Pemindahan Ibu Kota Negara, Spekulan Tanah, dan Orang Kaya Baru

  Kamis, 05 September 2019   Rahim Asyik
Sejumlah anak bermain di kawasan yang masuk ke dalam wilayah ibu kota negara baru di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Sabtu (31/8/2019). Warga mengaku sangat mendukung pemindahan ibu kota negara ke wilayah mereka karena dapat memajukan daerah serta perekonomian mereka. (Akbar Nugroho Gumay/Antara Foto)***

Rencana pemindahan ibu kota negara dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur direspons semringah warga setempat. Seturut pengumuman Presiden Joko Widodo mengenai lokasi calon ibu kota baru di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara, spekulan tanah mulai gentayangan melahirkan sejumlah orang kaya baru. Ada juga warga yang khawatir tempat tinggalnya tergusur.

PUNING (30) TERLIHAT SEMRINGAH. Tawanya lepas, tampak begitu bahagia saat diajak membahas soal tanah.

Ini memang topik obrolan warung kopi yang paling hangat di sekitar perbatasan Kecamatan Sepaku di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, di Kalimantan Timur saat ini.

Tanpa harus ditanya lebih lanjut, perempuan asal Makassar ini lancar menceritakan bagaimana akhirnya dua hari lalu ia dan suaminya ikut-ikutan membeli sebidang tanah di Desa Semoi Empat, Kecamatan Sepaku.

”Di Semoi Empat itu na, biar ja masih hutan, diamkan ja. Sehektare dulu ditawarkan Rp17 juta bapaknya endak mau beli, buat apa, masih hutan. Kemarin kita beli itu Rp30 juta sudah,” kata Puning menceritakan kejadian beberapa hari sebelumnya saat ia dan suaminya membeli tanah di Desa Semoi Empat, Kecamatan Sepaku.

Pemilik warung kopi di ruas jalan Samboja-Sepaku yang tak begitu jauh dari Kawasan Konservasi Satwa di Taman Hutan Raya Bukit Soeharto yang masuk di Kabupaten Kutai Kartanegara ini semakin lancar bercerita manakala Budiono (30) dan rekan-rekannya dari Desa Karang Jinawi, Kecamatan Sepaku tiba di sana.

”Habis sudah tanah-tanah bersertifikat tuh, sold out, cuma beberapa hari ja,” ujar Puning yang disambut gelak tawa Budiono dan rekan-rekannya.

Budiono lantas ikut menimpali perbincangan Puning dengan wartawan Antara yang memang membahas soal kehadiran spekulan tanah di sekitar Desa Semoi Dua dan desa-desa lain di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, yang semakin ramai semenjak Presiden Joko Widodo mengumumkan lokasi calon ibu kota baru, Senin (26/8/2019).

Mobil-mobil mewah hilir-mudik di perbatasan dua kabupaten itu. Tujuannya tidak lain untuk menanyakan tanah yang hendak dijual.

Berbeda dengan reaksi warga setempat, pemindahan ibu kota negara ini sebetulnya tak disetujui mayoritas warga Jakarta. Setidaknya ditunjukkan dengan hasil survei yang dilakukan KedaiKOPI pada 14-21 Agustus 2019 seperti dilaporkan di sini. Sebanyak 95,7% responden tidak setuju kalau pindah. Sisanya, 2,5% responden tidak beropini dan hanya 1,8% responden yang setuju.

Sedangkan respoden yang paling mendukung rencana pemindahan ibu kota adalah responden dari Sulawesi, dengan 68,1% responden setuju.

AYO BACA: Gaya Hidup Lari: Antusias Warganya, Tidak Siap Infrastrukturnya

AYO BACA: Pengalaman Terbang dan Mendarat di Bandara Kertajati di Jawa Barat

Tanah-tanah Dijual, Banyak yang Jadi Orang Kaya Baru

Budiono yang merupakan anak dari transmigran gelombang terakhir asal Pacitan, Jawa Timur, yang mulai menempati desa di kecamatan paling jauh dari Ibu Kota Kabupaten Penajam Paser Utara itu pada 1993 juga berkelakar bahwa orang-orang desa di Sepaku banyak yang jadi orang kaya baru.

”Tadi tu na di samping kecamatan, orang transaksi tunai, bergepok-gepok itu uangnya,” ujar Budiono. Meski tidak dapat mengkonfirmasi bahwa itu memang merupakan transaksi jual-beli tanah, namun ia menegaskan itu jelas bukan pemandangan jamak di Sepaku.

Fenomena jual-beli tanah ini diperkuat pernyataan Sekretaris Camat Sepaku Ahmad Bastian. Ahmad mengatakan hanya dalam beberapa hari sejak lokasi ibu kota baru diumumkan banyak individu maupun perusahaan mendatangi warga, menanyakan tanah yang hendak dijual.

Harga tanah melambung dengan cepat. Kalau sebelumnya satu hektare lahan kosong dijual Rp17 juta hingga Rp25 juta, atau 4 hektare seharga Rp70 juta, kini sudah ada yang berani membeli lahan bersertifikat dengan luas setengah hektare seharga Rp500 juta.

AYO BACA : Keribetan yang Harus Disiapkan Kalau Ibu Kota Negara Pindah ke Kalimantan

Belum lama ini ada pula yang mencari tanah di Sepaku yang, menurut Ahmad, mengaku dari salah satu Grup Bisnis Manufaktur Unggas besar di Indonesia.

Sementara Armansyah (56), warga asli Sungai Merdeka di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara mengaku baru saja dimarahi keponakannya yang kebetulan bekerja di Badan Pertanahan Nasional. Itu terjadi karena dia baru saja menjual satu kaveling tanah ukuran 15x20 meter persegi di pinggir Jalan Sungai Merdeka-Samboja seharga Rp150 juta.

”Jangan lagi dijual,” kata Arman mengikuti ucapan keponakannya.

Arman yang saat ditemui sedang menjadi mandor proyek jalan di dekat desanya mengaku masih memiliki sisa lahan seluas 6 hektare di Sungai Merdeka. Tanah-tanah itu sebagian ditanami karet, kelapa sawit, dan jagung.

Tanah-tanah warga di sana sekarang menjadi incaran para investor dan orang-orang kota dari Balikpapan, Samarinda, Bontang, Surabaya hingga Jakarta.

Lokasinya yang sangat dekat dengan salah satu Gerbang Tol Balikpapan-Samarinda kini bertambah strategis karena berada hanya sekitar 40 menit saja dari calon ibu kota negara Republik Indonesia.

AYO BACA: Pemerintah Prioritaskan Penyelesaian Konflik Agraria

AYO BACA: Pengamat: Urbanisasi Berkelanjutan Bukan Pilihan, Tapi Keharusan

Dulu, Babi Hutan, Rusa, Kancil, dan Orangutan Terlihat Berkeliaran

Mayoritas penduduk di perbatasan Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara dan Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara merupakan transmigran dan pendatang.

Haji Lasmuin, warga Desa Semoi Dua, Kecamatan Sepaku yang kini menjabat sebagai Kepala Puskesmas Semoi II mengaku sebagai anak dari transmigran gelombang pertama dari Bojonegoro, Jawa Timur, yang tiba di lokasi itu pada 1971.

”Dulu ini masih hutan lebat. Hutan primerlah kira-kira. Kami ini istilahnya yang pertama buka lahannya. Cuma pakai parang menebang pohon-pohon besar itu lama sekali,” ujar Lasmuin menceritakan kembali ingatan masa kecilnya sekitar 41 tahun lalu. Lasmuin menikah dengan warga asli Paser.

Para transmigran yang mendapat jatah tanah seluas 2 hektare per kepala keluarga itu harus bekerja ekstrakeras untuk membuka hutan agar bisa membangun rumah dan menggarap lahan.

Bukan hanya satwa liar, transmigran juga harus menghadapi penyakit malaria yang mewabah dengan sangat cepat. Pernah di satu masa, menurut Lasmuin, populasi berkurang drastis setelah lebih dari 50% penduduk desanya meninggal dunia lantaran terjangkit malaria.

”Dari saya SD sampai saya kerja di Dinas Kesehatan Sepaku, malaria masih ada. Baru sekitar tahun 1990-an malaria mulai menghilang. Kalaupun ada yang terjangkit, biasanya mereka yang bekerja di hutan-hutan Kalimantan lainnya, bukan terjangkit di sini,” tutur Lasmuin.

Lain lagi cerita Haji Samiun Sapa (52), guru SD Negeri di Sepaku asal Way Riang, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Samiun merantau ke Sepaku setelah tamat SMA pada 1985 dan menjadi guru honorer di sana.

Samuin yang sudah 34 tahun menjadi warga Sepaku mengatakan kondisi desanya sudah berubah bila dibanding dengan saat dia pertama tiba di sana. Dulu, satu-satunya akses jalan di jalur yang menghubungkan dua kabupaten itu berupa jalan tanah dan hanya bisa dilalui satu mobil.

Babi hutan, rusa, dan kancil masih banyak berkeliaran hingga ke rumah-rumah warga. Orangutan pun cukup banyak terlihat di hutan-hutan sekitar desa.

AYO BACA : 7 Aspek Ini Membuat Kalimantan Selatan Layak Jadi Ibu Kota Negara

Setelah berpuluh-puluh tahun hidup sebagai warga Sepaku, Samuin mengaku kini punya beberapa sertifikat untuk 8 hektare tanah yang tersebar di kecamatan yang dalam hitungan kurang dari 10 tahun akan menjadi ibu kota negara baru itu.

Ia belum sempat menggarap semua lahan karena harus membagi waktu dengan tugas utamanya sebagai guru desa, jadi baru sebagian saja yang ditanami karet dan sawit.

AYO BACA: Arti 20 Tahun Merdeka Bagi Bekas Warga Timor Timur yang Pro-Indonesia

AYO BACA: Asal Kata Merdeka: dari Mardijker, Maharddhikeka atau Mardika?

Warga Mengaku Siap Asalkan Rumahnya Tidak Digusur

Soal perasaannya setelah mendengar bahwa ibu kota negara akan pindah ke Kalimantan Timur, atau bahkan lebih dekat lagi, pindah ke Sepaku-Samboja, Samuin mengaku senang. ”Ya senang. Bukan kami yang mendatangi ibu kota, tetapi ibu kota yang mendatangi kami,” ujar Samuin.

Pernyataan Samuin itu selaras dengan hasil survei yang dilakukan Media Survei Nasional (Median) pada 26-30 Agustus 2019 seperti dilaporkan di sini. Hasil survei menunjukkan, 40,7% responden setuju dengan rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur.

Alasan utama responden mendukung pindahnya ibu kota adalah pemerataan ekonomi (dipilih 13,5% responden). Disusul dengan alasan untuk mengurangi kepadatan penduduk Jakarta (12,3%), ikut keputusan pemerintah (10,7%), mengurangi kemacetan DKI Jakarta (2,9%), dan demi perubahan ke arah yang lebih baik (2,7%).

Menarik bahwa ada warga yang tak tahu kalau ibu kota bakal pindah. Misalnya Syamsiah (60), warga RT 26 Sungai Merdeka, Samboja, Kutai Kartanegara. Syamsiah tampak terkejut dan justru bertanya balik untuk memastikan jawaban yang didengarnya tidak salah. ”Beritanya di TV atau di hape? Saya enggak pernah nonton berita. Saya juga enggak punya hape untuk baca berita. Anak-anak juga enggak ada yang kasih tahu,” kata Syamsiah.

”Nanti orang Jakarta pindah sini. Ya senang saja kan jadi ramai. Ambil saja singkong dari sini, Nak,” ujar Syamsiah, nenek satu cucu berpenghasilan Rp50 ribu per hari menawarkan singkong-singkongnya  seandainya nanti jadi bertetangga.

Lain pula dengan Bagus Anggoro (40), pendatang dari Kediri, Jawa Timur, yang membuka warung sayur di rumahnya di RT 04 Sungai Merdeka, Samboja, Kutai Kartanegara. Bagus justru mengkhawatirkan anak-anak yang tidak lagi mau ke langgar untuk mengaji jika fasilitas hiburan lengkap turut dibangun di calon ibu kota baru nanti.

Bagus bahkan menyampaikan rasa khawatirnya jika ibu kota yang penuh dengan gemerlap dan ingar-bingar berpindah ke sana, seperti Alexis yang sudah tutup di Jakarta itu.

Sedangkan Abdurahim (50), orang Banjar yang sudah 7 tahun membuka warung kecil di jalan lintas Sepaku-Samboja yang lokasinya tidak terlampau jauh dari KM 38 merasa senang akan ”bertetangga” dengan Presiden Jokowi. Ada harapan besar yang selama ini hanya dapat disimpannya rapat-rapat, yakni merdeka dari gelap. ”Harapannya, lampu bisa sampai, karena sekarang masih pakai genset,” ujar kakek dengan 2 cucu ini.

Sementara mimpi lainnya dari mantan Kepala Desa Betung, Kecamatan Berangas, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan ini adalah berkunjung lagi ke istana kepresidenan. Karena sebagai kepala desa, pada 1992, Abdurahim mengaku sudah pernah diundang ke Istana untuk bertemu Presiden Soeharto.

Sementara itu, Iqlima Putri Hanifah (11), Shifa Naizila Altaf (10), dan Dini Aulia (10) yang merupakan siswi SD Negeri 003 Sepaku tampak berhati-hati mengungkapkan perasaan mereka. Shifa yang kini masih duduk di kelas 5 SD mengaku senang dan bangga jika nanti ibu kota negara benar-benar berpindah dan hanya akan berjarak sepelemran batu dari tempat tinggalnya.

Sementara Putri menyatakan persetujuannya asalkan pemerintah berjanji tidak menggusur mereka, warga asli yang sudah bertahun-tahun hidup di sana. Putri juga meminta agar pemerintah memperbarui dan melengkapi fasilitas sekolah mereka, selain juga memperbaiki jalan-jalan desa di Sepaku yang memang kondisinya saat ini rusak.

Saat Antara melontarkan pertanyaan, apakah mereka siap menjadi warga ibu kota, ketiganya serempak menjawab, ”Siap!”

AYO BACA: Sampah Plastik dan Kegagalan Pemerintah Melindungi Hak Warga

AYO BACA: Tahun 2025, Indonesia Punya Mobil Listrik Sendiri

AYO BACA : Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar