Remy Sylado, Gus Mus, dan Mata ke Ranjang

  Jumat, 12 Juli 2019   Rahim Asyik
Remy Sylado di depan lukisannya yang berjudul "Harajuku" pada pembukaan pameran bertajuk "Pameran Karya Seni Maestro Remy Sylado". Pameran yang berkaitan dengan ulang tahun ke-74 Remy ini digelar di Balai Budaja, Jakarta, Kamis (11/7/2019). Pameran yang diresmikan KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus ini akan berlangsung hingga 19 Juli 2019. (Dodo Karundeng/Antara Foto)***

Remy Sylado adalah sosok serbabisa. Berkaitan dengan ulang tahunnya yang ke-74 digelarlah pameran karya-karyanya di Balai Budaja, Jakarta, pada 11-19 Juli 2019.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- Untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-74, begawan sastra serbabisa, Remy Sylado menggelar pameran sejumlah karya seninya di Balai Budaja, Jakarta sejak 11 sampai 19 Juli 2019.

Tak hanya karya lukisnya yang ditampilkan. Pameran yang dibuka Kamis (11/7/2019) itu juga menampilkan sejumlah bibliografi hingga diskografi Remy.

Remy memang dikenal sebagai sosok serbabisa. Lahir dengan nama Yapi Panda Abdiel Tambayong, Remy memulai karier sebagai wartawan di Semarang. Pada 1965 kemudian menjadi redaktur majalah Aktuil di Bandung.

Di Bandung dia juga menapaki karier sebagai dosen Akademi Sinematografi Bandung sejak 1971 dan ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung.

AYO BACA : Inilah Saatnya Berwisata dengan Kepala Penuh Narasi

Remy aktif menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, dan roman populer. Juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi.

KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus menyebut kalau Remy Sylado adalah sosok langka. Dia segala bisa. Mulai dari menulis, melukis hingga mengaransemen musik.

“Beliau ini maestro, mahkluk langka yang mungkin stoknya sudah habis,” kata Gus Mus yang hadir untuk meresmikan pameran ini dan membacakan puisi serta doa untuk Remy.

Gus Mus mengaku merasa banyak utang rasa pada Remy. Dari Remy misalnya, dia tahu arti frasa mata keranjang. “Saya selalu pikir bagaimana itu mata keranjang. Beliau jelaskan itu maksudnya mata ke ranjang. Enggak banyak yang tahu itu,” kata Gus Mus yang disambut tawa oleh para pengunjung.

Gus Mus mengenal Remy kala Remy menahkodai majalah Aktuil. Gus Mus pun rajin mengirim puisi mbeling yang juga dipimpin oleh Remy. Uniknya, Remy tak pernah tahu kalau puisi mbeling yang diterbitkan oleh Remy adalah buatan Gus Mus.

AYO BACA : Indonesia Masuk Peringkat Ketiga Negara Tujuan Wisata Turis Tajir China

“Karena saya pakai nama alias. (Remy) baru tahu sampai ada sebuah acara di Semarang kemarin,” ucap dia.

Kepala Balai Budaja Syahnagra Ismail menyebut Remy memang layak disebut maestro. Dia tidak hanya menghasilkan karya seni tapi juga hidup bersama seni.

“Dia selalu hadir di setiap acara seniman. Dia mendobrak kotak-kotak seni yang ada di negeri kita. Dia mendapat penghargaan dari luar negeri. Inilah yang mendasari kami membuat pameran ini,” ucap Ismail.

Menurut Ismail, Remy juga konsisten di jalan seni. Dalam melukis misalnya, dia sudah melakukannya sejak SE dan tetap melukis sampai hari ini.

“Ini saya kira yang kita dan seluruh teman muda untuk berkaca pada tokoh. Karena tanpa menghargai pemimpin akan sulit ke depan,” ucap dia seraya menuturkan ke depan Balai Budaja akan menjadikan pameran maestro sebagai agenda tahunan.

AYO BACA : Indonesia Akan Deklarasikan Kawasan Samota Jadi Cagar Biosfer

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar