Pengembangan Mobil Ramah Lingkungan Butuh Inisiatif dan Insentif

  Kamis, 25 Juli 2019   Rahim Asyik
Menteri Keuangan Sri Mulyani mendapat penjelasan tentang elektrifikasi Toyota Prius Plug-In Hybrid Electric Vehicle (PHEV) di GIIAS 2019 di BSD City, Tangerang, Banten, Rabu (24/07/2019). Di hadapan para pelaku bisnis otomotif, Sri Mulyani menjelaskan bahwa dalam pekan ini akan diteken Perpres Mobil Listrik, untuk percepatan program kendaraan bermotor listrik untuk transportasi serta Peraturan Pemerintah menyangkut bahan dari pajak yang bersangkutan dengan klasifikasi emisi dari otomotifnya. (Muhammad Iqbal

Pemanasan global yang dipicu meningkatnya karbon dioksida dari mobil berbahan bakar fosil menjadi alasan penting betapa mendesaknya kebutuhan akan mobil ramah lingkungan. Sejauh ini teknologinya sudah berkembang pesat. Masalahnya tinggal di inisiatif dan insentif agar percepatan bisa dilakukan.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM—Semakin saja banyak negara mengampanyekan mobil ramah lingkungan. Salah satunya dipicu kekhawatiran bersama akan meningkatnya pemanasan global.

Memang mobil berbahan bakar fosil berkontribusi signifikan terhadap meningkatnya emisi karbon dioksida yang menjadi pemicu pemanasan global.

Mengutip World Resources Institute, emisi karbon dioksida dunia pada 2017 telah mencapai lebih dari 36,2 gigaton. Pada 2018 naik lagi menjadi 37,1 gigaton. Indonesia termasuk ke dalam 15 negara penyumbang terbesar.

Menurut estimasi Global Carbon Project (GCP), emisi karbon dioksida di Indonesia pada 2017 sebanyak 487 juta ton (MtCO2), naik 4,7% dari tahun sebelumnya, sebelum kemudian naik lagi 2% pada 2018.

Di DKI Jakarta saja, emisi CO2 setiap tahunnya mencapai 206 juta ton, dengan penyumbang terbesar sektor transportasi yang angkanya mencapai 182,5 juta ton. Sementara sektor rumah tangga dan industri masing-masing berkontribusi 23,9 juta ton dan 350,3 ribu ton.

Becermin dari data itu, kebutuhan untuk menekan produksi karbon dioksida terasa mendesak. Di sektor transportasi, salah satu caranya adalah dengan memproduksi dan memperbanyak penggunaan mobil ramah lingkungan. Memang tak mudah di tengah minimnya infrastruktur, teknologi, kebijakan atau regulasi berupa insentif serta inisiatif.

AYO BACA: Nissan Luncurkan Skyline ProPILOT 2.0 yang Memungkinkan Sopir Lepas Tangan di Jalan Tol

Angin segar muncul tatkala Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan sinyal keseriusan pemerintah dalam membangun mobilitas listrik (e-mobility) kendati belum jelas peta jalannya. Kalla mengatakan peraturan pemerintah tentang mobil listrik akan diterbitkan tahun ini.

“Segera karena ini disinkronkan dengan beberapa kementerian apakah itu industri, keuangan, perhubungan, dan juga kemampuan industri dalam negeri, tahun depan,” kata Jusuf Kalla saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show, Kamis (18/7/2019).

AYO BACA : Tahun 2025 Indonesia Punya Mobil Listrik Sendiri

Di sisi lain, hampir semua pabrikan juga sudah dan terus mengenalkan mobil ramah lingkungannya. Sebagai contoh BMW i8 Roadster, BMW i3S, Mercedes-Benz E300 e, DFSK Glory E3, Renault Twizy, Daihatsu HYFun, Mitsubishi Outlander PHEV, Toyota C-HR Hybrid, Toyota Camry hybrid, dan Alphard hybrid.

Yang menarik, pabrikan juga tak hanya memikirkan mobil ramah lingkungan untuk kelas menengah ke atas. Sebagai contoh Hino Dutro Hybrid yang menyasar sektor transportasi publik dan angkutan barang.

Namun menyerahkan urusan soal mobil ramah lingkungan ke pabrikan saja tak adil. Butuh peran besar pemerintah. Yang paling sederhana misalnya dengan memberi contoh kepada masyarakat dengan mulai beralih dan punya kesadaran tinggi untuk menggunakan mobil yang lebih ramah lingkungan, dengan didahului kebijakan pengetatan uji emisi tentunya.

Diperlukan Baik Inisiatif Maupun Insentif untuk Mengembangkan Mobil Ramah Lingkungan

Dalam pengembangan mobilitas listrik (e-mobility), inisiatif dan insentif sama-sama pentingnya. Inisiatif tanpa insentif tak akan jalan, demikian juga sebaliknya.

Di Amerika Serikat, yang menyediakan insentif pengurangan pajak antara 2.500-7.500 dolar per kendaraan berdasarkan kapasitas baterai dan bobot mobil, tingkat adopsi kendaraan listrik di pasar domestik pada 2018 mencapai 360.800 unit, naik drastis 81% dibanding 2017.

Dari angkat tahun lalu itu, 66% di antaranya merupakan kendaraan murni listrik (Battery Electric Vehicle/BEV) dan 34% Plug-in Hybrid (PHEV). Itu berarti penggunaan kendaraan bertenaga listrik sepenuhnya, naik tajam dari tahun 2017 angkanya baru 53% mobil murni listrik dan 47% PHEV.

AS sangatlah beruntung memiliki Tesla, grup produsen mobil listrik dan kendaraan luar angkasa punya Elon Musk yang visioner. Dari peningkatan adopsi mobil listrik yang tumbuh 81% dibanding 2011-2013, penjualan Tesla Model 3 naik cepat dalam persaingan dengan Chevy Volt dari GM, Toyota Prius Plug-in, dan Nissan LEAF.

Pada kuartal pertama tahun ini Tesla mampu menjual 77.550 unit Model 3, naik 50% dari periode sama tahun 2018, dan masing-masing 17.650 unit untuk Model S dan Model X. Satu pencapaian yang patut bagi Tesla, perusahaan cerdas yang memproduksi baterai mobil sendiri dan menciptakan teknologi pengisian cepat daya baterai kendaraan listrik.

AYO BACA : Mobil Ramah Lingkungan: Dukungan Pemerintah dan Kecocokannya di Indonesia

Tesla telah membangun banyak stasiun pengisian daya baterai untuk pelanggannya di tempat-tempat strategis di pasarnya di seluruh dunia, termasuk China. Belakangan ini, teknologi pengisian daya baterai listrik Tesla V3 (versi 3) mampu mengisi hingga 1.500 kendaraan dalam sehari.

Eropa, kawasan dengan banyak pabrikan mobil besar, telah membuat banyak inisiatif untuk mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Pemerintah di kawasan ini dibantu asosiasi dan pabrikan membangun infrastruktur dan percontohan mobilitas listrik di sejumlah negara.

Adopsi pasar terhadap kendaraan listrik di Eropa pada 2018 tercatat mencapai 408.000 unit, naik 33% dibanding 2017. Angka itu sudah termasuk PHEV dan BEV baik kendaraan penumpang maupun kendaraan komersial. 

Untuk meningkatkan sumbangsih industri otomotif terhadap penciptaan udara bersih, Eropa juga memberlakukan aturan emisi baru WLTP (the Worldwide Harmonised Light Vehicle Test) dengan menoleransi hanya emisi di bawah 50gram CO2 per kilometer.

Untuk kawasan Asia Pasifik, semua bisa berkaca dari China, pasar terbesar dunia yang juga sudah mulai diperhitungkan dalam percaturan pasar mobil global, berkat kemajuan pesat pabrikan dalam negerinya, seperti NIO, baik dalam teknologi maupun kualitas produknya.

China sudah mengeluarkan kebijakan subsidi mobil listrik untuk mendorong penetrasi Kendaraan Energi Baru (New Energy Vehicle/NEV). Penjualan NEV di China naik drastis sejauh ini. Secara volume naik 106% pada semester pertama dan 68% pada paruh kedua tahun 2018, sedangkan untuk tahun ini 79%.

Sejauh ini, China masih menjadi pasar terbesar kendaraan plug-in dengan penjualan NEV tahun 2018 mencapai 1.160.000 unit, mencakup kendaraan penumpang maupun komersial ringan. Jauh lebih banyak dibanding Eropa yang 410.000 unit dan AS dalam kisaran 360.000 unit.

Banyak analis memperkirakan bahwa pada 2019 penjualan kendaraan energi baru di China mencapai 1,8 juta unit (Cars, SUVs, MPVs, dan LCVs) di pasar kendaraan ringan domestik yang mencapai 26,7 juta unit, turun 3% dibanding 2018.

Melihat apa yang terjadi di dunia, jelas bahwa pengembangan mobilitas listrik di Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif segelintir orang atau satu institusi saja. Ini membutuhkan inisiatif bersama, kolaborasi antara pemerintah dan para swasta berkemampuan tinggi, yang ditunjang dengan kebijakan dan ekosistem yang baik pula.

AYO BACA: LG Kerja Sama dengan Geely Produksi Baterai untuk Mobil Listrik Geely

AYO BACA: Wuling Perkenalkan Almaz, Mobil dengan Perintah Suara

AYO BACA: Tesla Berencana Produksi Mobil Amfibi yang Bisa Menyelam

AYO BACA : Toyota Pamerkan 3 Mobil Listrik. Salah Satunya Mobil Konsep F-CR

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar