​Nomophobia (No Mobile Phone Phobia), Ketakutan Saat Berada Jauh dari Gawai

  Senin, 02 September 2019   Rahim Asyik
Gejala awal kecanduan gawai ini ditandai dengan kesukaan penderitanya akan swafoto, membuka ponsel saat berkendara, saat menyeberang, ketika belajar di sekolah atau rapat di kantor, bahkan ketika beribadah dan berdukacita. Untuk mengobati penyakit ini diperlukan pendekatan yang holistik dan komprehensif. (Pixabay)***

Penderita nomophobia jumlahnya terus meningkat di dunia. Gejala awal kecanduan gawai ini ditandai dengan kesukaan penderitanya akan swafoto, membuka ponsel saat berkendara, saat menyeberang, ketika belajar di sekolah atau rapat di kantor, bahkan ketika beribadah dan berdukacita. Untuk mengobati penyakit ini diperlukan pendekatan yang holistik dan komprehensif.

SAAT INI, GAWAI SUDAH MENJADI KOMODITAS KOMUNAL. Boleh dikatakan, semua orang dari berbagai kalangan, baik di kota metropolitan maupun di pelosok pergunungan, sudah punya gawai.

Tak heran karena, tulis harian Inggris The Telegraph (21 Oktober 2015), memprediksi, penjualan ponsel cerdas secara global naik sampai 18% dengan pola pertumbuhan terdeteksi dari pasar negara-negara berkembang seperti Indonesia, Tiongkok, dan India.

Pada 2020, pengguna ponsel pintar di seluruh dunia ditaksir mencapai 6,1 miliar. Di Indonesia, pengguna aktif ponsel mencapai 281,9 juta jiwa (DailySocial.id, 2015). Ironisnya, telefon seluler merupakan adiksi nonobat terbesar di abad ke-21 (Shambare dkk, 2012).

Nomophobia (No Mobile Phone Phobia) adalah gangguan digital kontemporer dan masyarakat virtual berupa fobia (ketakutan) spesifik di mana dijumpai ketidaknyamanan, kesedihan mendalam, kepanikan, kekhawatiran, atau kecemasan disebabkan ketiadaan HP (ponsel cerdas, telefon seluler), PC (komputer personal), aplikasi atau peralatan komunikasi-teknologi virtual lainnya pada individu yang terbiasa menggunakannya.

Dengan kata lain, rasa takut yang bersifat psikologis saat kehilangan kontak (termasuk ketiadaan) ponsel atau sulit sinyal. Singkatnya, ketakutan patologis saat jauh (tersisih) dari teknologi.

Terminologi nomophobia pertama kali dikemukakan tahun 2010 oleh kantor pos Inggris yang menugaskan YouGov, suatu organisasi riset di Inggris, untuk menyurvei 2163 orang guna keperluan melihat tingkat kecemasan akibat penggunaan ponsel cerdas.

Penelitian ini berhasil menemukan bahwa sekitar 53% pengguna telefon genggam di Inggris cenderung merasa cemas saat mereka kehilangan HP, kehabisan baterai, atau ketiadaan sinyal.

Nomophobia terkait erat dengan penggunaan internet yang problematis alias internet use disorders, di mana dikarakterisasi oleh penghamburan waktu secara berlebihan untuk hiburan (entertainments) di dunia online (internet), sehingga menyebabkan preokupasi dan ketidakmampuan untuk melakukan diskoneksi. Akhirnya menimbulkan konflik dengan diri sendiri atau dengan orang lain.

AYO BACA: Bukalapak Startup No 1 di Indonesia atau No 18 di Dunia

AYO BACA: Twitter Akan Hapus Fitur Tag Lokasi

Teknologi Itu Membebaskan Sekaligus Memperbudak

Terdapat beberapa riset terkait nomophobia yang dilakukan para pakar. Pada 1998, Mick dan Fournier menemukan bahwa pelajar memakai lebih dari 9 jam per hari untuk gawai, yang memicu adiksi. Inilah simulakra teknologi: ”membebaskan” sekaligus ”memperbudak”. Membebaskan manusia dari dunia nyata, kemudian mengikatnya ke dunia maya (virtual).

Kecanggihan teknologi komunikasi juga berefek negatif terhadap kesehatan. Menurut Sharma N dkk (2015), radiasi elektromagnetik energi rendah yang diterima selama penggunaan ponsel cerdas (smartphones) menyebabkan perubahan struktural dan fungsional di tingkat seluler yang memicu abnormalitas sel di dalam sistem susunan saraf pusat dan auditori (pendengaran).

Senada dengan riset itu, José De-Sola Gutiérrez, dkk (2016) mengemukakan bahwa penyalahgunaan ponsel cerdas berakibat pada munculnya beragam gangguan kesehatan. Misalnya nyeri otot, rigiditas, sindrom penglihatan komputer (kelelahan, mata merah, kering, penglihatan kabur, iritasi), ilusi taktil dan auditori, tenosinovitis de Quervain (nyeri dan kelemahan ibu jari dan pergelangan tangan).

Riset di Inggris tahun 2008 yang mengikutsertakan lebih dari 2100 orang berhasil membuktikan bahwa 53% pengguna telefon genggam menunjukkan kecenderungan nomophobia. Augner dan Hacker pada tahun 2011 berhasil menemukan hubungan signifikan antara penyalahgunaan telefon seluler, stres kronis, stabilitas emosional, dan depresi pada perempuan muda.

Temuan ini diperkuat oleh Tavakolizadeh dkk yang pada tahun 2014 sukses mengobservasi relasi antara status kesehatan mental seseorang (tendensi somatisasi, kecemasan, depresi) dan penggunaan telefon seluler yang berlebihan.

Tavolacci MP, dkk (2015) mengemukakan bahwa 1 dari 3 mahasiswa perempuan di Perancis mengalami nomophobia. Problematika ini terkait erat dengan insomnia dan adiksi siber. Selain siber atau internet, para ahli telah lama mengidentifikasi berbagai perilaku adiksi patologis seperti adiksi makanan, belanja, bekerja (workaholic), videogames, olahraga, dan online sex.

AYO BACA : Penyakit Kecanduan Gawai Bisa Sebabkan Anak Tantrum, Bahkan Membunuh

AYO BACA: Kediri Raih Predikat Kota Layak Anak di Tengah 12% Anak-anak di Sana Alami Stunting

AYO BACA: Lansia dan yang Pernah Strok Sebaiknya Hindari Dehidrasi Saat Mudik

Survei yang dilakukan AIMC pada tahun 2015 melaporkan bahwa 91,8% pemilik telefon genggam menggunakan ponsel cerdas mereka untuk menjelajahi web, 63% di antaranya merupakan pemuda berusia kurang dari 18 tahun. Sebagian besar mengecek telefon genggam mereka beberapa kali per jam, 25% melakukannya setiap 30 menit, dan 20% di antaranya setiap 10 menit. Sebagai tambahan, kebiasaan melihat HP pertama dan terakhir, mereka lakukan saat baru bangun dan sebelum tidur.

Sharma N, dkk (2015) menunjukkan prevalensi nomophobia mencapai 73% dari 118 mahasiswa fakultas kedokteran di India Utara dengan efek samping berupa lesu dan pusing yang dialami oleh 61% mahasiswa. Pavithra, dkk (2015) mengemukakan bahwa penggunaan media sosial dan ponsel oleh para mahasiswa kedokteran mengembangkan perilaku adiktif. Terbukti 93% dari mereka suspek nomophobia, bahkan mengikutsertakan HP saat mereka tidur.

Sebanyak 83% mahasiswa panik saat lupa atau salah meletakkan ponsel. Yildirim C, dkk (2016) menyatakan bahwa 42,6% dari dewasa muda, dengan jumlah responden 537 mahasiswa di Turki, menderita nomophobia. Uysal, dkk (2016) menemukan korelasi positif antara nomophobia dan fobia sosial di antara mahasiswa. Uniknya, didapatkan pula fakta bahwa semakin besar pendapatan keluarga, semakin tinggi rasio nomophobia.

Rakhmawati S (2017) menyimpulkan bahwa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang terkena nomophobia kategori tinggi pada dimensi: tidak dapat berkomunikasi, tidak dapat mengakses informasi, dan tidak nyaman. Hasil skripsi ini diperkuat dengan konklusi skripsi Mawardi DH (2018) di Surabaya yang menunjukkan korelasi positif antara perilaku impulsif dan kecenderungan nomophobia pada para remaja pengguna Twitter. Semakin tinggi perilaku impulsif, semakin tinggi pula kecenderungan nomophobia mereka.

AYO BACA: Belanja Lewat Marketplace Lebih Aman. Ini Alasannya

AYO BACA: Pasangan Suami-Istri Pasang Tarif Rp5.000 pada Anak-anak yang Mau Menonton Adegan Seksnya

Suka Swafoto (Selfie), Gejala Awal Nomophobia

Sebagai deteksi dini, penderita nomophobia menunjukkan gejala awal suka melakukan swafoto tanpa mengenal waktu dan tempat, suka (iseng) menggunakan ponsel saat mengendarai mobil, motor, saat menyeberang jalan, ketika belajar di sekolah, atau melakukan rapat di kantor, bahkan ketika beribadah dan berdukacita.

Penderita nomophobia kurang dapat mengendalikan diri saat menggunakan telefon genggam atau berada di dekat sarana komunikasi canggih. Dengan teknologi canggih itu, ia cenderung memboroskan waktunya untuk hal-hal yang nonproduktif.

Ada 10 patognomonis (karakteristik klinis nan khas) nomophobia.

1. Merasa sangat takut, panik, gugup, bingung, dan/atau cemas yang berlebihan dan irasional saat ponsel hilang, tidak berada di tempatnya atau terlupa dibawa.

2. Penderita nomophobia suka menggunakan waktu luang untuk bermain telefon seluler atau kecanduan gawai selain untuk tujuan edukatif.

3. Penderita nomophobia umumnya memiliki lebih dari satu gawai.

4. Di manapun dan kapanpun penderita nomophobia terbiasa membawa power bank atau charger.

5. Penderita nomophobia seringkali enggan menonaktifkan ponselnya. Dengan kata lain, gawai selalu siaga 24 jam. Uniknya, telefon genggam sering terbawa hingga ke tempat tidur.

AYO BACA : ​Jangan Biarkan Anak Belajar tentang Seks dari Temannya atau Internet

6. Penderita nomophobia hampir setiap saat melihat notifikasi melalui layar telefon genggam. Ia penasaran, adakah panggilan atau pesan untuk dirinya. Realitanya, gawai tidak berdering.

7. Penderita nomophobia tampak panik atau tidak tenang saat pulsa mulai menipis, baterai gawai melemah, tidak ada sinyal (koneksi, jaringan).

8. Secara umum penderita nomophobia lebih menyukai berkomunikasi dengan menggunakan gawai atau teknologi canggih ketimbang tatap muka.

9. Anggaran (pulsa) yang dikeluarkan untuk berkomunikasi cenderung besar.

10. Disertai tanda/gejala tertentu yang menurut Bhattacharya S, dkk (2019) antara lain cemas, gemetar, perubahan pola pernapasan, menggigil, berkeringat, agitasi, disorientasi, takikardi (denyut jantung meningkat).

Penderita nomophobia (nomophobics) biasanya mengalami kesalahan sensasi. Dia seolah-olah mendengar bunyi atau menerima pesan ponsel. Fenomena ini di dalam dunia kedokteran disebut sebagai adiksi ponsel. Disebut juga dengan nama lain seperti mobile phone addiction, smartphone addiction disorder, rinxiety, phantom ringing, sindrom vibrasi fantom, hypovibrochondria fauxcellarm, textiety, textaphrenia, technophobia (fobia akibat kemajuan teknologi).

Bagaimanapun juga, diagnosis nomophobia hanya dapat ditegakkan oleh tim multidisipliner (psikiater, neurolog, dokter umum, psikolog) berdasarkan kriteria DSM-V (Diagnostic and Statistical manual of Mental disorders, edisi kelima).

AYO BACA: Beban Kerja 20-22 Jam Sehari dan Penyakit Sebabkan Sakit dan Matinya Petugas Pemilu

AYO BACA: Indonesia Memiliki 2.119 Startup, 3 Berstatus Unicorn dan 1 Decacorn

Penanganan Kasus Nomophobia Harus Holistik dan Komprehensif

Sejumlah daftar pertanyaan wawancara telah dikembangkan untuk menilai problem perilaku terkait penggunaan teknologi komunikasi dan informasi. Misalnya CERM (Cuestionario de Experiencias Relacionadas con el Móvil), CPDQ (Cellular Phone Dependence Questionnaire), MPDI (Mobile Phone Dependence Inventory), MPIQ (Mobile Phone Involvement Questionnaire), MPPUS (Mobile Phone Problem Use Scale), NMP-Q (Nomophobia Questionnaire), QDMP/TMPD (Questionnaire of Dependence of Mobile Phone/Test of Mobile Phone Dependence).

Berbagai kuesioner itu menilai ketergantungan telefon genggam dari suatu pendekatan yang berbeda dari ketakutan patologis yang dirasakan oleh pengguna gawai saat kehilangan akses informasi dan jejaring sosial, serta tidak mampu menghubungi atau dihubungi.

Kajian nomophobia telah memasuki ranah publik yang multidisipliner dari para pakar kesehatan, komunikasi, perilaku, kognitif, neurobiologis, antropologis, psikologis, dan beragam disiplin ilmu lainnya.

Oleh karena itu, tata laksana yang digunakan sebagai tindakan solutif dan preventif juga perlu dirumuskan secara holistik dan komprehensif. Tentunya dengan tetap mempertimbangkan dimensi personaliti serta pelbagai perbedaan, meliputi sosiodemografis, usia, gender, status edukasi, geografis, kultural, dan ekonomi.

dr Dito Anurogo MSc

Dosen FKIK Unismuh Makassar, penulis puluhan buku, instruktur literasi baca-tulis tingkat nasional 2019, Director networking IMA Makassar, pengurus Asosiasi Sel Punca Indonesia, dokter literasi digital, kepala LP3AI ADPERTISI, pengurus FLP Makassar Sulsel, pengurus APKKM

AYO BACA: Google Akan Perluas Mode Incognito ke Search dan Maps

AYO BACA: Nissan Luncurkan Skyline ProPILOT 2.0 yang Memungkinkan Sopir Lepas Tangan di Jalan Tol

AYO BACA : ​Penerapan Jaringan 5G di Indonesia Menunggu Saat yang Tepat

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar