Tokoh Pers Jawa Barat Dajat Hardjakusumah

  Senin, 09 September 2019   Rahim Asyik
Pasangan suami-istri Dajat Hardjakusumah dan R. Uken Kenran pada tahun 1950-an. (Sumber: Sajadah Panjang Bimbo (1998))***

Sedikit yang tahu bahwa orangtua dari grup musik Bimbo adalah sosok yang terkenal. Namanya adalah Dajat Hardjakusumah. Kalau Bimbo terkenal di bidang musik, Dajat di bidang jurnalistik. Kebiasaannya juga banyak. Bukan hanya menulis, tapi juga membuat ilustrasi. Dajat juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Jurusan Ilmu Jurnalistik di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Bandung. Tulisan ini pernah dimuat di sini.

NAMA DAJAT HARDJAKUSUMAH JELAS KALAH TENAR DARI NAMA BIMBO. Dajat adalah orangtua dari para personel grup musik legendaris itu. Namun pada masanya, Dajat adalah sosok yang penting.

Dajat Hardjakusumah (1916-1968) dikenal sebagai wartawan nasional dari Jawa Barat. Konsistensinya di jalan jurnalistik diakui banyak orang. Ajip Rosidi, Sjarif Soelaiman, Mohamad Koerdie, dan Ramadhan KH adalah sebagian orang yang menyatakan keteguhan Dajat di dunia kewartawanan.

Dalam obituari ”Dajat Hardjakusumah: Profil Seorang Wartawan” (1968), Ajip Rosidi menyatakan bahwa Dajat ”senantiasa mendahulukan kepentingan umum dan senantiasa menghormati profesinya sebagai wartawan. Dia tetap setia kepada kewartawanannya, hal yang barangkali jarang diucapkannya tetapi senantiasa diamalkannya secara konsisten.”

Sementara pernyataan Sjarif Soelaiman dan Mohamad Koerdie, yang notabene pernah menjadi mitra kerja Dajat, dimuat dalam Jagat Wartawan Indonesia (1981). Sjarif menyatakan, ”Dajat di kalangan luas dikenal sebagai wartawan yang selalu serius dan sangat disegani, karena ia tidak segan-segan membuat berita ‘pahit’ bagi berbagai kalangan; sedangkan dirinya dikenal pula sebagai wartawan yang mengambil cara hidup yang sederhana dan korek. Profesi jurnalistik baginya harus dijaga tetap ‘murni’”.

Setali tiga uang dengan Sjarif, Mohamad Koerdie menyebutkan, ”Dajat Hardjakusumah seorang yang serius dan correct. Seorang yang berkarakter, dan karenanya biasa menilai orang lain, tidak sebagaimana lazimnya sesuai kedudukan (kekuasaan) atau kekayaannya dan sebagainya; tetapi sesuai sifat kepribadiannya. Tajam dan mendalam pengamatannya terhadap sesuatu hal”.

Sementara Ramadhan KH yang pernah menjadi bawahan Dajat mengenangnya (Sajadah Panjang Bimbo, 1998) dalam konteks sebagai ayah bagi anggota grup musik Bimbo. Antara lain Ramadhan menyatakan, ”begitu tampak di papan kenangan saya, orang saleh yang sepertinya tak ada cacatnya dalam hidupnya bagi saya, Kang Dajat Hardjakusumah, atasan saya, pembimbing saya, guru saya, sahabat saya, teman sependeritaan, semasa saya menjadi wartawan kantor harian Antara.”

AYO BACA: Pengalaman Terbang dan Mendarat di Bandara Kertajati di Jawa Barat

AYO BACA: Keribetan yang Harus Disiapkan Kalau Ibu Kota Negara Pindah ke Kalimantan

Belajar Ilmu Hukum, Kepincut Ilmu Sosial

Dajat Hardjakusumah lahir di Cimahi, pada 15 Desember 1916. Ayahnya R. Jusra Hardjakusumah, wedana di Cimahi dan kakeknya R. Hardjawinata, pernah menjadi patih Sumedang. Sebagai wedana Cimahi, ayahnya pernah dianugerahi oleh pemerintah kolonial pada 7 Januari 1928, karena berjasa saat penanganan pemberontakan PKI pada 1926 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 5 Januari 1928). Kemudian ia diberi gelar ”demang” pada 3 Agustus 1931. Sebelumnya bergelar Raden Rangga Hardjakusumah (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20 Oktober 1931).

Dajat mula-mula menempuh pendidikan dasar di sekolah Eropa (ELS). Kemudian melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, SMP) di Bandung. Ia selesai AMS (Algemeene Middelbare School, SMA) Oosterse Literaire Afdeling (A) di Yogyakarta, pada 1937. Di masa ini, dia aktif dalam JIB (Jong Islamieten Bond) dan mulai menulis karena memimpin majalah sekolah.

Untuk pendidikan tingginya, mula-mula ia memasuki RHS (Rechtshoogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta hingga mencapai kandidat dua. Menurut Bataviaasch Nieuwsblad edisi 19 Agustus 1939, Dajat bersama-sama dengan Mej. A. Siem Giok Nio, R. Koerdi Soemintapoera, dan R. Hari Niharto lulus dari ujian kandidat pertama. Di RHS dia bersamaan dengan Sjafruddin Prawiranegara dan Prawoto Mangkusasmito. Sjafruddin adalah kakak kelasnya sekaligus mentornya.

Di dalam Sajadah Panjang Bimbo disebutkan alasan Dajat tidak menamatkan belajar hukum. Konon, ”Ia sering berbeda pendapat dengan dosen-dosennya yang orang Belanda. Dajat yang mengelola buletin kampus selalu saja protes, bahkan mencaci maki mereka lewat tulisan. Karena itu, akhirnya ia hengkang dari RHS”.

Dajat kemudian masuk Fakultas Sastra (Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte) yang didirikan pada 1940. Menurut De Indische Courant edisi 31 Mei 1941 dan Soerabaijasch Handelsblad edisi 3 Juni 1941, Dajat lulus ujian Propaedeutisch dalam ilmu sosial.

Beberapa bulan setelah lulus ujian Propaedeutisch, Dajat menikahi R. Uken Kenran pada 13 Juli 1941. Uken adalah anak sulung R. Karmus Atmadinata, mantri polisi. Dari pernikahan ini lahir tiga anak laki-laki, dan empat anak perempuan, yaitu Samsudin atau Sam (1942), Darmawan atau Acil (1943), Connie (1945), Jaka Purnama alias Eki (1947), Satiyani atau Yani (1949), Agustina atau Tina (1950), dan Parlina atau Iin (1952).

Ketika menikah, Dajat masih tinggal di Jakarta. Selain kuliah, Dajat bekerja sebagai wartawan sambil belajar bahasa asing secara autodidak. Pasangan ini tinggal di rumah kontrakan. Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942, pendidikan Dajat di Fakultas Sastra terhenti.

AYO BACA: Lebaran Betawi: Cara Betawi Mencintai Keberagaman Indonesia

AYO BACA : Sejarah Kebun Binatang Bandung Tahun 1930-an

AYO BACA: Wartawan di Balik Kisah Nyata Sinetron ”Sayekti dan Hanafi"

Dajat4

Contoh ilustrasi buku karya Dajat Hardjakusumah. (Sumber: buku Toko Pakaian "Kurnia")***

Dari Koran Tjahaja ke Kantor Berita Antara

Dajat Hardjakusumah pulang ke Bandung dan bekerja sebagai wartawan harian Tjahaja yang dipimpin oleh Oto Iskandar di Nata dengan Pemimpin Redaksi A. Hamid dan kemudian Bratanata. Dalam Pers di Indonesia di Zaman Pendudukan Jepang (1980), Dajat tercatat sebagai wartawan berumur 28 tahun, yang bekerja dengan awak redaksi Tjahaja sejumlah 21 orang termasuk dirinya. Selain Oto, Hamid, dan Bratanata, kawan bekerja Dajat antara lain Djamal Ali, Atje Bastaman, Niti Soemantri, Mohamad Koerdie, Tabrani, dan Koko Koswara (Mang Koko).

Saat bekerja sebagai wartawan Tjahaja, Dajat menyewa rumah kecil di daerah Ciateul. Dari situ, ia pindah lagi kontrakan ke Gang Twisel, Jalan Balonggede. Ketika Jepang kalah perang, Tjahaja diubah oleh wartawan prorepublik menjadi Soeara Merdeka. Dajat pun ikut bergabung. Ketika Bandung diduduki Sekutu dan Belanda (NICA), Soeara Merdeka dibawa mengungsi ke Tasikmalaya oleh jajaran redaksinya.

Di Tasikmalaya, Dajat sekeluarga menempati rumah di Jalan Sukawarni, milik pengusaha Omo Darma. Karena Tasikmalaya diserang NICA, Dajat dan wartawan lainnya mengungsi dan tinggal di Kampung Guha, Leuwibudah, selama sekitar tujuh bulan. Saat di pengungsian, Soeara Merdeka tidak bisa terbit dan penggantinya adalah buletin sederhana yang dibagikan kepada masyarakat. Salah seorang penyebar buletin itu adalah tentara pelajar Mochtar Kusumaatmadja. Selain sebagai wartawan, Dajat menjadi guru di salah satu sekolah di pengungsian. Saat itu bersama-sama tinggal dengan M.O. Koesman.

Setelah Perundingan Renville (1948), Dajat kembali ke Bandung dan bekerja pada Harian Indonesia yang republikein bersama dengan Mohamad Koerdie. Setelah kembali lagi ke Bandung, keluarga Dajat menyewa rumah di Jalan Pungkur.

Awal 1949, Dajat bersama beberapa kawannya berhenti dari Harian Indonesia. Ia dan Sjarief Sulaeman kemudian mendirikan kantor berita lokal Pewarta Nasional (Pena). Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada 1950, atau masih di tahun 1949, Pena bergabung dengan ”Antara” yang berpusat di Jakarta. Surat keputusan dan pengangkatan ditandatangani Adam Malik, yang menjabat direktur Antara.

Bersama-sama dengan Mohamad Koerdie, Atje Bastaman, Achmad Sarbini, Sjarief Sulaiman, M.O. Koesman, Rochdi Partaatmadja, M. Royani, Chaidir Ghazali, Sakti Alamsyah, Moh. Kendana, Djamal Ali, AZ Palindih, R. Bratanata dan Burhanudin Ananda, Dajat ikut merintis pembentukan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Cabang Bandung pada awal tahun 1950.

AYO BACA: Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota

AYO BACA: Kemajuan Indonesia dalam Menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca

Menurut pemberitahuan Direksi K.B. ANTARA DJAKARTA dalam harian AID De Preangerbode edisi 24 April 1951, sejak 23 April 1951, Sjarief dan Dajat bertanggung jawab terhadap keberlangsungan ”Antara” Bandung menggantikan Moh. Adam, yang dipindahkan ke Jakarta. Berikut kutipan lengkapnya:

”Mulai hari Senen tg. 23 April 1951 Sdr. Moh. ADAM dari „Antara” Bandung dipindahkan ke Djakarta dan dibebaskan dari segala pekerdjaan serta kewadjibannja sebagai orang „Antara” di Bandung. Jang bertanggung djawab terhadap segala urusan jang mengenai „Antara” Bandung mulai dari tanggal tersebut ialah Sdr. Sj. Sulaiman dan Dajat Hardjakusumah. Kami harapkan supaja semua pihak jang mempunjai kepentingan terhadap „Antara” berhubungan dengan Sdr. Sulaiman dan Dajat tsb”.

Selain di dunia kewartawanan, Dajat menjadi guru pada beberapa sekolah lanjutan, termasuk SMA negeri, untuk mengajarkan pelajaran sejarah dan bahasa asing. Dua orang di antara murid Dajat adalah sastrawan Sunda Rahmatullah Ading Affandi (RAF) dan Olla S. Sumarnaputra.

Walhasil, sebagaimana yang tertulis pada Almanak Pers Indonesia (1954), riwayat Dajat hingga 1954, dapat diringkas sebagai berikut: ”Staf redaksi kantor berita ANTARA cabang Bandung merangkap guru SMA Negeri. Pendidikan C II Rechtshoogeschool, Faculteit Letteren en Wijsbegeerte Jakarta. Dalam jurnalistik sejak 1942; harian Tjahaja 1942-1945, harian Suara Merdeka (Bandung) 1945-948, Harian Indonesia 1948-1949; kantor berita ANTARA mulai 1949”.

Dajat3

AYO BACA : Korupsi Jalan Terus, Bagaimana Menghentikannya?

Dajat Hardjakusumah saat menjabat sebagai Kepala Redaksi Ekonomi KB Antara. (Sumber: Sajadah Panjang Bimbo (1998))***

Sebagai wartawan ”Antara”, Dajat pernah mengikuti kegiatan liputan di luar negeri, antara lain ke Rangoon, Amsterdam, Jepang, dan New York. Pada 1952, Dajat ikut Goodwill-Misi Republik Indonesia ke Rangoon (Burma), sesuai dengan Kepres No. 46 Tahun 1952. Misi antara 25 Februari 1952 hingga 6 Maret 1952 ini diketuai oleh Dr. J. Leimena (Menteri Kesehatan), sementara Dajat bersama Rosihan Anwar (wartawan Pedoman), Mochtar Lubis (wartawan Indonesia Raja), dan Henk Rondonuwu (pemimpin Pedoman Rakjat Makasar) menjadi pewartanya. Oleh PWI Pusat, Dajat sempat ditugaskan meliput di markas besar PBB di New York selama 6 bulan pada 1953. Dengan demikian, Dajat tercatat sebagai wartawan Indonesia pertama yang meliput Sidang Umum PBB di New York.

Budaya Sunda, Jurnalistik, dan Akhir Hayat Dajat Hardjakusumah

Lapangan kebudayaan Sunda pun tidak lepas dari perhatian Dajat. Misalnya, pada 1955, ia diminta memberikan ceramah tentang ”Fungsi Sosial Basa Sunda” oleh studi klub LBSS (Lembaga Basa jeung Sastra Sunda). Makalahnya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ajip Rosidi dan dimuat dalam majalah Indonesia edisi 12 (Desember 1956).

Tahun 1956, Dajat ikut dalam Kongres Pemuda Sunda, bahkan menjadi salah seorang narasumbernya. Bersama dengan Suchjar Tedjasukmana, ia menyampaikan ihwal kehidupan sosial ekonomi urang Sunda, terutama tentang kehidupan masyarakat pedesaan di Jawa Barat yang mengalami desintegrasi sosial luar biasa sejak zaman Jepang hingga gangguan DI-TII. Selain itu, Dajat bersama-sama dengan Ajip, B.S. Poeradisastra, Ramadhan KH, Apit S.K., Utuy T. Sontani, dan Olla menandatangani minderheidsnota alias nota keberatan atas kesimpulan hasil Kongres Pemuda Sunda.

Pada 1957, bersama Rosihan Anwar, Wonohito, dan Henk Rondonuwu, Dajat terlibat dalam Seminar Pers Pertama yang diselenggarakan Lembaga Pers dan Pendapat Umum di Tugu, Jakarta, pada 24-26 Juli 1957 (Het Nieuwsblad voor Sumatra edisi 1 November 1957). Yang menjadi pokok perbincangan seminar tersebut adalah pers daerah. Sebagaimana terbaca dalam Kedudukan Pers Daerah: Empat Referat dengan Diskusi (1957), Dajat menyampaikan referat berjudul ”Apa sumbangan Kantor Berita kepada Pers Daerah?”

Dalam buku Seperempat Abad Universitas Padjadjaran (1982), Dajat juga tercatat sebagai salah seorang pendiri jurusan jurnalistik di Unpad. Hal ini terlihat dari pembentukan panitia yang diketuai oleh Moestopo pada 30 Mei 1960 untuk mendirikan Pendidikan Tinggi Publisistik. Pada 6 September 1960 terbit SK Ketua Yayasan Pembina Unpad tentang pembukaan Fakultas Jurnalistik dan Publisitik, yang secara resmi dibuka pada 18 September 1960 dengan diangkatnya Moestopo sebagai dekannya. Dajat kemudian bahkan menjadi dosen pada fakultas baru ini.

Dalam Kongres PWI di Makassar tahun 1961, Dajat, Atje Bastaman dan Sakti Alamsyah sebagai utusan PWI Cabang Bandung menyatakan bahwa PWI harus tetap mandiri untuk menandingi suara-suara yang didominasi pihak komunis. Suara-suara ke arah kiri itu kian dominan dalam Kongres PWI di Jakarta pada 1963.

AYO BACA: Olahraga yang Baik dan Tak Baik Bagi Kesehatan

AYO BACA: Menengok Pabrik Helikopter Rusia di Ulan-Ude

Pada 1965, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ajip dalam ”Ramadhan KH dan Dayat Hardjakusumah” (2002) dan Hidup Tanpa Ijazah (2008), Dajat bersama Ramadhan terkena fitnah sehingga tiga minggu ditahan akibat tuduhan menerima kunjungan ketua PWI Pusat A. Karim D.P. dan Sekjen PWI Pusat Satyagraha yang pada 2 Oktober 1965 mencoba melarikan diri ke Bandung. Meskipun Dajat dan Ramadhan segera dibebaskan setelah diketahui mereka tidak bersalah, tapi posisi Dajat tidak dapat kembali seperti semula. Ia sempat ditawari menjadi wakil Antara di New York atau Bonn, tetapi keduanya ditolak.

Akhirnya Dajat menerima tawaran untuk menjadi Kepala Redaksi Ekonomi di Antara Pusat di Jakarta pada 1967. Selama bekerja di Jakarta, Dajat menginap di kantor perwakilan Penerbit Ganaco di Jalan Garut, karena bersahabat dengan pemiliknya, Oejeng Soewargana. Setiap Kamis siang atau Jumat siang ia kembali ke Bandung menggunakan kereta api dan hari Senin ia berangkat ke Jakarta lagi.

Pada malam Jumat, 27 September 1968, Dajat bersua akhir hayatnya. Saat itu, ia sedang menyiapkan makalah untuk pertemuan wartawan ekonomi se-Asia di Tokyo pada Oktober 1968. Makalahnya adalah ”A Sketch of an Indonesian Rural Man Type” dan ”An Angle on Economic Cooperation”.

Semasa hidupnya, selain bergelut dan bergulat di dunia kewartawanan, termasuk pernah menjadi ketua PWI Cabang Bandung selama beberapa periode, Dajat menekuni bidang kepenulisan lainnya, yakni penerjemahan, menggambar ilustrasi, dan menulis buku. Bekal terjemahannya adalah kemampuannya berbahasa asing, yakni Belanda, Inggris, Jerman, dan Prancis. Salah satu hasil terjemahannya adalah buku karya JFH. ALB de La Court, berjudul Soal Indonesia (Pusaka, 1948).

Kemudian hasil membuat ilustrasinya dapat ditengok dalam buku Perdagangan Pertengahan karangan Oejeng S. Gana (1950, Ganaco), buku tipis berbahasa Sunda Toko Pakaian ”Kurniakarya Oejeng S. Gana (Pusaka), dan Minangkabau Tanah Adat karya Nj. L.Tjahaja (Penerbit Ganaco, 1958). Sementara buku yang ditulisnya sendiri, antara lain, bertajuk Kalamsjah Mengedjar Kabar (Penerbit Ganaco) dan Pengantar untuk Job Training Jurnalistik (1961).

Nama Dajat Hardjakusumah sebagai wartawan nasional dari Jawa Barat jarang dikenal orang, apalagi dalam kapasitasnya sebagai penerjemah, ilustrator, dan penulis buku. Tentu saja, untuk mengenalnya kembali diperlukan upaya penyelusuran rekam jejaknya, sehingga didapatkan gambaran yang jelas. Barangkali tulisan ini bisa sedikit banyak termasuk ke dalam upaya tersebut.

ATEP KURNIA, Peminat Sejarah dan Budaya Sunda

AYO BACA: Sport-artainment: Mengawinkan Olahraga, Seni, dan Hiburan

AYO BACA: Gaya Hidup Lari: Antusias Warganya, Tidak Siap Infrastrukturnya

AYO BACA : ​Nomophobia (No Mobile Phone Phobia), Ketakutan Saat Berada Jauh dari Gawai

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar