Aplikasi Pendidikan Kejar.id, dari SMK Wikrama untuk Indonesia

  Rabu, 21 Agustus 2019   Rahim Asyik
Aplikasi Kejar.id, sumbangsih SMK Wikrama untuk dunia pendidikan di Indonesia. (kejar.id)***

Era disrupsi memaksa siapa pun, termasuk dunia pendidikan, untuk menyelaraskan diri dengan perkembangan teknologi informasi. Di Kota Bogor, Jawa Barat, upaya penyelarasan itu melahirkan aplikasi Kejar.id yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan Wikrama. Sekolah ini kini jadi ”oasis di tengah mahalnya pendidikan”. Kejar.id kini sudah digunakan di 893 sekolah, 222.516 siswa, dan 10.376 guru di seluruh Indonesia.

”TUKANG TAHU SAJA BEREVOLUSI. Dari sekadar kudapan yang awalnya begitu saja kemudian kini dikenal dengan tahu bulat yang digemari banyak orang. Apalagi dunia pendidikan yang sudah seharusnya mengikuti perkembangan zaman.”

Pernyataan itu terlontar dari mulut Kepala Seksi Kurikulum SMP Dinas Pendidikan Kota Bogor Yosep Berliana saat lokakarya bertajuk ”Pembelajaran Digital Bagi Guru SMP se-Kota Bogor”. Lokakarya berlangsung di Balai Krida Sekolah Menengah Kejuruan Wikrama pada 5 hingga 7 Agustus 2019.

”Filosofi tahu bulat” itu dilontarkan Yosep untuk memotivasi lebih dari 130 guru SMP peserta lokakarya. Pasalnya, dunia pendidikan pun kini terimbas perkembangan teknologi. Oleh karena itu, proses belajar mengajar pun mesti menyelaraskan diri dengan perkembangan teknologi.

Di Kota Bogor ada ”laboratoriumnya”, yakni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Wikrama. SMK Wikrama ini sudah mengantongi segudang prestasi di bidang IT (teknologi informasi), mulai tingkat lokal, nasional, regional, dan bahkan internasional. Wikrama kini menjadi tempat bagi para pendidik memberikan pengetahuan pembelajaran digital itu.

Khusus yang terkait dengan IT, kompetensi keahlian di SMK Wikrama saat ini adalah teknik komputer dan jaringan, rekayasa perangkat lunak, multimedia serta bisnis daring dan pemasaran.

Sebuah media nasional menyebut sekolah ini sebagai ”oasis di tengah mahalnya pendidikan”. Soalnya, sebagian besar murid dari sekolah dengan segudang prestasi ini berasal dari kalangan ekonomi lemah. Sebutlah penjaga vila di kawasan Puncak, pedagang asongan, tukang ojek, penjual rujak, dan yang paling prestisius adalah sopir angkutan kota.

AYO BACA: 3 Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Ciptakan Mesin Pengayak Pasir

AYO BACA: Riset tentang Sampah Laut di Indonesia Masih Tertinggal

Disrupsi Adalah Keniscayaan yang Tak Terhindarkan

Menurut Itasia Dina Sulvianti (konsultan senior pendidikan nasional), perkembangan teknologi tak ayal menyeret orang memasuki era 4.0 atau sering disebut sebagai disrupsi. Maka tak terhindarkan kalau para pendidik pun mesti bersentuhan dan harus menyelaraskan proses belajar mengajarnya dengan perkembangan teknologi. ”Jika ada yang menyatakan sulit beradaptasi dengan perkembangan teknologi, maka lokakarya dan pelatihan itulah ikhtiar dan upaya yang mesti dilakukan,” kata Itasia yang juga dosen di Departemen Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.

Dalam keniscayaan semacam itu, Yosep Berliana meminta komitmen para pendidik untuk bisa mengikuti perkembangan dunia pendidikan berbasis digital itu lewat lokakarya dan pelatihan tersebut. Memasuki era 4.0, para pendidik diharapkan tidak lamban merespons itu. Terlebih karena peserta didik atau muridnya saat ini merupakan Generasi Z.

AYO BACA : 3 Mahasiswa UMK Temukan Tempat Sampah Berbasis IoT

Generasi Z adalah anak-anak yang lahir 1995 hingga 2014 atau setelah Generasi Y atau Milenial yang lahir di atas 1980-an sampai 1997.

Hanya saja Yosep menekankan, kendati ada perkembangan IT dan digital dalam dunia pendidikan, peran guru tetap tidak bisa digantikan karena memang harus ada interaksi dalam proses belajar dan mengajar. \"Pendidikan tetap harus ada interaksi, ruang kelas jangan membelenggu peserta didik. Dengan IT atau internet, maka interaksi itu bisa dibangun secara positif,\" kata Yosep.

Aplikasi Kejar.id, kata Itasia, dibuat sebagai upaya untuk menyelaraskan kemampuan guru dalam pengajaran era 4.0 itu.

AYO BACA: Harga Rumah Tahan Gempa Tipe 36 Antara Rp35 Juta Sampai Rp47 Juta

AYO BACA: Antasena, Mobil Konsep Hidrogen Ciptaan Mahasiswa ITS Berlaga di London

Aplikasi Kejar.id Punya Manfaat Menyeluruh

Itasia Dina Sulvianti adalah salah seorang pendiri aplikasi Kejar.id bersama (alm) RP Agus Lelana. Selama 20 tahun, tim mereka melakukan riset pendidikan melalui SMK Wikrama Bogor dan Perguruan SMK Wikrama Indonesia. Hasilnya, pada 2011 mulai dibangun aplikasi pendidikan Kejar.id.

Rancangan Kejar.id semula dibangun oleh para pelajar dan alumnus SMK itu dengan didampingi tim guru. ”Kemudian di-upgrade pada 2017 setelah muncul teknologi baru Android support,” kata Itasia.

Aplikasi itu juga lahir atas latar belakang kondisi pendidikan di Indonesia, yang antara lain diwarnai kondisi buruknya integritas dan percaya diri siswa karena tidak kompeten pada materi-materi mendasar.

Di sisi lain, materi pembelajar juga tidak sesuai. Banyak guru tidak mengajarkan materi yang sesuai dengan kurikulum dan kisi-kisi yang dibuat pemerintah. Selain itu, pemantauan atau monitoring juga kurang.

Pada saat yang bersamaan, ada kondisi di mana ada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang berimbas pada pentingnya pembelajaran dan pembiasaan menggunakan teknologi. Ada pula sistem zonasi sehingga dibutuhkan alat ukur yang bisa memetakan siswa yang beragam. Juga Palapa Ring, jaringan serat optik berkapasitas 100 GB (upgradable) yang menyatukan Indonesia, dan program Bantuan Operasional Sekolah di mana pemerintah menganggarkan dana untuk pembelajaran digital.

AYO BACA : Banoo, Pendongkrak Nafsu Makan Ikan Temuan 5 Mahasiswa UGM

Aplikasi Kejar.id menyediakan paket belajar serta sistem pembelajaran yang berfilosofi ”tuntas, terukur, dan terpantau” untuk sekolah di Indonesia. Konsepnya, membangun sistem pembelajaran yang bertahap, mulai dari materi-materi yang mendasar. Kemudian, berbasis sekolah, yakni dibuat untuk siswa, orangtua, guru, wali kelas, kurikulum, kepala sekolah, dan juga dinas pendidikan.

AYO BACA: Pertanian Responsif Bisa Tingkatkan Produktivitas Petani Sampai 30%

AYO BACA: Keunggulan Padi Ratun: Sekali Tanam Bisa 5 Kali Panen

AYO BACA: Scarabée, Mobil Militer yang Bisa Berjalan Seperti Kepiting

Selanjutnya, konten (materi/soal) telah disesuaikan dengan kurikulum dan kisi-kisi yang telah dibuat oleh pemerintah, dan memiliki laporan eksekutif berupa mengumpulkan, menganalisis, dan melaporkan data secara tepat, cepat, dan mudah.

Manfaat Kejar.id ini menyeluruh, mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, dan orangtua. Kepala sekolah bisa meminta guru untuk memfokuskan pengajarannya pada materi ajar yang belum dikuasai siswa. Guru dan orangtua dapat memantau dan mengevaluasi hasil belajar siswa melalui halaman khusus executive report. Sementara siswa bisa belajar dan mengerjakan soal menggunakan smart aplikasi Kejar.id.

Penggunaan aplikasi Kejar.id disebutnya sangat mudah dan menyenangkan karena dilakukan secara dalam jaringan (daring) atau online. Dengan demikian dapat diakses di mana dan kapan saja. Selain itu, berbasis web dan aplikasi Android sehingga dapat diakses pakai komputer atau laptop dan smartphone atau tablet. ”Sehingga berbiaya hemat,” katanya.

Secara substansial, Kejar.id memiliki keunggulan terintegrasi, efisien, dan efektif, berpengalaman, pelayanan prima, termasuk menyediakan fitur try out UNBK.

Saat ini, pengguna Kejar.id di seluruh Indonesia 893 sekolah, 222.516 siswa, dan 10.376 guru.

Kelebihan lainnya, menurut Itasia, Kejar.id memiliki apa yang disebutnya sebagai kurikulum tersembunyi untuk menanamkan karakter jujur, percaya diri, tekun, terbiasa dengan target, dan transparan.

AYO BACA: Tahun 2025, Indonesia Punya Mobil Listrik Sendiri

AYO BACA: Mahasiswa Untidar Ciptakan Algapatis untuk Membantu Petani

AYO BACA : Mahasiswa UMP Temukan Celana Terapi untuk Perbaiki Bentuk Kaki Bayi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar