Memaknai Pertemuan Joko Widodo-Prabowo Subianto

  Senin, 15 Juli 2019   Rahim Asyik
Calon Presiden dan WakilJoko Widodo dan Ma'ruf Amin memberi keterangan pers terkait putusan Mahkamah Konstitusi tentang perselisihan hasil Pilpres 2019 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (27/6/2019). Jokowi mengajak seluruh rakyat Indonesia bersatu kembali untuk membangun dan memajukan Indonesia. (Wahyu Putro A/Antara Foto)***

Makna apa yang bisa diambil dari pertemuan antara Joko Widodo dengan Prabowo Subianto? Yang jelas rekonsiliasi yang diharapkan bisa berlanjut ke level akar rumput. Banyak tantangan menanti yang hanya bisa diselesaikan kalau anak bangsa ini bersatu bahu-membahu membangun bangsa.

KERETA api Moda Raya Transportasi alias MRT Jakarta pada Sabtu, 13 Juli 2019, menjadi saksi bisu bagi terselenggaranya pertemuan bersejarah dua tokoh ini yang pernah melakukan persaingan yang amat ketat dalam pemilihan presiden pada tanggal 17 April 2019.

Stasiun MRT di Lebak Bulus menjadi tempat bertemunya kedua tokoh ini, dengan Prabowo yang pertama kalinya tiba dan kemudian disusul oleh Joko Widodo. Pertemuan ini berlangsung pukul 10.05 WIB dan kedua anak bangsa ini sama-sama sepakat untuk mengenakan baju putih. Pada pukul 10.07 Prabowo dan Jokowi sama-sama memasuki MRT dan beberapa menit kemudian MRT meluncur dengan mulusnya.

Begitu bertemu, Prabowo dan Joko Widodo langsung berpelukan dan saling menepuk bahu. Ratusan penumpang MRT langsung bertepuk tangan. Dengan dikawal anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) kedua tokoh ini masuk ke ke gerbong MRT. Kedua tokoh ini kemudian memberikan keterangan kepada para wartawan yang mengikuti perjalanan sekitar 15 menit itu.

Jokowi yang terpilih sebagai presiden untuk masa bakti 2019-204 mengakui pilpres telah berlangsung amat keras dan karena sudah selesai maka bangsa Indonesia sudah harus bersatu kembali. Tidak ada lagi kelompok 01 (pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin) serta 02 yang merupakan pendukung Prabowo-Sandiaga Salahudin Uno. Karena itu, Jokowi minta bangsa Indonesia untuk bersatu alias merapatkan barisan.

Sementara itu, Prabowo mengungkapkan bahwa dia selama ini belum pernah menyampaikan ucapan selamat kepada Joko Widodo karena belum pernah bertemu langsung. Letnan jenderal purnawirawan TNI ini kemudian mengutip ucapan ”ewuh pakewuh” alias sungkan lantaran belum menyampaikan ucapan selamat kepada saingannya itu.

Prabowo menegaskan bahwa dia siap membantu Joko Widodo dan pemerintahannya terutama kalau diminta.

Presiden didampingi antara lain oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung serta Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan. Sementara itu, Prabowo didampingi Sekretaris Jenderal DPP Partai Ahmad Muzani. Kedua tokoh ini kemudian turun di Stasiun Senayan untuk makan siang bersama.

AYO BACA : Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota DKI Jakarta

Bersejarah

Setelah pencoblosan pada 17 April 2019 yang kemudian diikuti pengumuman oleh Komisi Pemilihan Umum bahwa Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai pemenang pilpres, di berbagai daerah di tanah air terjadi tindakan kekerasan alias anarkis. Di Jakarta saja sedikitnya 9 orang meninggal dunia akibat munculnya kerusuhan.

Situasi panas atau amat tegang itulah yang kemudian menimbulkan gagasan atau wacana bahwa kedua calon presiden itu bagaimana pun juga harus bertemu. Dengan berlangsungnya pertemuan Jokowi dengan Prabowo maka para pendukung bisa melihat bahwa di antara para elite telah berlangsung pertemuan rujuk alias rekonsiliasi.

Dengan bertemunya Prabowo dengan Jokowi maka tentu amat diharapkan agar semua pendukungnya yang lazim disebut akar rumput (grass root) juga berbaikan alias melakukan pula rekonsiliasi.

Setelah pertemuan amat bersejarah di MRT ini maka seluruh rakyat Indonesia tentu amat mendambakan bahwa situasi politik di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini akan benar-benar menjadi tenang.

Di masa mendatang, tugas seluruh bangsa Indonesia masih amat berat di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya serta pertahanan keamanan. Jika saat ini jumlah rakyat Indonesia sudah sekitar 265 juta jiwa maka bia dibayangkan beberapa tahun mendatang akan muncul lagi jutaan bayi baru.

Selain itu, pertumbuhan angka ekonomi masih sekitar 5,1% sehingga lebih rendah dari harapan sekitar 5,3% per tahun. Belum lagi ada tantangan di bidang pertumbuhan jumlah penduduk yang masih cukup besar, masih banyaknya jumlah penganggur terbuka atau setengah terbuka. Belum lagi masih terjadi gangguan keamanan berbagai daerah seperti di Provinsi Papua dan Sulawesi Tengah.

AYO BACA : Kemajuan Indonesia dalam Menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca

Pertemuan Jokowi-Prabowo di MRT ini harus menjadi faktor pengingat bagi semua pejabat pemerintah di tingkat pusat dan daerah, para politisi, kemudian para ulama serta rohaniawan bahwa setumpuk tugas berat masih menanti di depan mata bangsa Indonesia sehingga harus terjadi keselarasan di antara semua pihak.

Karena kedua tokoh sentral ini sudah bersua, maka para pendukung atau pengikutnya juga harus melakukan pertemuan-pertemuan serupa sehingga semua persoalan alias keruwetan bakal sama-sama dipecahkan.

Joko Widodo dan Ma’ruf Amin tentulah harus menyiapkan para calon menterinya dan juga pimpinan lembaga kementerian nonpemerintah seperti BPPT, LIPI, serta Bakosurtanal, dan lain sebagainya. Walaupun pelantikan pesiden dan wakil presiden baru akan berlangsung 20 Oktober 2019, tentu calon anggota kabinet harus sudah mulai disiapkan dan dipilih.

Joko Widodo sendiri sudah mengatakan bahwa perbandingan atau komposisi antara anggota partai politik dengan kaum profesional yang bisa masuk kabinet bisa mencapai 60:40 ataupun 50:50. Ia sudah mulai menyeleksi para pembantunya.

Karena Joko Widodo sudah bertemu dengan lawan politiknya yang juga disebut sebagai sahabatnya maka rakyat tentu boleh bertanya apakah mungkin ada orang-orang kepercayaan Prabowo yang bisa masuk ke dalam pemerintahan lima tahun mendatang. Mereka bisa masuk ke dalam berbagai posisi seperti staf ahli, komisaris badan usaha milik negara, dan berbagai posisi lainnya.

Pertemuan di MRT ini tentu bisa benar-benar bisa diharapkan menjadi faktor perekat bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk bergandengan tangan membangun bangsa ini. Apalagi Republik Indonesia harus bersaing dengan begitu banyak bangsa lainnya yang sudah lebih maju.

 

ARNAZ FERIAL FIRMAN

Wartawan LKBN ANTARA tahun 1982-2018

Pernah meliput acara-acara kepresidenan tahun 1987-2009

AYO BACA : Menengok Sisa-sisa Kejayaan Batu Akik di Pasar Rawa Bening

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar