Wisata Cirebon: Lais, Isu Gender, dan Keterlibatan Roh

  Selasa, 06 Agustus 2019   Rahim Asyik
Ade Irfan (berkacamata hitam), sang dalang lais, tengah menari dalam pertunjukan Lais sebagai salah satu kesenian khas Cirebon yang nyaris punah, serupa dengan Sintren yang dimainkan dalang perempuan. (Erika Lia)***

Cirebon punya kesenian tradisi khas daerahnya. Salah satu di antaranya adalah Lais. Seni dengan isu gender ini memiliki daya tarik lantaran filosofinya yang dalam bagaimana manusia seharusnya memerangi nafsu duniawinya untuk kehidupan yang lebih baik.

CIREBON, AYOSURABAYA.COM-- Kurungan ayam berukuran besar berbungkus kain menjadi objek paling mencolok dalam pertunjukan kesenian tradisional Cirebon, Lais.

Terang saja lantaran kurungan itu ditaruh di tengah arena. Dua atau tiga penari mengelilingi kurungan itu dengan dilatari para pemain gamelan. Satu dari 2 atau 3 penari itu adalah seorang pria yang berpakaian seadanya diikat dengan tali.

Seorang pawang dengan dupa terbakar dan jampi membuat pemuda itu lunglai tak sadarkan diri. Laki-laki itulah 'sang' Lais, figur utama dari keseluruhan pertunjukan.

Sebagian rekannya lalu membungkus Lais atau akrab disebut pula Dalang Lais, dalam tikar anyaman, sebelum kemudian sosoknya menghilang dalam tikar. Dua penari mengelilingi kurungan ayam seraya menaburkan potongan bunga.

Tak lama, voila! Kala kurungan dibuka, tampaklah perubahan penampilan Lais. Kali ini, dia memakai kacamata hitam dan ikat kepala tradisional. Sebuah selendang panjang terikat di pinggang Lais yang kini berpakaian layaknya penari itu.

Walaupun demikian, tubuhnya masih tetap lunglai. Sebagian penari dan pendamping membantunya berdiri tegak. Beberapa detik kemudian, tubuhnya mulai bergerak gemulai. Lais menari diiringi lagu berlirik seperti ini:

Turun, turun lais

Laise widadari

Nemu kembang yun ayunan

Nemu kembang yun ayunan

Kembange Siti Maindra

Widadari temurunan

Dalang Lais bergerak mengelilingi kerumunan penonton. Tarian si penari akan terhenti setiap kali uang yang dilempar penonton mengenai bagian tubuhnya. Bukan hanya saja tariannya berhenti, Lais justru pingsan setiap terkena lemparan uang, berapa pun nilainya.

AYO BACA : Inilah Saatnya Berwisata dengan Kepala Penuh Narasi

"Uang itu mewakili godaan duniawi, di antaranya harta, takhta, dan wanita, yang akan membelenggu manusia. Ketika godaan itu mengenai kita, kita akan berada dalam kegelapan sehingga kita harus berupaya melepaskan diri dari belenggu," kata seniman Cirebon, Waryo Sela kepada Ayocirebon.com.

Setiap kali Lais pingsan, seorang pendamping akan langsung menghampiri dan mengasapi wajahnya dengan bakaran dupa seraya berkomat-kamit. Tak lama Lais pun terbangun untuk kembali menari, masih di alam bawah sadarnya.

AYO BACA: Pameran Vespa Nuansa Militer Pecahkan Rekor MURI

AYO BACA: Wisata Korea Selatan: Pulau Nami di Republik Naminara

AYO BACA: Destinasi Wisata: Berburu Mainan Lokal di Pasar Gembrong

Proses menidurkan Lais dengan cara melemparinya uang maupun membangunkannya kembali untuk menari, menjadi daya tarik Lais. Kesenian ini tak ubahnya dengan Sintren.

"Bedanya, Lais dimainkan penari laki-laki, sedangkan Sintren dimainkan penari perempuan. Sisanya sih sama saja," ungkap Waryo.

Baik Lais dan Sintren sama-sama menghadirkan penari berkacamata hitam yang akan menari, konon, selama hilang kesadarannya. Saat kehilangan kesadaran itulah, setiap gerakan Dalang Lais maupun sintren diyakini dikuasai roh.

Percaya atau tidak, keterlibatan roh inilah yang menjadi daya tarik kesenian khas Cirebon yang satu ini. Nuansa mistis yang melingkupi Lais maupun Sintren masih kerap mengundang keingintahuan dan antusiasme khalayak.

"Kesenian Lais dan Sintren diyakini berkembang di tengah masyarakat pesisir pantai utara Jawa. Ini adalah permainan rakyat yang semula bertujuan mendatangkan roh, mirip-mirip Jaelangkung," tutur Waryo.

Lais ataupun Sintren dimainkan di area terbuka. Dengan penonton yang melingkar, umumnya terjadi kontak langsung antara pemain dan penari (dalang lais atau sintren).

Mengingat populer di kalangan rakyat, sejatinya Lais ataupun Sintren dimainkan dengan alat musik sederhana, seperti bumbung, buyung, maupun kecrek. Kini, format penyajian kesenian tersebut dimodifikasi dengan alat-alat musik lain, semisal tambahan perkusi tertentu hingga permainan gamelan.

Sayangnya, Lais maupun Sintren menjadi salah satu kesenian khas Cirebon yang terkategori nyaris punah. Meski begitu, nasib Sintren tak seburuk Lais. Pamor Sintren masih berada di atas Lais.

"Lais dan Sintren tergolong kesenian yang sudah langka. Tapi, dalam perkembangannya Lais lebih jarang ditampilkan daripada Sintren," katanya.

AYO BACA : Lebaran Sapi, Tradisi Khas Warga Desa Sruni di Boyolali

AYO BACA: Objek Wisata di Malang Harus Punya Merek Sendiri

AYO BACA: Indonesia Masuk Peringkat Ketiga Negara Tujuan Turis Tajir China

Dia tak menampik kemungkinan adanya isu gender dalam perkembangan kesenian ini. Kebanyakan orang lebih menanti-nanti sintren ketimbang lais, terlepas nuansa mistis yang ditampilkan dalam pertunjukannya.

Unsur magis dalam kesenian Lais, tak hanya menarik minat para penonton. Unsur itu rupanya memiliki daya tarik bagi si penari atau dalang lais, Ade Irfan (23), warga Cikeduk, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon.

"Saya tertarik jadi Dalang Lais karena ada unsur magisnya," ujar Ade ditemui seusai pertunjukan di Bale Gamelan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, belum lama ini.

Aksi Ade bersama rombongan sanggarnya, Cipta Bagus Winangun asal Kabupaten Cirebon, mengundang decak kagum para penonton hari itu.

Ade nyaris tak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya ketika kontrol atas tubuhnya diambilalih 'kekuatan lain'. Dia mengakui, tali yang mengikatnya di awal pertunjukan terasa kencang dan membatasi geraknya.

 "Setelah dibacakan jampi-jampi, saya tidak sadar, seperti orang pingsan saja. Tahu-tahu pas sadar, badan sudah sakit-sakit," ungkapnya.

Ade mengaku tak tahu bagaimana penampilannya berubah dengan kacamata hitam dan konstum penari, selama dirinya berada dalam kurungan ayam. Pun begitu rasanya ketika uang dilempar ke arah tubuhnya.

Meski merasakan linu di sekujur tubuhnya saat kembali sadar, Ade mengaku tak kapok berperan sebagai Dalang Lais. Apalagi dia telah melakoni perannya itu sejak sekitar 5-7 tahun terakhir.

"Ini (keahliannya menari sebagai Dalang Lais) turunan dari guru saya. Saya nggak akan kapok karena saya punya tujuan melestarikan tradisi," tegasnya.

Ade menghendaki kesenian Cirebon tak lekang disantap masa. Dia mengetahui, risiko atas kehendaknya itu adalah konsistensi dan komitmen.

"Kesenian itu indah, saya harus berjuang melestarikannya supaya bisa dipelajari generasi muda nanti. Sekarang kan anak-anak lebih suka main gadget, sehingga bukan saja kurang paham kesenian, tubuh mereka juga kurang gerak. Jangan sampai kesenian khas seperti lais ini punah," kata Ade. (Erika Lia)

AYO BACA: Tari Thengul: Warisan Intelektual Bojonegoro untuk Dunia

AYO BACA: Situs Candi Adan-Adan Bisa Jadi Wisata Museum Kebencanaan

AYO BACA : Kuliner Gresik: Kolak Ayam, Makanan Warisan Sunan Dalem

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar