akik, para pedagang dan perajin batu akik di Pasar Rawa Bening, Jakarta, masih setia menjaga tradisi kontes batu akik. Siapa tahu bisa kembali ke era kejayaannya.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- "Sring... sring...," suara besi beradu benda keras sesekali terdengar di sudut Pasar Rawa Bening, Jakarta. Tepatnya di pasar batu mulia dan akik yang sempat fenomenal beberapa tahun silam.

Selain pedagang, di pasar itu juga berkumpul para perajin akik yang menawarkan aneka jasa. Mulai dari sekadar poles hingga bikin akik mulai dari nol, alias bahan mentah.

Mereka menempati satu ruangan di pojok. Tak luas memang, tapi tak juga terlalu sempit. Buktinya, orang-orang masih bisa berjalan di sela-sela mereka bekerja.

Setiap hari, mereka bergelut dengan mesin gerinda untuk mengasah batu akik. Dari batu mentah berbentuk bongkahan pun bisa mereka sulap jadi batu akik nan cantik.

Adalah Pambudi, pria asal Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, satu di antara 30 perajin akik yang ada di Pasar Rawa Bening, Kecamatan Rawa Bunga, Jakarta Timur.

Tangannya cekatan mengoperasikan mesin gerinda yang sudah dimodifikasi jadi alat asah batu akik. Sesekali, batunya dicelup ke air, diamati, kemudian diasah lagi.

"Nggarap beginian harus sabar biar presisi. Ini dikasih air biar enggak pecah (batunya) karena diasah kan panas," ujar bapak tiga anak itu.

Tidak terasa, sudah delapan tahun pria berkaca mata itu menjadi perajin batu akik. Masa kejayaan batu akik pun sempat dialaminya pada kisaran 2010 hingga 2015.

Dulu, hampir tiap hari Pambudi kewalahan menerima order. Bahkan, ruang kecil tempat para perajin akik bekerja sampai penuh tak mampu menampung pelanggan.

Berbeda dengan sekarang, dapat satu garapan setiap hari sudah harus disyukurinya meski terkadang hanya cukup buat makan, daripada tidak dapat order sama sekali.

"Dulu sehari saya bisa dapat Rp500-700.000. Sekarang sehari dapat Rp100.000 saja sudah untung," katanya, seraya bersyukur belum pernah seharian tak dapat garapan.

Merindukan Kembalinya Era Kejayaan Batu Akik

AYO BACA : Trik Penata Rias Bubah Alfian: Pelajari Zodiak untuk Pahami Karakter Klien

Pambudi tak sendiri. Masih ada puluhan perajin akik lainnya yang bernasib sama. Mereka merindukan masa kejayaan batu akik terulang kembali.

Namun batu akik bukanlah kebutuhan primer laiknya pakaian, makan, dan tempat tinggal. Bukan pula kebutuhan sekunder yang bisa dipenuhi setelah kebutuhan primer tercukupi.

Batu akik, seperti halnya perhiasan yang sering digolongkan sebagai kebutuhan tersier alias mewah. Itulah kenapa tren akik cepat sekali berubah bak gaya hidup.

Koordinator Pimpinan Kolektif Asosiasi Puspa Cakra, Junaedi menuturkan bahwa kebutuhan tersier tidak mungkin terpenuhi jika kebutuhan dasar manusia saja belum tercukupi seiring lemahnya daya beli masyarakat.

Untuk mengembalikan kejayaan batu akik, daya beli masyarakat harus ditingkatkan karena orang tidak akan beli perhiasan jika kebutuhan dasarnya saja tidak terpenuhi.

Jumlah pedagang batu di Pasar Rawa Bening pun menyusut sekitar 30%. Dari zaman booming sampai 900-1.000 pedagang, sekarang tinggal 700-750-an pedagang. Itu sudah termasuk perajin yang membuka jasa gosok batu akik.

"Persoalannya, sekarang ini daya beli masyarakat lemah. Istilahnya, kalau orang cari makan aja susah, masak mau beli perhiasan?" kata sosok kalem dan supel itu.

Namun, karena kesenangan, soal harga pun tak ada patokan pasti. Batu akik mulai harga ribuan hingga ratusan juta rupiah bisa ditemui di pasar yang diresmikan pada 2010 itu.

Jenisnya beragam, sebut saja batu giok dari Aceh, batu pandan khas Jakarta, batu marjan dari Sumatera Selatan, batu bacan dari Maluku, hingga Papua dengan batu cyclop-nya.

Berbeda dengan batu mulia yang harganya dihitung per karat dan kekerasannya harus di kisaran skala 7-10 Mohs, batu akik tidak demikian. Semakin susah dan banyak orang mencari, semakin mahal pula harganya.

AYO BACA : Budaya Pop Jepang yang Digemari dan Lekat di Hati

Karakteristik batu akik dari masing-masing daerah pun berbeda. Cyclop dari Papua yang bening cerah berwarna-warni kontras dengan batu pancawarna dari Jawa Barat yang coraknya beragam.

Pernah suatu ketika batu bacan meroket harganya, sekali waktu bisa disalip popularitasnya oleh batu Cendana Indah Bengkulu Indonesia (CIBI) khas Bengkulu, begitu seterusnya.

Di Tengah Meredupnya Pamor Batu Akik, Tradisi Kontes Masih Dijaga

Ketika masih booming, hampir tiap waktu selalu ada kontes atau lomba batu akik di setiap daerah. Tak terkecuali, di Pasar Rawa Bening Jakarta.

Bahkan, saat tren batu akik mulai meredup di akhir 2015, Pasar Rawa Bening masih meneruskan tradisi kontes hingga tiga tahun sesudahnya dan kabarnya berlangsung sukses.

Pameran dan Kompetisi Gemstone di Pasar Rawa Bening pada 2016, sukses menggaet peserta dari luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

"Pada 2017 masih kami adakan kontes batu, ramai juga," kata Kepala Pasar Rawa Bening Jakarta Dede Waskita, sembari memamerkan poster kontes akik 2016 yang masih tersimpan.

Dede baru menjabat kepala Pasar Rawa Bening, ketika meredupnya tren batu akik, namun tradisi kontes batu digelarnya hingga 2018, kecuali tahun ini yang memilih absen karena tahun politik.

Tahun depan, pengelola Pasar Rawa Bening berencana menggelar lagi kontes batu akik. Siapa tahu, mampu membuat tren akik kembali berkilau.

Di mata pehobi, seperti Cut Putri Alyanur, batu akik lebih dari sekadar soal kesenangan, tetapi kebanggaan terhadap kekayaan bumi pertiwi karena Indonesia adalah surganya batu akik.

Hampir semua batu akik khas setiap daerah di Indonesia dikoleksinya. Stigma hobi batu akik yang selama ini melekat pada kaum Adam berhasil ditepis perempuan asal Tanah Rencong itu.

Ditemui di sela menunggui pesanan batu pirus miliknya, perempuan berhijab itu berharap pemerintah berperan aktif menggeliatkan kembali tren batu akik karena menghidupi banyak orang, termasuk perajin akik.

Promosi, utamanya harus digencarkan. Pada setiap pertemuan berskala internasional, batu akik khas berbagai daerah di Indonesia bisa dikenalkan kepada para delegasi.

"Pak Jokowi kalau ke pertemuan-pertemuan tingkat dunia bisa kasih batu sebagai hadiah. Batu dari mana dulu, nanti giliran daerah mana lagi," kata Kepala Anjungan Aceh di TMII itu.

AYO BACA : Indonesia Masuk Peringkat Ketiga Negara Tujuan Turis Tajir China

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar