Olahraga yang Baik dan Tak Baik Bagi Kesehatan

  Jumat, 06 September 2019   Rahim Asyik
Seorang anak muda sedang melatih gerakan parkour. Sebelum berolahraga, sebaiknya perhatikan dulu tahapan dan jenisnya agar berdampak positif pada kesehatan. (Pixabay)***

Olahraga tak melulu berdampak baik. Bisa saja setelah berolahraga orang jadi sakit dan bahkan menyebabkan kematian. Kalau itu yang terjadi, yang salah sebetulnya bukan olahraganya. Yang keliru adalah cara olahraganya. Agar olahraga berdampak baik, perhatikan panduan berikut ini.

OLAHRAGA SANGAT BAIK UNTUK KESEHATAN TUBUH, menjaga kebugaran, mencegah penyakit, bahkan ada kesimpulan penelitian yang mengatakan olahraga bisa menjadi obat.

Tapi berolahraga tidak sepenuhnya baik. Tidak seluruhnya menyehatkan dan juga tidak seluruhnya mencegah penyakit. Ada pula berolahraga yang memiliki dampak buruk, menimbulkan penyakit, dan bahkan hingga menyebabkan kematian.

Namun sebenarnya bukan olahraga sebagai kata kerjanya yang salah. Yang keliru adalah cara berolahraganya sehingga menjadi sia-sia atau malah menghasilkan dampak buruk bagi kesehatannya.

Sementara itu, minat anak muda untuk berolahraga pun terbilang rendah. Data Badan Pusat Statistik pada 2015 seperti dilampirkan di sini menunjukkan, hanya 27,61% warga Indonesia yang berolahraga minimal sekali dalam sepekan. Sedangkan 72% lainnya tidak rutin berolahraga.

Grafik penduduk berumur 10 tahun ke atas yang rutin berolahraga.

Dokter spesialis kedokteran olahraga dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dr Zaini K Saragih Sp.KO menerangkan, olahraga yang benar dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan pemanasan termasuk peregangan selama 5-10 menit, dilanjutkan dengan latihan inti 20-60 menit, dan diakhiri dengan pendinginan 5-10 menit.

Sebelum berolahraga orang sebaiknya memastikan terlebih dulu detak jantungnya tak lebih dari 100 degup jantung per menit (beat per minute/bpm).

Kalau orang memaksakan olahraga saat detak jantungnya di atas 100 bpm, detak jantung akan berdegup lebih kencang sehingga jantung tak akan mampu menahan beban berat yang mengakibatkan jantung berhenti atau kematian.

AYO BACA: Merek Tak Harus Logo, Tapi Bisa Berupa Citra atau Pesona Unik

AYO BACA: Angka Pernikahan Rendah, Orang China Nyaman Menjomblo

AYO BACA : Gaya Hidup Lari: Antusias Warganya, Tidak Siap Infrastrukturnya

Cara sederhana untuk mengukur detak jantung adalah dengan menghitung denyut nadi di pergelangan tangan selama 15 detik. Jumlah denyut nadi yang didapat kemudian dikalikan empat. Jika detak jantung masih di atas 100 bpm, istirahatlah lebih dulu.

Ada beberapa hal yang memengaruhi detak jantung berdegup cepat, yaitu gangguan kesehatan jantung, istirahat yang tidak cukup, dan mengonsumsi minuman berenergi.

Pantangan lain dalam berolahraga ditujukan bagi seseorang yang memiliki indeks massa tubuh melebihi 30. Cara menghitung indeks massa tubuh dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan dalam skala meter, kemudian hasilnya dibagi lagi dengan tinggi badan.

Seseorang yang indeks massa tubuhnya lebih dari 30 dilarang melakukan olahraga yang terdapat kegiatan melompat. Olahraga yang ada unsur melompatnya seperti bola basket, lompat tali, bulu tangkis, dan juga lari.

Dokter Zaini memaparkan seseorang yang berlari akan berada pada masa seluruh tubuh melayang di udara sebelum akhirnya kembali mendarat di tanah. Berbeda dengan olahraga jalan cepat di mana telapak kaki tak pernah lepas dari menginjak tanah.

Seseorang yang mendarat setelah melompat akan menghasilkan empat kali beban tubuhnya yang ditopang olah otot-otot kaki. Sementara jika orang dengan indeks massa tubuh lebih dari 30 melakukan olahraga dengan gerakan melompat akan berdampak buruk pada persendiannya. Efek jangka panjangnya, orang itu berisiko lebih tinggi menderita rematik.

AYO BACA: 7 Faktor Ini Memengaruhi Tubuh Kalau Anda Kurang Tidur

AYO BACA: Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota

Kegiatan Olahraga yang Dianjurkan

Jenis-jenis olahraga dibedakan berdasarkan tujuan untuk mendapatkan dampak yang akan dihasilkan. Secara ilmiah ada empat jenis olahraga, yakni endurance, strength, balance, dan flexibility.

Endurance berfungsi meningkatkan detak jantung. Manfaatnya untuk menjaga jantung, sistem peredaran darah, dan meningkatkan kebugaran. Strength berfungsi untuk melatih otot, balance membantu mencegah terjatuh saat beraktivitas, dan flexibility untuk melenturkan otot-otot yang tegang.

AYO BACA : Nomophobia, Ketakutan Saat Berada Jauh dari Gawai

Dokter menganjurkan masyarakat umum untuk melatih keempat jenis olahraga tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan kebugaran tubuh. Keuntungan dari memiliki tubuh yang bugar adalah memiliki stamina yang kuat, tak mudah lelah, dan tak gampang sakit.

Jenis olahraga juga dibedakan berdasarkan intensitasnya yang berhubungan dengan detak jantung per menit. Mulai dari aktivitas fisik ringan atau peregangan yang berfungsi untuk pemanasan, angkat beban untuk pembakaran lemak, aerobik atau latihan kardio untuk ketahanan tubuh, anaerobik yaitu latihan tingkat berat, dan VO2 Max yang merupakan usaha paling maksimum yang bisa dilakukan tubuh dalam

Kegiatan olahraga yang dianjurkan adalah latihan kardio atau aerobik 3 sampai 7 kali dalam sepekan selama 30-60 menit, latihan kekuatan dengan angkat beban 2 sampai 3 kali sepekan dalam waktu 15-30 menit, dan melakukan peregangan setiap hari selama 5-15 menit.

AYO BACA: 9 Cara Menjaga Anjing Anda Agar Tetap Bersih dan Harum

AYO BACA: Asal-Usul Mengompol dan Cara Mencegahnya

Latihan kardio bertujuan untuk menjaga ketahanan tubuh agar tetap bugar, olahraga angkat beban bisa membantu membakar lemak, dan membentuk masa otot untuk tubuh yang ideal. Sementara peregangan diperlukan untuk melatih kelenturan sendi-sendi tubuh.

Hasil yang didapatkan dari melakukan olahraga secara rutin minimal selama dua bulan, di mana waktu tersebut merupakan masa adaptasi tubuh dari aktivitas baru.

Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan Kartini Rustandi mengatakan, tujuan utama berolahraga adalah menjaga kebugaran dan terhindar dari berbagai penyakit. Kalau berat badan jadi ikut turun dan menjadi ideal, anggap saja sebagai bonus.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan proporsi penduduk Indonesia usia lebih dari 10 tahun yang kurang melakukan aktivitas fisik jumlahnya meningkat dari 26,1% pada 2013 menjadi 33,5% pada 2018. Peningkatan proporsi kurang aktivitas fisik tersebut seiring dengan meningkatnya prevalensi obesitas dewasa, terus naik dari tahun 2007 10,5%, 2013 14,8%, dan pada 2018 mencapai 21,8%.

Obesitas atau kegemukan erat kaitannya dengan berbagai penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes melitus, dan stroke. Padahal penyakit-penyakit itu dapat dihindari dengan memperbaiki pola makan dan berolahraga.

Zaini menyarankan, apabila belum sempat berolahraga lakukanlah berbagai aktivitas fisik seperti berjalan kaki, menyapu, mengepel, naik turun tangga, paling tidak 30 menit sehari.

AYO BACA: Kemajuan Indonesia dalam Menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca

AYO BACA : Sport-artainment: Mengawinkan Olahraga, Seni, dan Hiburan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar