KPBB Minta Pemerintah Paksa Industri Otomotif Produksi Kendaraan Rendah Emisi

  Rabu, 04 September 2019   Rahim Asyik
Komite Penghapusan Bensin Bertimbal meminta pemerintah memaksa industri otomotif memproduksi kendaraan rendah emisi untuk menekan polusi di kota-kota besar. Pembatasan emisi pada gilirannya akan merangsang tumbuhnya industri mobil listrik. (Pixabay)***

Komite Penghapusan Bensin Bertimbal meminta pemerintah memaksa industri otomotif agar memproduksi kendaraan rendah emisi untuk menekan polusi di kota-kota besar. Pabrikan yang patuh pada ketentuan itu berhak atas insentif fiskal. Sebaliknya yang tak patuh akan kena disinsentif fiskal. Pembatasan emisi juga bisa memicu tumbuhnya kendaraan listrik.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- Komite Penghapusan Bensin Bertimbal meminta pemerintah memaksa industri otomotif agar menghasilkan kendaraan rendah emisi guna menekan polusi udara terutama di kota-kota besar.

”Kenapa industri otomotif enggan memproduksi kendaraan yang rendah emisi, ya karena pemerintah tidak pernah memaksa,” kata Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin di Jakarta, Senin (2/9/2019).

Menurut Ahmad, di sejumlah negara modern, pemerintah memaksa setiap industri otomotif untuk menghasilkan kendaraan rendah emisi. ”Langkah yang dilakukan yaitu menerapkan kebijakan fiskal,” kata Ahmad.

Industri otomotif yang mengikuti kebijakan itu akan mendapat insentif fiskal. Sebaliknya, industri otomotif yang tidak menghasilkan kendaraan rendah emisi bisa kena disinsentif fiskal. ”Kita berharap ke depan pemerintah menetapkan standar emisinya,” tutur Ahmad.

AYO BACA : Tahun 2025, Indonesia Punya Mobil Listrik Sendiri

Oleh karena itu, KPBB yang telah melakukan kajian bersama sejumlah lembaga sejak 2012 mengusulkan kepada pemerintah agar standar karbondioksida kendaraan bermotor pada 2020 levelnya yaitu 118 gram per kilometer.

Kalau tidak sanggup menghasilkan kendaraan dengan emisi maksimal 118 gram per kilometer maka dikenakan cukai sebesar Rp2.250.000 per gram. Hasil riset yang dilakukan KPBB menunjukkan bahwa penerapan kebijakan itu ditaksir mampu menekan polusi udara hingga 59%.

Akibatnya, mobil dengan karbondioksida di atas 118 gram per kilometer akan dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi. Sedangkan mobil dengan karbondioksida di bawah 118 gram per kilometer dijual lebih murah.

AYO BACA: Kampus Universitas Lambung Mangkurat Pakai Mobil Listrik untuk Operasional

AYO BACA : Pengembangan Mobil Ramah Lingkungan Butuh Inisiatif dan Insentif

AYO BACA: Antasena, Mobil Konsep Hidrogen Ciptaan Mahasiswa ITS Berlaga di London

Ahmad menyakini jika pemerintah ingin menetapkan kebijakan standar atau baku mutu emisi kendaraan bermotor di Indonesia maka akan ada pihak-pihak yang berusaha menghalangi.

Tujuannya jelas agar standar emisi kendaraan bermotor di tanah air tidak diundangkan. Akibatnya, industri otomotif di Indonesia akan terus memproduksi kendaraan berpolusi tinggi. ”Pasar otomotif di Indonesia akan masih dalam posisi sangat primitif karena tidak ada standar,” ujar Ahmad.

Padahal, kata Ahmad, kebijakan standar karbondioksida di angka 118 gram per kilometer akan menguntungkan sekaligus memacu industri mobil listrik. Industri yang diuntungkan pun bukan hanya yang menggunakan sumber energi baterai, melainkan juga industri mobil listrik yang menggunakan kombinasi sumber energi antara baterai dan bahan bakar minyak atau hybrid.

Ahmad menjelaskan, apapun jenis kendaraannya asalkan menggunakan teknologi listrik akan lebih menekan emisi. Kalau dibandingkan dengan teknologi motor bakar atau Internal Combustion Engine (ICE), mobil listrik jelas jauh lebih ramah lingkungan. Teknologi motor bakar bahkan sulit untuk menekan emisi karbonnya lantaran telah dibatasi spesifikasi. Kalau emisi karbonnya dipaksakan ditekan sesuai standar, dampaknya pada biaya. ”Sangat mahal,” ujar Ahmad.

AYO BACA: Toyota Pamerkan 3 Mobil Listrik. Salah Satunya Mobil Konsep F-CR

AYO BACA: LG Kerja Sama dengan Geely Produksi Baterai untuk Mobil Listrik Geely

AYO BACA : Mobil Ramah Lingkungan: Dukungan Pemerintah dan Kecocokannya di Indonesia

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar