Mobil Ramah Lingkungan: Dukungan Pemerintah dan Kecocokannya di Indonesia

  Rabu, 24 Juli 2019   Rahim Asyik
Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai membuka GIIAS 2019 di ICE BSD City Tangerang, Banten, Kamis (18/9/2019). Pameran bertema

Hampir di setiap pameran, mobil ramah lingkungan selalu ikut dipajang. Kenyataannya, angka penjualannya pun mulai tumbuh. Kapan mobil listrik akan booming di Indonesia, bergantung dukungan kebijakan pemerintah.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM—Setidaknya dalam 2 tahun terakhir ini, mobil ramah lingkungan (listrik ataupun hibrida) dengan mudah ditemui di setiap pameran otomotif di Indonesia.

Beberapa pabrikan mungkin memajangnya sebagai pemanis semata. Namun ada juga yang serius memperkenalkan teknologi non-bahan bakar minyak itu untuk mengedukasi pengunjung.

Mobil ramah lingkungan semacam itu juga terlihat dipamerkan di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show 2019 yang digelar di Tangerang, Banten pada 18-28 Juli 2019.

Toyota termasuk yang memajang mobil hibridanya, mulai dari C-HR untuk segmen muda hingga Camry dan Alphard untuk kalangan dewasa. Buat Toyota, mobil hibrida sebetulnya bukan hal baru. Satu dekade lalu, Toyota sudah memasarkan mobil hibrida model Prius.

Pasarnya juga tumbuh. "Pada tahun 2017 rata-rata penjualan mobil hibrida Toyota hanya 14 unit per bulan. Tapi, tahun ini tumbuh pesat," kata Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor, Anton Jimmi Suwandy, Jumat (19/7/2019).

Peningkatan penjualan itu setidaknya menjadi pertanda era mobil terelektrifikasi atau yang lebih ramah lingkungan sudah semakin dekat. Industri otomotif elektrik tinggal menunggu payung hukum dari pemerintah.

Tak mau kalah dengan Toyota, Mitsubishi mulai menjual Outlander PHEV yang dibanderol Rp1,2 miliar dengan target penjualan 5 unit selama pameran GIIAS 2019.

Pabrikan lain, BMW memboyong mobil listrik BMW i3. Mercedes-Benz membawa Mercy E300 EQ Power, dan Renault juga memajang mobil listrik mungil Twizy sebagai pemanis pameran.

Jenama China, Wuling telah memperkenalkan kendaraan listrik E100 pada 2018. Kemudian pada 2019, giliran Dongfeng Sokonindo (DFSK) memamerkan mobil listrik Glory E3.

DFSK bahkan sudah ancang-ancang begitu pemerintah Indonesia memantapkan regulasi terkait kendaraan ramah lingkungan. "Persiapan perlu dilakukan sejak dini mengingat DFSK Glory E3 akan dipasarkan secara global, termasuk di kawasan ASEAN," kata Managing Director Sales Center PT Sokonindo Automobile, Franz Wang.

"Indonesia berpeluang menjadi basis produksi untuk pasar ASEAN mengingat fasilitas produksi di Indonesia sangat memungkinkan dan mendukung," kata Franz.

Pemerintah Menyambut Investasi Otomotif, Termasuk Teknologi Ramah Lingkungan

AYO BACA : Tahun 2025 Indonesia Punya Mobil Listrik Sendiri

Bagaimana dengan pemerintah? Wakil Presiden Jusuf Kalla masih normatif. Dalam sambutannya di GIIAS 2019, Kalla menyampaikan bahwa pemerintah akan mendukung industri otomotif karena memiliki efek luas untuk memajukan ekonomi dari berbagai segmen, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga mendorong pelaku bisnis lain yang berkaitan dengan sektor ini.

"Pemerintah mendukung industri mobil dengan infrastruktur yang berkembang, baik sistem jalan juga logistiknya," kata Kalla.

Yang agak spesifik pernyataan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Menurut Airlangga, dalam 5 tahun ke depan pemerintah akan menyambut investasi baru untuk pengembangan otomotif, tentunya meliputi teknologi mesin ramah lingkungan.

"Saya optimistis dalam waktu 5 tahun yang akan datang, menargetkan akan ada Rp100 triliun investasi baru sektor otomotif," ujar Airlangga.

Pada Juni, Airlangga membeberkan bahwa Toyota bakal menanamkan investasi hingga Rp28,3 triliun untuk empat tahun ke depan. Selain Toyota, pabrikan Korea Selatan Hyundai Motor juga berencana meletakkan modalnya di Indonesia.

Kendati tidak memerinci investasi itu, Airlangga menyatakan akan ada investasi lain pada baterai untuk kendaraan listrik.

Mobil Ramah Lingkungan Seperti Apa yang Cocok untuk Indonesia?

Mobil ramah lingkungan terdiri dari beberapa jenis. Ada yang sepenuhnya listrik (EV). Ada yang hibrida, ada juga plug-in hybrid (PHEV). Bedanya, mobil listrik sepenuhnya hanya menggunakan motor listrik dan baterai tanpa mesin pembakaran.

Sedangkan mobil hibrida menggunakan dua mesin yakni pembakaran dan motor listrik yang berkolaborasi menghasilkan efisiensi bahan bakar. Mobil jenis itu tetap membutuhkan bensin untuk menjalankan mesin dan mengisi baterai.

Plug-in hybrid adalah pengembangan lebih lanjut dari mobil hibrida. Mobil jenis PHEV ini bisa menggunakan mesin bensin ataupun pengisian daya listrik sehingga menawarkan jarak tempuh yang lebih jauh dengan dua opsi mesin.

Lantas, mobil ramah lingkungan jenis manakah yang cocok untuk Indonesia?

Ketua Program Percepatan dan Pengembangan Kendaraan Listrik Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan Indonesia berpeluang besar untuk bersaing di segmen mobil listrik, apabila fokus pada jenis kendaraan berbasis baterai.

Artinya, menurut dia, mobil listrik yang menggunakan baterai sepenuhnya akan membuka peluang industri baterai yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia.

AYO BACA : LG Kerja Sama dengan Geely Produksi Baterai Listrik untuk Mobil

Kementerian perindustrian pun mengundang investor untuk berinvestasi dalam produksi baterai agar mengakselerasi pengembangan mobil listrik di tanah air. Mereka juga sudah melakukan uji coba baterai motor listrik yang menggandeng beberapa perusahaan dan organisasi teknologi.

Kendati demikian, pemerintah masih merumuskan peraturan kendaraan ramah lingkungan yang akan menaungi berbagai hal terkait mobil elektrifikasi.

Para produsen mobil di Indonesia pun menanggapi undangan pemerintah untuk investasi produksi baterai dengan berbagai pandangan. Sebagaian produsen mobil menyatakan Indonesia harus membangun infrastruktur pendukung, sebagian lain bahkan sudah siap menjual mobil listrik.

"Pendapat kami, kondisi sekarang kalau langsung EV (mobil listrik), infrastruktur kita belum siap. Membangun charging station tidak akan begitu cepat. Budaya kita juga belum terbiasa dengan mobil listrik," kata CO-CEO Sokonindo Automobile (DFSK), Alexander Barus.

Alexander Barus mengatakan DFSK masih menunggu peraturan pemerintah sebelum memutuskan jenis mobil ramah lingkungan yang bakal dipasarkan atau diproduksi di Indonesia.

"Mana yang di-drive duluan oleh pemerintah dengan insentif (EV atau hybrid). Pastinya DFSK akan mendukung kemana arah pasar yang didukung pemerintah," ujarnya.

Pandangan berbeda disampaikan Mitsubishi yang menyatakan dapat langsung memasarkan Outlander PHEV di Indonesia. Kendati pasar hibrida masih kecil, mereka yakin teknologi itu secara perlahan akan diterima masyarakat.

"Itu baru pionir, dan baru distribusi di GIIAS. Tentu pasar untuk segmen itu kecil. Kami targetkan dua sampai lima unit terjual selama GIIAS," kata Imam Chaeru Cahya, Head of Sales and Marketing Group PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia.

Honda tidak membawa mobil listrik dalam GIIAS 2019 karena masih menunggu peraturan pemerintah. Sedangkan Toyota yang merayakan 10 tahun menjual kendaraan hibrida berupaya mengampanyekan cara kerja mobil elektrifikasi dengan menggelar "Electrification Day."

"Electrification Day adalah aktivitas berkelanjutan dari Toyota dalam menunjang program pemerintah untuk mendukung teknologi ramah lingkungan dan kendaraan elektrifikasi," ungkap Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor, Kazunori Minamide.

AYO BACA: Fiat Aurora Garap Mobil Niaga Swakemudi

AYO BACA: Wuling Perkenalkan Almaz, Mobil dengan Perintah Suara

AYO BACA: Selama 40 Tahun Suzuki Pertahankan Desain Ikonis Jimny

AYO BACA : Toyota Pamerkan 3 Mobil Listrik. Salah Satunya Mobil Konsep F-CR

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar