Menengok Pabrik Helikopter Rusia di Ulan-Ude

  Jumat, 06 September 2019   Rahim Asyik
Pekerja menyelesaikan bagian

Sejumlah jurnalis dari seluruh dunia, termasuk dari kantor berita Antara di Indonesia, diundang ke pabrik helikopter Rusia, Ulan-Ude Aviation Plant di Ulan-Ude, Rusia. Berikut adalah pengalamannya.

MENYEBUT NAMA ULAN-UDE, ibu kota Republik Buryatiya, Federasi Rusia, ingatan akan melayang kepada Ulan Bataar di Mongolia. Padang stepa yang terhampar sejauh mata memandang pada ketinggian sekitar 2.000 meter dari permukaan laut bisa memberi impresi pada kejayaan masa-masa Jenghis Khan berkuasa. Ulan-Ude memang sangat dekat dengan Mongolia.

Rekaman dan impresi itu tidak terlalu salah karena begitu kaki menjejak di Bandara Internasional Ulan-Ude, kehadiran masyarakat setempat dari etnik Buryat memang sengat dekat dengan ras Mongoloid. Rusia, bahkan setelah pecah dari Uni Soviet, mengikuti angin perubahan Glasnost (keterbukaan) dan Pereshtroika ("dengar", lebih pada reformasi) pada akhir pemerintahan Mikhail Gorbachev awal dasawarsa 1990-an, masih menjadi negara sangat besar di dunia, terkhusus dari sisi besaran wilayahnya.

Penerbangan maskapai S7 dengan pesawat terbang lorong tunggal A320neo berkelir hijau menyala dari Bandara Internasional Domodedovo, Moskwa, ke Bandara Internasional Ulan-Ude memerlukan waktu enam jam. Artinya, jarak antara kedua kota itu sekitar 5.624 kilometer, hampir sama dengan jarak Sabang di Aceh ke Merauke di Papua.

Bagaimana jika memakai kereta api? Bisa dicoba dengan waktu tempuh seminggu penuh dengan menggunakan kereta api Trans Siberia dari Moskwa.

Itupun masih setengah waktu yang diperlukan untuk tiba di Vladivostok, Siberia Timur, apalagi sampai ke Selat Bering di perbatasan dengan Amerika Serikat di Amerika Utara. Rusia masih terdiri atas 11 wilayah waktu dari sisi barat (Kaliningrad) hingga ke timur (Deshnev di Selat Bering).

Pandangan mata menyapu sekeliling… hanya ada padang sabana yang sangat luas dengan sedikit permukiman penduduk di perumahan-perumahan lantai tunggal. Dari kejauhan masih bisa dilihat bahwa rumah-rumah itu terbangun dari kayu dengan warna-warna kusen jendela didominasi hijau dan biru.

AYO BACA: Indonesia Masuk Peringkat Ketiga Negara Tujuan Turis Tajir China

AYO BACA: Rambu Bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin Dipasang di Gunung Bromo

Di sanalah jurnalis penerbangan dari berbagai negara yang diundang Rostec melalui Russian Helicopter menuju. Ada jurnalis dari Amerika Serikat, Prancis, Brazil, Inggris, India, Rusia, dan Indonesia. Antara termasuk di dalam rombongan jurnalis dalam jumlah terbatas itu. Rombongan jurnalis ini sebelumnya meliput pameran kedirgantaraan terbesar di Eropa Timur, yaitu MAKS 2019 (Mezhdunarodnyj Aviatsionno-Kosmicheskij Salon) di Bandara Internasional Zhukovskiy, Ramenskoye, Moskwa.

Oleh pengundang, rombongan jurnalis yang hampir semuanya berusia di atas 45 tahun ini diarahkan menginap di salah satu hotel ternama di sana. Perjalanan menumpang bus dari bandara ke hotel hampir 30 menit melintas jalan-jalan lebar di kota yang dibelah Sungai Selenga.

AYO BACA : Wisata Korea Selatan: Pulau Nami di Republik Naminara

Reputasi Ulan-Ude dalam kancah aviasi Rusia dan dunia sebetulnya sangat mengakar. Citra semacam itu seolah bertentangan dengan kualitas bangunan Bandara Internasional Ulan-Ude, di mana truk-truk pengangkut bagasi warisan era perang dingin masih dioperasikan.

Di Ulan-Ude inilah satu dari lima lokasi pabrikan besar Russian Helicopter berada. Di Rusia, pemerintah membuat induk-induk BUMN sesuai sektor yang digelutinya. Di antaranya Rostec yang menjadi induk BUMN di bidang pertahahan yang juga menjadi induk Rosoboronexport (BUMN di bidang penjualan produk pertahanan) dan Rosatom, BUMN Rusia di bidang energi dan energi nuklir untuk kepentingan damai.

Setelah taklimat singkat di hotel, rombongannaik dua minibus menuju pabrikan helikopter dan pesawat terbang sayap tetap. Dari luar, manufaktur ini tidak terlihat menonjol tersamarkan beberapa kompleks bangunan lain di sana yang juga berukuran besar. Namun setelah melintasi pagar dan menuju gedung utama, aura kedirgantaraan terasa, sejurus monumen MiG-15 Fagot yang dipajang di depannya. Tulisan besar-besar berwarna merah ”To Be The Superior Is Our Work” ditatah baik dan rapi di salah satu hanggar besar.

Tanpa membuang waktu, seorang petinggi pabrikan yang bertanggung jawab soal keselamatan dan keamanan Ulan-Ude Aviation Plant (U-UAZ) kemudian menyampaikan secara tegas berbagai hal yang harus diperhatikan dan dipatuhi.

Ulen2
Satu helikopter Mil Mi-171 yang hampir jadi diuji siraman hujan buatan di hanggar produksi pabrikan Mil di Ulan-Ude Aviation Plant, Rusia, Sabtu (31/8/2019). Uji kedap air seperti ini merupakan salah satu uji penting yang menentukan kelaikan dan kehandalan operasionalisasi helikopter Mil. (Ade P Marboen/Antara Foto)***

AYO BACA: Lebaran Sapi, Tradisi Khas Warga Desa Sruni di Boyolali

AYO BACA: Wisata Trenggalek: GP Ansor Gelar Festival Balon Udara

Kekecualian untuk para jurnalis, manajemen Russian Helicopter mempersilakan semua hal untuk difoto dan direkam video, kecuali yang ditetapkan mereka. Pada praktiknya, pengawalan ketat diterapkan oleh mereka dan mereka benar: semua boleh difoto dan divideokan kecuali yang dinyatakan terlarang. Padahal sehari-hari, tak boleh ada orang di luar perusahaan itu masuk ke arena produksi begitu saja.

Tahun ini, pabrikan U-UAZ ini telah berusia 80 tahun. Sejarah mencatat, mereka tak hanya memproduksi helikopter, melainkan pesawat sayap tetap. Di antaranya pesawat tempur bermesin piston Ilyushin Il-16, Antonov An-24 Coke, Sukhoi Su-25UB Grach, Sukhoi Su-39 (Su-25TM Frogfoot), dan Mikoyan-Gurevich MiG-27M Flogger. Pabrik utama Antonov berada di Ukraina sehingga secara administratif kini berada di negara pecahan Uni Soviet itu.

Peringatan 80 tahun pabrik itu berdiri dirayakan istimewa. Di antaranya dengan penerbangan tim aerobatik pesawat terbang warisan Perang Dingin yang sebagian pilotnya adalah gadis-gadis setempat. Antara sempat menyaksikan kebolehan mereka terbang formasi dan manuver aerobatik yang rapi dan presisi.

AYO BACA : Inilah Saatnya Berwisata dengan Kepala Penuh Narasi

Di dalam museum U-UAZ, tersimpan berbagai artefak sejarah yang membangun fondasi demi fondasi kemajuan penerbangan mereka. Museum itu terdiri dari dua lantai yang lobinya mengarah langsung ke labirin dengan monumen kecil helikopter Mil Mi-8 di depan latar belakang kosmos.

Kepala Engineer U-UAZ, Sergei Solomin, dengan suaranya yang menggelegar dan mantap, memberi penjelasan awal kepada para jurnalis untuk kemudian diserahkan kepada anak buahnya. “Mengapa di sini, di Ulan-Ude, di tengah sabana ini? Karena bahan baku tersedia di sini, termasuk juga alamnya yang sesuai. Di sini ada 300 hari dengan matahari terus bersinar, penting sekali untuk industri penerbangan yang sangat terkait cuaca,” kata Solomin.

Sebagai negara dengan musim dingin sangat ekstrem bertemperatur hingga -40 derajat Celsius, kehadiran cuaca cerah adalah keniscayaan bagi industri penerbangan serupa U-UAZ ini. Selain itu, tanah yang datar tapi memiliki pegunungan di beberapa lokasi tertentu juga sangat ideal untuk menguji coba kinerja pesawat terbang dan helikopter yang dibuat.

Ulen3
Seorang teknisi mengangkat selembar pleksiglas ukuran besar setelah selesai dicetak panas dan diregangkan di mesin khusus di hanggar produksi helikopter Mil di Ulan-Ude Aviation Plant, di Ulan-Ude, Rusia, Sabtu (31/8/2019). Kanopi helikopter merupakan salah satu komponen yang penting dalam produksi helikopter, beberapa bahkan memiliki spesifikasi tahan tembakan peluru hingga kategori tertentu. (Ade P Marboen/Antara Foto)***

AYO BACA: Objek Wisata di Malang Harus Punya Merek Sendiri

AYO BACA: Situs Candi Adan-Adan Bisa Jadi Wisata Museum Kebencanaan

Solomin katakan, bahan baku yang dia maksud saat pabrik ini berdiri puluhan tahun lalu adalah kayu dan bahan tambang penyusun metal. Penguasaan metalurgi, bagi banyak negara maju, adalah satu keharusan utama karena kehadiran metal —besi di antaranya— adalah induk bagi semua industri hilir.

Di podium utama museum di lantai dua, terdapat replika pesawat terbang pertama buatan mereka, Polikarpov Po-2 Kukuruznik, dalam ukuran sebenarnya berwarna hijau tua. Sejatinya Po-2 Kukuruznik dibuat pada 1929 dan menjadi salah satu andalan produksi mereka saat itu. Kecuali mesin, roda pendarat, kabel-kabel penghubung-penguat, semua bagian pesawat terbang kursi tunggal tanpa kanopi itu terbuat dari kayu.

Pada bagian lain museum itu dipajang berbagai memorabilia yang menunjukkan pengorbanan para veteran Perang Dunia II yang memberi pijakan dalam penyempurnaan capaian kedirgantaraan mereka.

Yang menarik mata adalah kehadiran buku-buku catatan mereka, yang sebagian berisi hitung-hitungan matematik dan teoritis rancang bangun pesawat terbang. Juga ada log book penerbangan para pilot selain kursi lontar lengkap dengan helm pilot dan G-suit (baju penerbang) pada masa itu.

Jika di fasilitas produksi lain Russian Helicopter di Kazan (Republik Tatarstan), juga terdapat museum helikopter lengkap dengan monumen statik helikopter asli maka di Ulan-Ude hal serupa itu tidak ada, namun tidak berarti makna kesejarahannya berkurang.

AYO BACA: Tari Thengul: Warisan Intelektual Bojonegoro untuk Dunia

AYO BACA: Benteng Kedungcowek Calon Destinasi Wisata Baru di Surabaya

AYO BACA : UNESCO Akan Deklarasikan Kawasan Samota Jadi Cagar Biosfer

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar