Situs Candi Adan-Adan Bisa Jadi Wisata Museum Kebencanaan

  Rabu, 17 Juli 2019   Rahim Asyik
Arkeolog Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memasukkan potongan kepala arca Bodhisatwa yang baru saja ditemukan ke dalam kotak kaca di Museum Bhagawanta Bari, Kediri, Jawa Timur, Rabu (17/7/2019). Arca dan sejumlah potongan batu berukir khas peninggalan Kerajaan Kediri tersebut merupakan hasil ekskavasi tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di candi belum jadi (unfinished) situs Adan-Adan Kediri. (Prasetia Fauzani/Antara Foto)***

Keberadaan situs Candi Adan-Adan yang belum bisa dijadikan tempat mengedukasi bencana mengingat situs ini berulang kali jadi korban letusan Gunung Kelud.

KEDIRI, AYOSURABAYA.COM-- Situs Candi Adan-Adan bisa dimanfaatkan untuk wahana wisata museum kebencanaan. Di tempat itu bisa diajarkan bagaimana menghadapi dan mempersiapkan diri terhadap bencana yang ada.

Diketahui, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) menemukan tinggalan berupa potongan batu berukir dan kepala arca Bodhisatwa khas peninggalan Kerajaan Kediri di situs candi yang belum jadi (unfinished) itu. Temuan itu kemudian disimpan di Museum Bhagawanta Bari, Kediri.

Disebut belum jadi mungkin karena pembangunannya terhenti beberapa kali terganggu oleh letusan Gunung Kelud.

AYO BACA : Objek Wisata Malang Harus Punya Merek Sendiri

Menurut Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan Jawa Timur Andi M. Said, masyarakat Kediri bermukim di wilayah rawan bencana Gunung Kelud.

“Sehingga adanya Candi Adan-Adan ini menjadi pembelajaran tentang mitigasi bencana letusan Gunung Kelud. Bahwa candi yang besar ini, di mana denah luasan candi induknya saja dipastikan berukuran 28 x 28 meter, belum dinding luarnya berjarak 100 meter, yang sudah pasti dibuat dengan pemikiran dan persiapan mendalam, nyatanya bisa terkubur dalam tanah setinggi 4 meter,” kata Andi seperti dilaporkan situs ini.

Padahal, kata Andi, yang namanya candi atau bangunan suci, posisinya pasti telah direncanakan di lokasi yang tidak terkena bencana.

AYO BACA : Lebaran Sapi, Tradisi Khas Warga Desa Sruni di Boyolali

”Misal Candi Adan-Adan ini posisinya sudah benar. Mereka paham geologi dengan meletakkan candi berada jauh dari sungai lahar. Tapi kenyataannya telah kita buktikan sendiri,” tutur Andi.

Menurut Andi, lewat situs Candi Adan-Adan orang bisa melihat dan mempelajari pentingnya mitigasi bencana.

“Misal dari lapisan tanahnya seperti dipaparkan arkeolog, bisa diprediksi berapa kali terjadi letusan sangat dahsyat sehingga lapisan tanahnya begitu tebal. Seperti dalam temuan saat penggalian sampai 11 lapisan berbeda tanahnya. Ada yang sampai 40 cm. Berarti bila candi ini dibangun abad 12, artinya baru berusia 9 abad ada 11 letusan luar biasa yang memiliki dampak bencana yang luar biasa hingga mengubur peradaban,” tutur Andi.

Situs semacam itu juga bukan barang baru. Yang terdekat misalnya di Merapi.

”Kalau internasional ya di Pompeii dan Yaman. Museum kebencanaan bisa membuat diferensiasi destinasi wisata. Masyarakat sekitar senang karena mendapat manfaat ekonomi wisata, dan terpenting menjadi lebih cerdas dalam melakukan mitigasi bencana letusan Kelud,” tutur Andi.

AYO BACA : Inilah Saatnya Berwisata dengan Kepala Penuh Narasi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar