Kediri Raih Predikat Kota Layak Anak di Tengah 12% Anak-anak di Sana Alami Stunting

  Kamis, 25 Juli 2019   Rahim Asyik
Di tengah kegembiraan anak-anak, ancaman stunting masih membayang. (Foto ilustrasi dari Pixabay)***

Pemerintah Kota Kediri bersama ratusan kota/kabupaten lainnya di Indonesia diganjar penghargaan sebagai kota layak anak. Sayangnya, ratusan anak atau sekitar 12% anak di kota di provinsi di Jawa Timur ini terkena stunting yang bisa menurunkan potensi sumber daya manusia.

KEDIRI, AYOSURABAYA.COM— Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur, berhasil mempertahankan predikat Kota Layak Anak tingkat Madya. Raihan itu diperoleh lantaran Kediri punya program yang memperhatikan kebutuhan anak.

Di tengah kabar menggembirakan itu, ratusan anak di Kota Kediri mengalami stunting.

"Stunting itu karena gagal tumbuh, sehingga  pertumbuhan mulai janin sampai lahir per 1.000 hari pertama kehidupan gagal, akhirnya tidak tumbuh normal," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Kediri Wigati di Kediri, Rabu (24/7/2019).

Wigati mengungkapkan, di Kota Kediri ada sekitar 12% anak yang mengalami stunting, atau sekitar 600 anak dengan usia balita. Mereka terus mendapatkan perhatian dari dinas kesehatan agar mendapatkan gizi yang cukup, sehingga bisa bebas dari stunting.

Menurut dia, setiap tahun dinas kesehatan ada program bulan timbang. Seluruh balita akan ditimbang baik berat badan, tinggi badan serta dialog dengan keluarga terkait dengan gizi yang diberikan ke anak-anak. Jika ternyata anak tersebut tumbuh tidak sesuai dengan perkembangan seusianya, dinas kesehatan membantu agar orang tua memberikan asupan gizi yang baik untuk tumbuh kembang anak.

Ia mengatakan, anak terutama di 1.000 hari pertama adalah waktu yang sangat penting, sehingga jika ditemukan ada indikasi mengalami stunting langsung melakukan tindakan. Jika dibiarkan, ketika dewasa bisa berpengaruh baik pada tubuh maupun pada kecerdasan anak.

Lebih lanjut, ia mengatakan penanganan stunting tidak hanya menjadi tugas dari dinas kesehatan melainkan seluruh instansi terkait. Misalnya, ketika menyangkut kesehatan lingkungan terutama air, sebab air juga bisa menyebabkan penyakit diare. Jika air yang tercemar itu dikonsumsi ibu, lalu anaknya diare, bisa mengganggu pertumbuhan anak, sehingga makanan yang diserap oleh anak tidak bisa maksimal.

Stunting, tambah dia, juga dipengaruhi banyak hal. Selain faktor ekonomi, faktor pengetahuan juga bisa. Untuk itu, dinkes juga memberikan edukasi pada perempuan, sebab calon ibu untuk selalu menjaga kesehatan diri sendiri dengan menerapkan pola makan yang sehat. Dengan itu, saat hamil nantinya kandungannya bisa sehat, sehingga anak yang dilahirkan juga sehat.

"Saat hamil, ibu juga diberi motivasi untuk merawat dirinya. Kebersihan lingkungan termasuk. Makanya mencegah stunting bisa dari awal. Jadi, kami lakukan pembenahan, pencegahan, memberi motivasi, seluruh jajaran dikerahkan," kata Wigati.

Kendati yang terkena stunting jumlahnya ratusan, menurut Wigati angka itu masih relatif rendah ketimbang di Jatim. Bahkan, Kota Kediri bukan termasuk lokus.

Wigati berharap, program intensif yang dilakukan dinas kesehatan (pemeriksaan kesehatan, sosialisasi, pemberian makanan bergizi) bisa menekan seminimal mungkin kasus stunting pada anak di Kota Kediri. Dengan demikian bisa diharapkan sumber daya manusia di Kediri juga bisa meningkat.

Kediri Meraih Predikat Kota Layak Anak Tingkat Madya

AYO BACA : Pasangan Suami-Istri Pasang Tarif Rp5.000 per Anak untuk Menonton Adegan Seks Mereka

Menarik bahwa sehari sebelumnya, Kota Kediri berhasil mempertahankan predikat Kota Layak Anak tingkat Madya.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemkot Kediri Apip Permana, penghargaan diserahkan secara langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise dan diterima oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri Sumedi.

"Pemberian penghargaan ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional. Penghargaan itu karena dinilai Kota Kediri berhasil memenuhi indikator-indikator utama, yakni kelembagaan, komitmen pemerintah serta program inovasi," kata Apip.

Ia mengungkapkan, indikator-indikator tersebut terpenuhi karena Pemerintah Kota Kediri memiliki beberapa program, seperti adanya satgas perlindungan perempuan dan anak (PPA), perda layak anak, sekolah ramah anak, puskesmas ramah anak, serta infrastruktur yang telah mendukung kebutuhan anak.

"Dengan banyaknya taman dan ruang terbuka hijau, sehingga output yang dihasilkan anak-anak di Kota Kediri tumbuh dengan layak," kata dia.

Indikator Kota Layak Anak, kata dia, dibagi menjadi lima klaster. Pertama, hak sipil dan kebebasan; kedua, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; ketiga, kesehatan dasar dan kesejahteraan; keempat, pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya; dan kelima, perlindungan khusus.

Pada penilaian Kota Layak Anak Kota Kediri berhasil meraih poin sebesar 600. Penilaian itu dibagi ke dalam beberapa tahapan. Tahap administrasi, Pemerintah Kota Kediri diwajibkan menghimpun dan mengisi indikator-indikator pada sistem penilaian kota layak anak. Kalau tahap administrasi lolos, baru dilakukan peninjauan lapangan.

Kota Layak Anak ini, tambah dia, dibagi menjadi beberapa level dan pada setiap level ada nilai-nilai yang harus dipenuhi. Untuk tingkat pratama harus memenuhi 500 poin, tingkat madya 600 poin, tingkat nindya 700 poin, dan tingkat utama 800 poin.

"Kediri berhasil mempertahankan predikat Kota Layak Anak tingkat Madya," ujar Apip.

Sementara itu, dalam penghargaan Kota Layak Anak 2019 ini ada 135 kabupaten/kota yang berhasil meraih tingkat pratama, 86 kabupaten/kota meraih tingkat madya, 23 kabupaten/kota meraih tingkat nindya, dan tiga kabupaten/kota meraih tingkat utama. Penghargaan itu diberikan bertepatan dengan Hari Anak Nasional, Selasa (23/7/2019) di Makassar.

Kediri Waspadai Ancaman Diare dan Hepatitis

Di samping memerangi stunting, Dinas Kesehatan Kota Kediri juga mewaspadai ancaman penyakit yang rentan menular saat kemarau seperti diare dan hepatitis.

AYO BACA : Orangtua yang Membiarkan Anaknya Menonton Perbuatan Tak Senonoh Harus Diberi Sanksi

"Kalau kemarau ini antisipasi hepatitis, diare. Pernah ada satu pasien di rumah sakit Kota Kediri, dia dirawat di sana," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri Alfan Sugiyanto di Kediri, Rabu (24/7/2019).

Alfan mengatakan, pasien itu telah diselidiki dan ternyata warga Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan, yang di lokasi itu ditemukan kasus hepatitis A mewabah. Pasien itu berkunjung ke rumah kerabatnya di Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri dan merasa sakit, sehingga dirawat di rumah sakit wilayah Kota Kediri.

Ia mengatakan pihaknya juga sudah meminta kepada petugas medis di rumah sakit untuk menjaga pasien tersebut, mengingat penularan hepatitis A bisa lewat makanan dan minuman.

Selain itu, katanya, pihaknya juga langsung kontak dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri terkait dengan temuan warga yang terkena hepatitis tersebut. Mereka bisa menindaklanjuti dengan memantau kesehatan kerabat dari yang bersangkutan.

"Kami survei dan positif (hepatitis A) lalu kami komunikasikan dengan Dinkes Kabupaten Kediri. Untuk rumah sakit, kami meminta petugas kesehatan menjaganya agar tidak infeksi," kata dia.

Ia menyebut, pasien itu kini sudah dinyatakan sehat. Namun, dinkes tetap meminta agar warga juga menerapkan pola hidup yang sehat, dengan mengonsumsi makanan sehat serta menjaga kebersihan diri.

Terlebih lagi, kata dia, penularan diare maupun hepatitis A dengan mudah lewat makanan maupun minuman. Jika tidak bersih dan sehat dikhawatirkan akan terkena sakit, sehingga harus dirawat.

Terkait dengan temuan penyakit lainnya untuk hepatitis di Kota Kediri, pihaknya menegaskan hingga kini tidak ada laporan lagi. Dinkes tetap meminta kepada seluruh petugas medis untuk segera melapor jika ada temuan penyakit warga terutama yang rentan menular seperti hepatitis A.

Kasus hepatitis A sempat mewabah di Kabupaten Pacitan. Wabah virus hepatitis A tersebut menjangkit warga di tujuh kecamatan Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Penularannya diduga tidak hanya disebabkan pencemaran sumber air melainkan juga karena interaksi antarwarga.

Tim dari Kementerian Kesehatan juga melakukan penelitian dengan mengambil sampel air dari aliran Sungai Sukorejo, Kecamatan Sudimoro, Pacitan, untuk dilakukan penelitian kedua kalinya. Hasil penelitian awal diketahui, terdapat bakteri e-coli di atas batas aman.

Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan, diduga sebagai awal mula mewabahnya virus hepatitis A, hingga menyebar ke sejumlah kecamatan lain di wilayah Pacitan. Hampir seluruh wilayah Kecamatan Sudimoro yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Trenggalek ini mengalami kekeringan sejak dua bulan terakhir, sehingga warga kesulitan mendapatkan air bersih, terutama warga yang tinggal di wilayah pegunungan.

Guna mendapatkan air bersih, warga membeli air dari tangki maupun tandon yang diambil dari sumber air yang berada di beberapa titik, dimana salah satunya adalah sumber air yang berada di Desa Sumberejo, Kecamatan Sudimoro.

AYO BACA: Asal-Usul Mengompol dan Cara Mencegahnya

AYO BACA: Menteri PPPA Akan Terbitkan Aturan Pembatasan Penggunaan Gawai

AYO BACA: Penyakit Kecanduan Gawai Bisa Sebabkan Anak Tantrum, Bahkan Membunuh

AYO BACA : Jangan Biarkan Anak Belajar tentang Seks dari Internet

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar