Wisata Korea Selatan: Pulau Nami di Republik Naminara

  Kamis, 25 Juli 2019   Rahim Asyik
Kapal yang membawa masuk dan keluar Republik Naminara alias Pulau Nami. (Pixabay)***

Salah satu destinasi populer tak jauh dari Korea Selatan adalah Pulau Nami. Pulau ini terletak di negara imajiner Republik Naminara. Alamnya yang indah menjadi daya tarik utama pulau ini.

SEOUL, AYOSURABAYA.COM—Siapa tak kenal Pulau Nami atau Nami Island? Para penggemar drama Korea tentu tahu pulau ini dan bahkan mungkin tebersit dalam hatinya untuk suatu ketika berkunjung ke pulau nan romantis ini.

Pulau Nami terletak di Provinsi Gangwon. Jaraknya sekitar 1,5 jam berkendara dari pusat kota Seoul. Untuk menyeberang ke Nami, pengunjung harus naik kapal dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Atau, kalau berani, pengunjung bisa memilih flying fox Namiseom Zip Wire yang hanya memakan waktu sekitar 5 menit untuk sampai ke pulau itu.

Atmosfer wisata Nami sudah terasa sejak masuk pelabuhan Republik Naminara. Disebut republik untuk gimmick, seolah Pulau Nami adalah negara yang terpisah dari Korea. Untuk memperkuat statusnya sebagai negara imajiner, pengunjung harus punya “visa” alias tiket unuk masuk. Harganya sekitar 13.000 won (sekitar Rp155.000) untuk turis asing, termasuk tiket kapal penyeberangan pulang-pergi.

Kapal penyeberangan menuju Republik Naminara tersedia setiap 20 menit. Dek kapal dihiasi bendera dari berbagai negara. Saat reporter dari kantor berita Antara berkunjung awal Juli 2019, bendera Indonesia terpasang di haluan kapal, berdampingan dengan bendera Korea Selatan.

Pulau Nami menawarkan keindahan alam dan sangat kontras dengan kota metropolitan Seoul. Di Nami, pengunjung akan berjalan di jalan berpasir yang dilindungi pepohonan di sisi kanan dan kiri.

Saat musim panas, pohon-pohon di Nami tampak rindang berhias dedaunan nan hijau sehingga menutupi terik matahari. Meskipun jalan setapak berada di antara pepohonan, Nami jauh dari kesan hutan belantara. Justru kesan yang tertangkap adalah perpaduan tempat wisata modern yang menyatu dengan alam.

Turis yang baru kali pertama datang ke Nami akan terkesan oleh bagaimana Nami menyambut para turisnya. Ada patung snowman, orang-orangan salju, yang dihiasi tulisan selamat datang dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

"Wisatawan Indonesia masuk ke lima besar pengunjung Nami," kata CEO atau Presiden Nami Island, Myeong Jun Jeon kepada Antara, awal Juli 2019.

Ikon orang-orangan salju itu diambil dari salah satu adegan dalam film "Winter Sonata" karena Nami merupakan lokasi syuting drama Korea Selatan yang terkenal itu.

Pulau Nami Semakin Populer Berkat Drama Korea "Winter Sonata"

AYO BACA : Indonesia Masuk Peringkat Ketiga Negara Tujuan Turis Tajir China

Serial televisi "Winter Sonata" bukan hanya penanda popularitas drama Korea di pasar hiburan internasional, melainkan juga kebangkitan wisata Pulau Nami. Saat menyebut Nami, pulau itu seolah-olah tak bisa lepas dari "Winter Sonata" yang memopulerkannya.

Nami, menurut Jeon, sudah menjadi lokasi wisata orang Korea sejak puluhan tahun silam sebelum "Winter Sonata". Pada awal periode 90-an, orang Korea Selatan mulai memikirkan keseimbangan hidup. Setelah berperang dan membangun negeri ginseng yang lantas tersohor berkat industri elektronik, warga Korea mulai merasa perlu memasukkan aktivitas bersantai ke dalam hidup mereka.

Nami menjadi salah satu tujuan wisata mereka berkat letaknya yang tak jauh dari pusat kota dan waktu tempuh yang relatif singkat.

Gaya hidup baru yang mulai populer bagi warga Korea Selatan itu membawa serta drama "Winter Sonata" hingga meledak sebagai tayangan populer hingga ke pasar hiburan global. Orang-orang pun penasaran dengan lokasi latar serial "Winter Sonata" yang menunjukkan Pulau Nami dalam empat musim yang berbeda.

"Apalagi waktu itu, Korea menjadi tuan rumah Piala Dunia (2002)," kata Jeon, yang menyatakan pernah tinggal di Indonesia.

Berkat promosi dari mulut ke mulut itu, Nami semakin sering didatangi turis mancanegara dengan jumlah kunjungan jutaan turis setiap tahunnya.

Republik Naminara pun berbenah setelah mereka terkenal di mata dunia. Mereka tak lagi hanya mengandalkan keindahan alam yang dibiarkan seasli mungkin. "Kami buat sesuatu supaya turis tertarik untuk kembali ke Nami," kata Jeon.

Namun tetap saja, keindahan alam menjadi daya tarik utama Nami. Setiap musim, jalan setapak Nami yang dikelilingi pepohonan akan menawarkan warna-warna yang berbeda.

Jalanan itu akan menguning berhias daun-daun yang rontok saat musim gugur. Sedangan saat musim dingin tiba, jalanan setapak akan dipenuhi salju sebagaimana dalam serial "Winter Sonata". 

Nami juga kerap menjadi tuan rumah penyelenggaraan festival. Salah satunya musik dengan menawarkan suasana menonton konser di tengah hutan. "Tiap musim, konten kami berbeda," kata Jeon.

AYO BACA : Inilah Saatnya Berwisata dengan Kepala Penuh Narasi

Nami kembali memperbarui layanan mereka menyusul kunjungan turis yang berasal dari latar belakang kerpecayaan dan budaya yang berbeda. Pengelola Pulau Nami lantas membangun sejumlah restoran halal hingga menyediakan ruangan untuk beribadah.

Tupai Berlompatan dan Kelinci Berlarian di Sudut-sudut Sepi Nami

Pengunjung tak perlu jadi penggemar "Winter Sonata" untuk menikmati wisata di Nami meskipun hampir sudut pulau itu mengingatkan orang pada serial drama yang dibintangi Bae Yong Joon, Choi Ji-woo, Park Yong-ha, dan Park Sol-mi itu.

Saat Antara berkunjung pada hari kerja, Nami tidak begitu ramai sehingga tidak perlu berdesakan untuk berfoto di tempat-tempat yang menarik. Nami memang memiliki banyak tempat menarik untuk berfoto, sekadar berfoto di bawah pepohonan hingga patung-patung buatan untuk menambah keceriaan di pulau tersebut.

Selain napak tilas "Winter Sonata", pengunjung juga bisa berbelanja di toko oleh-oleh khas Nami, antara lain kue berbentuk orang-orangan salju. Kafe memenuhi kiri-kanan jalan utama Nami.

Mereka yang tertarik dengan suasana yang lebih sepi dapat berkunjung ke ujung barat atau selatan pulau, menjauh dari jalan utama. Nami bisa dikelilingi dengan berjalan kaki dalam waktu 2 jam. Semakin jauh dari jalan utama, semakin sedikit orang yang mampir.

Kalau beruntung, Anda bisa bertemu tupai yang berlompatan melintas atau mengejar kelinci yang memang hidup di tempat tersebut.

AYO BACA: Destinasi Wisata: Berburu Mainan Lokal di Pasar Gembrong

AYO BACA: Tari Thengul: Warisan Intelektual Bojonegoro untuk Dunia

AYO BACA: UNESCO Akan Deklarasikan Kawasan Samota Jadi Cagar Biosfer

AYO BACA : Situs Candi Adan-Adan Bisa Jadi Wisata Museum Kebencanaan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar