Pengalaman Para Mahasiswa Mantan Pencandu Narkoba

  Rabu, 31 Juli 2019   Rahim Asyik
Aktor Jefri Nichol dikawal polisi seusai merilis kasus narkoba di Polres Metro Jakarta Selatan, Jakarta, Rabu (24/7/2019). Aktor Jefri Nichol ditangkap polisi atas dugaan kepemilikan narkotika dengan barang bukti ganja seberat 6,01 gram. Benda terlarang narkoba ini sudah lama masuk kampus. (Dhemas Reviyanto/Antara Foto)***

Narkoba sudah lama beredar di lingkungan kampus, baik penggunanya maupun pengedarnya. Sebagian di antaranya berhasil keluar dari budak narkoba. Bagaimana mereka melakukannya?

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM—Ditangkapnya sejumlah mahasiswa terkait kasus narkotika, dari Sabtu (27/7/2019) hingga Senin (29/7/2019), membuktikan bahwa kampus bukan kawasan yang steril lagi bagi peredaran narkoba.

Polisi kini tengah menyasar 6 kampus swasta di Jakarta Barat, Selatan, dan Pusat sebagai pengembangan dari kasus jaringan narkoba yang berhasil diungkap pada Sabtu (27/7/2019) di sebuah ruang senat mahasiswa kampus swasta di Jakarta Timur. Saat itu polisi menangkap TH dan TWB.

Pada Senin (29/7/2019), polisi menangkap HK (27), AT (27), dan FF (31) di Bekasi, Jawa Barat. Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan, HK berperan sebagai pengedar. Sementara AT dan FF sebagai kurir untuk berjualan di kampus.

Rasa ingin tahu mahasiswa tampaknya jadi salah satu faktor yang menyebabkan mahasiswa terjerat narkoba. Sebagai contoh GP, mahasiswa dari universitas swasta di Jakarta Barat. GP pernah 3 tahun menjadi pencandu psikotropika. "Alasan paling besar kenapa gue coba itu, ya penasaran. Gue rasa semua orang yang nyobain pasti penasaran dulu," kata GP.

Pria berperawakan gempal ini mengaku perjumpaannya dengan narkoba diawali dengan mencoba psikotropika jenis ganja yang diberikan temannya secara cuma-cuma. GP mengingat kembali masa-masa kelam perjumpaannya dengan narkoba, kala itu ia baru menyandang status sebagai mahasiswa dan bahkan belum genap berusia 20 tahun.

Pria yang gemar menata rambutnya itu akhirnya jatuh ke dalam belenggu narkoba semakin dalam setelah mengalami efek melayang yang dianggapnya menenangkan pikiran dan perasaan hatinya.

Berbeda dengan GP yang mencoba narkoba untuk menjawab hasrat keingintahuannya, TA membeberkan bahwa masalah pribadi yang menuntunnya menjadi seorang budak halusinogen. "Saat itu gue kira gue bisa lupain masalah gue. Taunya malah jadi paranoid," kata TA yang pernah memiliki ketergantungan pada psikotropika jenis LSD atau sering dikenal dengan Acid.

LSD merupakan singkatan dari Lysergyc Acid Diethylamide. Mengutip laman resmi Badan Narkotika Nasional (BNN), efek penggunaan psikotropika sintetis ini menimbulkan ilusi pandang atau dikenal halusinasi bagi penggunanya.

Selain untuk menjawab penasaran dan pelarian masalah, dua mantan pengguna narkoba lainnya yaitu I dan CH mengungkapkan alasan lainnya seseorang bisa terjerat narkoba karena godaan dari pertemanan yang sudah terlebih dahulu memakai narkoba.

"Kalau bukan gara-gara TA dan GP, gue rasa sampe sekarang gue masih bersih," ujar I sembari tertawa-tawa mengingat perkenalan pertamanya dengan obat-obatan terlarang itu.

CH yang merupakan seorang wanita mengaku mendapatkan narkoba pertamanya dari mantan kekasihnya yang sudah lebih dulu memakai narkoba. "Ya gitu, namanya udah jatuh cinta mah semuanya dilakuin. Nyoba-nyoba juga karena dicekokin, jadinya malah keterusan," kata wanita berambut ikal itu.

AYO BACA : Penyelundup 11,5 Kilogram Sabu-sabu Tewas Tertabrak Truk

Akses ke Narkoba di Kampus Relatif Mudah

Keempat mahasiswa semester akhir dari satu universitas yang sama itu sepakat mengatakan alasan lainnya menjadi pencandu narkoba di masa lalu adalah mudahnya akses distribusi.

GP menuturkan segala jenis peredaran narkotika di lingkungan kampus bermula dari aksi saling berbagi. "Bisa didapat ya dari sesama pengguna, biasanya pengedarnya mahasiswa juga," ujar pria berkacamata itu.

Lewat pengakuannya, GP menyebutkan meski banyak jenis narkoba yang beredar. Akan tetapi narkoba golongan psikotropika masih merupakan primadona di kalangan mahasiswa.

Psikotropika memiliki efek mengubah perasaan hati serta perilaku penggunanya, contohnya seperti obat tidur, ganja, dan LSD. Ganja adalah yang paling sering dibeli GP kala masih aktif memakai narkoba. "Biasanya gue beli cuma segaris, ya kurang lebih sebanyak kayak Jefri Nichol waktu ketangkep," kata GP.

Mahasiswa memang biasa mengonsumsi sesuai kebutuhan. Ganja seberat 6,01 gram itu, kata GP, cukup untuk 2 pekan dengan takaran paket hemat. Pada 2016 harga satu garis ganja di kisaran Rp350.000 hingga Rp500.000.

Karena berasal dari sesama teman kampus, biasanya barang haram itu digunakan pengguna dan pengedarnya bersama-sama.

Beda halnya dengan kasus penangkapan jaringan narkoba Senin (29/7/2019). Dari tangan tersangka ditemukan 80 kilogram ganja. "Banyaknya pengedar kelas kecil sih. Yang jelas ’kan sama-sama pengguna, beda jenisnya dengan yang kemarin tertangkap itu. Kalau itu sudah bandar," ujar GP ketika ditanya mengenai distributor penjualan narkoba di kampusnya.

Berhenti Karena Psikiater, Bosan, dan Ancaman Kematian

Bagaimana keempat mahasiswa itu bisa berhasil menghentikan kecanduannya? Caranya beda-beda. TA misalnya, menyelesaikan masalahnya dengan bertemu psikiater. "Gue sih ketemu psikater terus selesaikan masalah jadi solusi gue. Kalau ga ketemu mungkin sampai sekarang gue akan masih sering pake itu," kata TA.

AYO BACA : Peta Jalan Pulang Anak Punk

Mudah bosan juga ternyata turut memberikan kontribusi bagi I dalam berhenti menggunakan narkoba. "Gue berhenti karena bosan keenakan. Gue tuh sering sambil fly sambil mikir ini kapan kelarnya," kata I diikuti tawa kecil.

Lain lagi dengan CH yang berhenti menggunakan narkoba usai kehilangan kesadaran setelah mencoba narkotika jenis tembakau sintetis yang dikenal dengan gorila. Hanya dengan tiga hisapan dari gori (gorila), CH lantas tidak mengingat hal-hal yang dilakukannya selama terkena efek melayang.

"Gue tuh, tau-tau gue pindah posisi, tapi cara gue berpindah posisinya gimana nah itu yang gue lupa. Efek 'ngilang' itu yang bikin gue ga mau coba itu lagi," kata CH.

Selain itu, pengalaman bertemu dengan kematian yang dialami GP dapat menjadi alasan paling kuat bagi generasi muda tidak mencoba narkoba. GP kala itu juga turut mencoba gorila, berdua dengan kawannya yang juga pengedar kelas teri.

Namun tidak lama berselang, temannya yang merupakan pengedar kelas teri itu mengeluarkan busa dari mulutnya menandakan overdosis. "Gue tampar-tamparin dia sampe dia sadar. Di situ gue takut dan tau ya kalau benda itu ga baik," kata GP.

Universitas di Jakarta Diimbau untuk Proaktif Mencegah Narkoba

Pengedaran narkoba di kawasan perkuliahan bukan fenomena baru seperti yang diungkapkan oleh BNNP (Badan Narkotika Nasional Provinsi) DKI Jakarta. "Sebenarnya kalau baru banget juga tidak, karena sebelumnya sempat ada berita juga. Tapi namanya juga kejahatan, setiap saat terus meningkat, berubah dan ada trennya," kata Kepala Bidang Rehabilitasi BNNP DKI Jakarta dr Wahyu Wulandari di Jakarta.

BNNP DKI Jakarta mengimbau universitas-universitas khususnya di wilayah DKI Jakarta untuk proaktif melakukan pencegahan narkoba. "Ada juga kampus menutup diri. Kami kesulitan di sana. Jika dia membuka diri, mandiri dan ikut aktif berperan serta, kami malah terbantu dan ini masalah bersama," ucapnya.

Hal senada turut disampaikan oleh Pakar Hukum Narkotika Slamet Pribadi mengenai kurangnya kesadaran kampus-kampus untuk melakukan pencegahan narkoba seperti yang tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) nomor 6 tahun 2018 mengenai Rencana Aksi Nasional Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) di lingkungan pendidikan.

"Sosialisasi sudah ada, namun sayangnya kurang masif, terstruktur, dan sistematis," ujarnya.

Mantan Kepala Bidang Humas BNN itu berharap sosialisasi lebih gencar dilakukan di tingkat instansi pendidikan. Hal itu demi terciptanya  keseimbangan antara pencegahan penyalahgunaan narkotika dengan jumlah kegiatan hukum pemberantasan narkotika oleh BNN dan dapat memutus mata rantai peredaran gelap narkoba di Indonesia, khususnya di dunia pendidikan.

AYO BACA: Awal Tahun, Polisi Ungkap 7 Perkara Peredaran Narkoba

AYO BACA: Masalah Psikis Picu Orang Pakai Narkoba

AYO BACA: Polisi Buru Jaringan Narkoba Antarkampus

AYO BACA : Bawa Narkoba ke Tempat Kerja, Gepeng Dibekuk Polisi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar