Mahasiswa KKN 46 UMM Sulap Limbah Biji Salak Menjadi Kopi

  Selasa, 06 Agustus 2019   Andres Fatubun
Pelatihan pengolahan biji salak menjadi kopi oleh KKN 46 UMM.

MALANG, AYOSURABAYA.COM -- Potensi pertanian yang ada di Desa Wonorejo sangat melimpah, salah satunya adalah salak. 

Di setiap halaman depan rumah warga pasti terdapat pohon salak, namun salak hanya dimanfaatkan bagian buahnya saja untuk dikonsumsi kemudian bijinya dibuang dan menjadi sampah. 

Inilah yang akhirnya menginspirasi mahasiswa KKN 46 UMM yang dibimbing oleh Dra. Dewi Nurjannah, M.M untuk mengolah limbah biji salak menjadi bubuk kopi. 

Berkaca dari pengalaman KKN sebelumnya, bahwa sudah pernah mengolah daging salak menjadi nuget.

Maka dari itu, KKN 46 UMM pun memiliki ide untuk memanfaatkan biji salak yang belum pernah dimanfaatkan oleh masyarakat Wonorejo.

Sebelum proses pemanfaatan biji salak, mahasiswa KKN 46 UMM memberikan penyuluhan kopi biji salak terlebih dahulu pada hari Minggu (21/7) di Balai Desa Wonorejo, Kec. Bantur, Kab.Malang. 

Penyuluhan ini diadakan selama empat kali yaitu diadakan kembali pada hari Rabu (24/7), Senin (29/7) dan Selasa  (6/8). 

Tujuan dilakukan berulang agar tahap per tahap dapat dilakukan dan dipraktikan dengan benar. Penyuluhan ini merupakan salah satu program kerja divisi Ekonomi untuk mengembangkan hasil sumber daya alam yang dapat menjadi ladang  usaha unik dan menjual ditengah pesatnya penikmatmakanan/minuman unik. 

Materi diisi oleh Melinda Dwi Permatasari, mahasiswai Ilmu dan Teknologi Pangan dan Firmansyah Adiputra Ekonomi Syariah Universitas Muhamadiyah. Kegiatan ini dihadiri oleh 51 warga dan organisasi desa yang meliputi Pemuda Gereja, PKK dan PKH. 

Kopi biji salak bukan hanya dari segi rasa yang nikmat namun juga memiliki khasiat.

Dari segi kandungannya, kopi biji salak memiliki anti oksidan yang bermanfaat bagi kesehatan untuk menangkal radikal bebas. Kopi ini juga cocok bagi penderita asam lambung karena kandungannya yang rendah kaefin.

Cara membuat kopi biji salak itu cukup mudah. Prosesnya dimulai dengan pengumpulan biji salak pondoh dari KKN 46 UMM yang kemudian dipotong kecil-kecil seukuran kerikil. Selanjutnya potongan biji salak tersebut dicuci dan dijemur di bawah sinar matahari. Umumnya biji salak tersebut akan kering sekitar 2-3 hari namun biji salak bisa kering dalam 1 hari apabila matahari sedang terik-teriknya.

Kemudian apabila biji salak sudah kering maka dilanjutkan dengan menyangrai biji kering tersebut menggunakan wajan tanah liat untuk mengeluarkan wangi dari biji salaknya sekaligus meratakan warna dari kopi biji salak tersebut.

Salah satu hal yang penting selama proses pembuatan kopi biji salak adalah proses penyangraian karena biji salak tersebut harus dipastikan sampai  berwarna hitam gosong namun masih ada kecoklatan barulah bisa diangkat. Pastikan jangan sampai terlalu gosong. Apabila terlalu gosong maka rasanya akan pahit dan baunya tidak khas seperti bau salak. 

Selanjutnya, tumbuk menggunakan lesung dan ayak menggunakan 2 ayakan yaitu yang sangrai besar dan sangrai paling kecil. Lalu hasilnya dimasukkan ke proses packaging dan masukkan ke dalam plastik berukuran 50g serta berikan label Coffee 46.

“Nantinya sebelum berakhirnya masa KKN, kami ingin melakukan serah terima kopi biji salak untuk diolah dan dijual di Desa Wonorejo. Jadi saat acara penutupan nanti kami sekaligus melakukan launching kopi biji salak”, ungkap Melinda, salah satu pemateri dari penyuluhan biji kopi salak.

Respons dari peserta pun sangat positif  terhadap inovasi biji kopi salak yang satu ini. Banyak warga yang ingin sekali terus dibimbing untuk pembuatan kopi biji salak tersebut. Tak hanya itu, warga pun secara sukarela mengundang KKN 46 UMM untuk  memberikan materi mengenai biji kopi salak dalam acara PKK.

“Rasanya enak seperti kopi tapi ada salaknya. Kalau kopi ini saya berani minum karena kafeinnya rendah,” ungkap Susi, salah satu anggota PKH yang menjadi peserta dalam penyuluhan kopi biji salak.

Seiring berjalannya waktu, warga dari Desa Wonorejo ikut menyumbangkan ide untuk berinovasi dengan mencampurkan kopi biji salak dan cokelat. Selain itu, dalam waktu dekat ini, KKN 46 UMM dan juga warga akan segera meresmikan kopi biji salak sekaligus mendiskusikan terkait harga jual dan label dari produk kopi biji salak.

Setelah adanya pengembangan biji salak dari mahasiswa KKN 46 UMM diharapkan nantinya masyarakat Desa Wonorejo dapat mengembangkannya secara mandiri, bahkan diinovasi dengan berbagai rasa yang unik. 

Manfaat jangka panjang dapat meningkatkan perekonomian masayarakat Desa Wonorejo dan siap bersaing dalam hal pengelolaan dibidang kuliner. Selain itu dapat mengurangi sampah serta memberikan inspirasi untuk memanfaatkan limbah-limbah yang tidak bermanfaat menjadi produk yang menjual.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar