Nasib Suku Komodo yang Kalah Tenar dari Komodo dan Pulau Komodo

  Senin, 12 Agustus 2019   Rahim Asyik
Komodo (karanus komodoensis) hasil tangkapan ditunjukkan kepada media oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jatim, di Sidoarjo, Jumat (12/7/2019). Sebanyak enam komodo hasil sitaan tersebut akan dilepasliarkan ke habitat asal yaitu pulau Ontoloe Flores Utara. (Umarul Faruq/Antara Foto)***

Di Pulau Komodo dan Pulau Rinca di Nusa Tenggara Timur sebetulnya tak hanya hidup komodo, binatang yang diyakini sebagai wujud nyata dari makhluk mitos yang disebut naga. Di pulau ini juga tinggal Suku Komodo, penghuni pertama Pulau Rinca. Seiring dengan rencana penataan kawasan Taman Nasional Komodo, Suku Komodo terancam terusir. Padahal mereka bisa dijadikan benteng terdepan pelestarian komodo.

HEWAN komodo (varanus komodoensis) tenar tak hanya di Indonesia. Popularitas binatang yang dianggap perwujudan naga di dunia nyata ini juga terkenal di mancanegara.

Pulau tempat binatang itu hidup, yakni Pulau Komodo, sama terkenalnya. Yang kurang dikenal adalah penduduk asli pulau itu yang dikenal dengan sebutan Suku Komodo.

Menurut Ishata (65), Suku Komodo adalah penghuni pertama Pulau Rinca. Suku ini menghuni pulau itu sebelum Suku Bajo. Ishata adalah tetua Kampung Pasir Panjang di Pulau Rinca, salah satu pulau dalam kawasan Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Menurut legenda, komodo sebenarnya kembaran dari Suku Komodo yang dilahirkan oleh seorang wanita bernama Putri Naga yang kemudian menikah dengan seorang pria setempat. Putri Naga kemudian melahirkan seorang laki-laki dan sebuah telur yang kemudian menetaskan komodo betina.

Kaitan Suku Komodo dengan hewan komodo itu diketahui saat anak dari Putri Naga sedang berburu. Kala itu ia menemui seekor komodo yang hendak memakan rusa buruannya. Saat akan membunuhnya, muncul sang Putri Naga yang memberitahu bahwa komodo itu adalah saudara kembarnya.

"Kalau tidak ada peristiwa perburuan maka saudaranya ini tidak tahu bahwa kembarannya ini komodo. Dia mau angkat panahnya. Kata mamanya, janganlah engkau bunuh, itulah saudaramu," ujar Ishata.

Dari cerita warga, komodo biasanya turun ke perkampungan mereka karena mencium bau anyir atau amis. Komodo biasanya mengejar kambing warga atau kucing yang mendekati habitat mereka. Namun, kata Ishata, pada zaman dahulu komodo bisa mengerti bahasa Suku Komodo.

Seperti moke mai (jangan datang), moke waki ahu (jangan gigit saya). Dan, komodo itu pergi dengan sendirinya. Tapi, sayangnya kebiasaan itu kini telah pudar, seiring dengan pejalanan waktu dan perkembangan peradaban manusia.

Penduduk Desa Pasir Panjang berjumlah sekitar 1.330 jiwa atau sekitar 450 kepala keluarga dengan profesi utama nelayan. Namun jumlah persis penduduk Pulau Komodo tak diketahui dengan pasti.

Atas dasar itu, Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat menilai, para penghuni Pulau Komodo tak punya hak atas kepemilikan lahan yang mereka tempati selama ini. "Mereka tidak memiliki hak kepemilikan lahan seperti hak warga negara lain. Mereka tidak memiliki sertifikat hak kepemilikan atas lahan di Pulau Komodo," kata Viktor Bungtilu Laiskodat ketika ditanya soal upaya pemerintah NTT terhadap warga setempat saat Pulau Komodo dikonservasi pada 2020.

AYO BACA: Wisata Korea Selatan: Pulau Nami di Republik Naminara

AYO BACA : UNESCO Akan Deklarasikan Kawasan Samota Jadi Cagar Biosfer

AYO BACA: Situs Candi Adan-Adan Bisa Jadi Wisata Museum Kebencanaan

Sejauh ini, warga Pulau Komodo juga tak terlayani dengan baik aspek pelayanan kesehatan maupun sektor pendidikan. Tak heran kalau Presiden Joko Widodo menghendaki agar warga di Pulau Komodo direlokasi ke tempat yang layak dan diberikan lahan yang memadai disertai sertifikat hak kepemilikan lahannya.

Laiskodat khawatir, kalau warga masih menempati Pulau Komodo, pertumbuhannya bisa lebih cepat dari populasi komodo. Pada gilirannya akan berdampak pada berkurangnya habitat komodo. Untuk mencegahnya, muncul usulan agar Pulau Komodo ditutup selama setahun mulai 2020.

"Kami inginkan kawasan wisata di Pulau Komodo menjadi indah, bersih, dan ekosistemnya kembali seperti yang aslinya sehingga populasi komodo terus bertambah. Atas dasar alasan itu maka mulai 2020, Pulau Komodo harus dikonservasi," kata Laiskodat.

Penduduk Pulau Komodo Disebut Ata Modo, Pulaunya Dinamakan Tana Modo

Didik Pradjoko M.Hum, dosen pada Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dalam penelitiannya mengatakan penduduk Pulau Komodo dikenal dengan sebutan Ata Modo dan pulaunya disebut Tana Modo.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan konservasi yang menyasar Pulau Komodo akan dilakukan secara bertahap. Salah satunya adalah memindahkan warga lokal ke pulau lain di dekat Pulau Komodo.

Menurut Marius, saat ini pemerintah provinsi sedang intensif menggelar rapat dengan sejumlah pihak terkait rencana konservasi di Pulau Komodo. Rapat ini membahas persiapan rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang terkait pulau yang menjadi habitat komodo itu.

Tahapan itu akan dijalankan selama setahun. Penerapan rencana itu nantinya bisa menyasar infrastruktur ke Pulau Komodo, menumbuhkan pohon endemik setempat, memindahkan warga lokal dan pedagang kaki lima ke pulau di sekitar Pulau Komodo.

Setelah konservasi dilakukan dan pulau tertata dengan baik, wisata ke pulau itu akan kembali dibuka. Namun, dia menggarisbawahi bahwa sistem wisata dan manajemen tata kelola di Pulau Komodo ke depannya akan berubah.

Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Labuan Bajo mengatakan, jika ingin melihat komodo, wisatawan bisa berwisata ke Pulau Rinca yang banyak komodonya. Presiden juga mengisyaratkan Pulau Komodo akan dibuat lebih eksklusif, tapi tidak dengan Pulau Rinca.

AYO BACA : ​Inilah Saatnya Berwisata dengan Kepala Penuh Narasi

AYO BACA: “Retorika Kerinduan” Taklukkan Audiens Museum Lima Gunung

AYO BACA: Pakar: Objek Wisata di Malang Harus Punya Merek Sendiri

Jadikan Warga Setempat Benteng Terdepan Pelestarian Komodo

"Rinca tetap punya hitungan daya dukung, berapa turis yang datang. Enggak mungkin kita buka, silakan…, silakan…. Enggak ada seperti itu," ujar Jokowi.

Jokowi menargetkan pembenahan di Pulau Komodo selesai maksimal dua-tiga tahun. "Jadi saat bandaranya jadi, runway-nya jadi, hotel-hotel mulai jadi, di sini juga siap. Jadi betul-betul dirancang, uang sekali keluar tapi dirancang, direncanakan, dan betul-betul dari turun di bandara sampai ke tempat-tempat tujuan ini betul-betul kelihatan sambung semuanya kira-kira itu," kata Jokowi.

Rencana menutup Pulau Komodo diamini Direktur Wahana Lingkungan Hidup NTT, Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi. “Penutupan Pulau Komodo dilakukan untuk menata ketersediaan pangan bagi komodo agar performa komodo tidak lemas. Selain itu, penutupan tersebut juga bertujuan untuk menata taman bunga agar terlihat lebih indah," kata Umbu Wulang.

Namun, kata Umbu Wulang, penataan dan pelestarian (penutupan) tak harus dengan diikuti dengan merelokasi masyarakatnya. Oleh karena itu, Umbu Wulang menilai pernyataan Gubernur Laiskodat tentang penduduk liar adalah pernyataan yang tak dapat dibenarkan. Soalnya sebelum jadi taman nasional, Pulau Komodo adalah hak ulayat masyarakat setempat. Namun setelah ditetapkan menjadi Taman Nasional Komodo, warga yang menetap di Pulau Komodo dianggap sebagai penduduk liar.

Pelestarian komodo, kata Umbu Wulang, tidak perlu dilakukan dengan cara merelokasi penduduk yang hidup secara turun-temurun di Pulau Komodo. Namun sebaliknya, menjadikan mereka sebagai benteng terdepan dalam upaya pelestarian komodo.

AYO BACA: Destinasi Wisata: Berburu Mainan Lokal di Pasar Gembrong

AYO BACA: Lebaran Sapi, Tradisi Khas Warga Desa Sruni di Boyolali

AYO BACA: Wisata Cirebon: Lais, Isu Gender, dan Keterlibatan Roh

AYO BACA : Tari Thengul: Warisan Intelektual Bojonegoro untuk Dunia

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar