Plastik Oxo Beda dengan Bioplastik dari Singkong Asli

  Jumat, 02 Agustus 2019   Rahim Asyik
Seorang wanita melintasi bak truk saat pawai bebas plastik di Jakarta, Minggu (21/7/2019). Pawai itu untuk mengajak masyarakat agar tidak lagi menggunakan plastik sekali pakai karena sampahnya akan merusak lingkungan. (Akbar Nugroho Gumay/Antara Foto)***

Maraknya penggunaan dan melimpahnya sampah plastik masih menjadi keprihatinan banyak pihak. Untuk kepentingan jangka pendek Iduladha 2019 ini, muncul ide mengganti kantong plastik dengan besek bambu. Ada lagi ide penggunaan plastik oxo (oxodegradable) yang diklaim lebih sehat ketimbang plastik biasa.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM— Sebagai cerminan dari keprihatinan akan maraknya penggunaan plastik yang berujung pada melimpahnya sampah plastik, sejumlah ide dimunculkan. Dari Jawa Barat dan Jakarta misalnya, muncul imbauan untuk mengganti pembungkus daging kurban, dari kantong plastik ke besek bambu.

Ada pula yang mengusulkan penggunaan plastik oxo yang diklaim lebih sehat untuk membungkus daging kurban. Menurut kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), plastik oxo beda dengan bioplastik yang terbuat dari singkong asli.

"Bioplastik yang terbuat dari singkong bersifat lebih lentur dan mudah larut dalam air panas. Bioplastik dalam hitungan enam bulan juga bisa terurai bukan bertahun-tahun seperti plastik oxo," ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono kepada Antara, Kamis (27/7/2019).

Plastik oxo sebenarnya adalah plastik biasa yang diberi tambahan material katalis agar dapat mengakselerasi fragmentasi plastik menjadi serpihan kecil. "Disebut plastik oxodegradable karena proses oksidasi oleh panas memperburuk kualitas plastiknya sehingga pecah menjadi serpihan-serpihan kecil," ujar Agus.

Katalis itu dapat berfungsi mempercepat plastik terkoyak dengan kondisi khusus seperti adanya radiasi sinar ultraviolet (UV) atau paparan panas matahari.

AYO BACA: 3 Mahasiswa UMK Temukan Tempat Sampah Berbasis IoT

AYO BACA: Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota

AYO BACA : Sampah Plastik dan Kegagalan Pemerintah Melindungi Hak Warga

Agus menambahkan plastik oxo itu tidak lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan plastik biasa. Akan tetapi, kata Agus, plastik oxo memang lebih cepat terurai jika dalam kondisi khusus tadi. "Jika plastik konvensional 50 tahun baru terurai, plastik oxo ini lebih cepat kalau terpapar sinar matahari," tutur Agus.

Walaupun demikian, bahaya plastik oxo sama dengan bahaya plastik biasa. Apalagi jika plastik oxo terbuang ke sungai atau laut dan dimakan oleh biota yang hidup di sana, karena sama-sama dapat mencemari lingkungan. "Jika plastik oxo tidak terdegradasi penuh dalam waktu yang cukup, justru menimbulkan risiko timbulnya mikroplastik ke dalam lingkungan dan rantai makanan kita dari ikan dan biota laut lainnya," ujar Agus.

Oleh karena itu, kata Agus, perlakukanlah plastik oxo ini seperti plastik biasa. Jangan dibuang sembarangan, apalagi ke sungai atau lautan," tandas Agus.

Besek Bambu dan Daun Pisang Jadi Pilihan Pembungkus Daging Kurban

Sementara itu, dari Jakarta dilaporkan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menggalakkan penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan. Untuk membungkus daging kurban misalnya, akan dipilih besek bambu beralas daun pisang untuk mengganti kantong plastik.

“Tahun ini kita menggalakkan agar menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan," kata Anies di Ruang Serba Guna Masjid Pusat Islam Jakarta, di Jakarta Utara, Selasa (30/7/2019).

Besek juga dijadikan pilihan di Kota Bandung. Apalagi bambu diyakini punya kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri. "Tumbuhan itu masing-masing memiliki manfaat. Dan bambu ini bisa sebagai antibiotik. Dari hasil analisa strukturnya memang bisa menghambat bakteri," kata Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jawa Barat Pranyata Tangguh Waskita dalam diskusi Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (27/7/2019).

Besek juga berpori besar sehingga baik untuk sirkulasi udara bagi daging. Ia juga mengatakan bahwa penyimpanan daging dalam kantong plastik yang diikat akan membuat daging berada dalam keadaan hangat karena tidak ada sirkulasi udara dan kondisi itu membuat bakteri cepat tumbuh. "Semakin dingin suhu maka bakteri makin sulit tumbuh," kata Pranyata.

AYO BACA : Tahun 2021, Sedotan Plastik Hilang dari Kanada

Menurut Pranyata, membiarkan daging dalam suhu normal akan membuat bakteri cepat tumbuh. Oleh karena itu, dia menyarankan panitia kurban berusaha membagikan daging kurban sesegera mungkin. "Maksimal empat jam itu harus sudah bisa dibagikan," katanya.

AYO BACA: 8 Kontainer Sampah dari Brisbane, Australia, Masuk Surabaya

AYO BACA: DPRD Kota Surabaya Siap Bahas Raperda B3

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga meminta panitia kurban tidak menggunakan plastik untuk membagikan daging. Ia menyarankan penggunaan besek atau daun pisang sebagai wadah daging kurban yang akan dibagikan kepada warga. "Saya kira itu budaya daerah yang layak dikembangkan," kata Ridwan.

Di lingkup nasional, Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian, dan Kemaritiman Kemkominfo Septriana Tangkary mengatakan pemerintah terus berupaya mengurangi sampah plastik. "Penggunaan kantong plastik dan minuman botol plastik tersebut salah satu penyebab meningkatnya volume sampah plastik yang sulit diurai mikroba tanah. Pencemaran plastik saat ini terjadi dari hulu hingga hilir," kata Septriana pada pelaksanaan program Gerakan Indonesia Bersih "1 Juta Tumbler" di Sanur, Bali, Kamis (27/7/2019).

Septriana mengatakan penggunaan botol plastik sekali pakai memiliki dampak yang sangat buruk terhadap lingkungan di seluruh dunia. Oleh karena itu melalui kampanye lingkungan diharapkan masyarakat untuk secara perlahan-lahan mengurangi penggunaan plastik. "Mulai pola hidup, diharapkan penggunaan plastik di masyarakat bisa dikurangi. Karena kebiasaan yang selama ini menggunakan berbahan plastik sekali pakai, secara tidak langsung turut andil merusak lingkungan dari sampah tersebut," ujarnya.

Ia mengatakan hampir tiga juta ton sampah plastik di dunia disumbangkan dari botol plastik tersebut. Oleh karena itu pihaknya bersama-sama menjaga lingkungan dengan mengurangi penggunaan botol sekali pakai. "Sudah saatnya beralih dalam memanfaatkan air minum yang selama ini dikemas botol sekali pakai. Tetapi dengan membawa botol isi ulang ramah lingkungan (tumbler) secara perlahan-lahan akan dapat mengurangi sampah plastik di alam ini," ucapnya.

AYO BACA: Setiap Warga Diharapkan Tanam Minimal 25 Pohon Selama Hidupnya

AYO BACA: Coca-Cola Indonesia Kurangi Materi Plastik Sekitar 25-30%

AYO BACA : Kominfo Dukung Gerakan Satu Juta Tumbler

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar