Cerita-cerita Unik di Balik Aturan Ganjil-Genap

  Selasa, 10 September 2019   Rahim Asyik
Polisi menghentikan mobil berpelat nomor genap yang memasuki Jalan Salemba Raya, di Matraman, Jakarta, Senin (9/9/2019). Polisi mulai memberlakukan penindakan berupa tilang terhadap pengendara mobil yang melanggar di kawasan perluasan sistem ganjil-genap. (Galih Pradipta/Antara Foto)***

Hasil evaluasi terhadap pelaksanaan perluasan aturan ganjil-genap di DKI Jakarta menyisakan sejumlah cerita unik. Di samping nilai positifnya menurunkan tingkat polutan di ibu kota dan mempercepat laju kendaraan, tak sedikit yang mengeluhkan aturan ganjil-genap ini.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- Tepat di tanggal cantik 9 September 2019 aturan ganjil-genap secara resmi berlaku. Polda Metro Jaya mencatat, 941 mobil ditilang saat eksekusi perdana aturan perluasan ganjil-genap di 5 wilayah DKI Jakarta. Jumlah itu dapat bertambah mengingat 941 itu merupakan data awal Senin (9/9/2019) pagi.

Banyak kisah unik yang muncul selama pelaksanaan perdana perluasan ganjil-genap di 25 ruas jalan yang tersebar di Jakarta. Sebagai contoh, masih banyak pegawai negeri dan aparat yang melanggar aturan. Padahal sosialisasi sudah dilakukan selama sebulan oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Di Jakarta Timur, petugas Dinas Perhubungan menemukan aparat berseragam polisi dengan sengaja melewati jalan yang terimbas aturan ganjil-genap meski telah diperingatkan oleh petugas.

Ada juga pembagian bunga mawar kepada pengguna angkutan umum di Jakarta Utara. Warga yang naik angkutan umum di Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta Utara, misalnya mendapatkan setangkai bunga mawar merah dari Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara. Mawar diberikan untuk mengapresiasi warga yang lebih memilih angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi.

”Kami mengharapkan masyarakat bisa memanfaatkan moda transportasi angkutan umum yang sudah ada seperti Jak Lingko, Transjakarta, bajaj, dan lainnya,” kata Kepala Suku Dinas Jakarta Utara Benhard Hutajulu.

AYO BACA: Yang Tersisa dari Kebakaran Besar di Kampung Batik Manggarai

AYO BACA: Gaya Hidup Lari: Antusias Warganya, Tidak Siap Infrastrukturnya

Banyak Alasan Pengemudi Agar Tak Sampai Ditilang

Walaupun banyak yang diapresiasi dengan setangkai mawar, pekerjaan rumah Sudin Perhubungan Jakarta Utara masih banyak mengingat wilayah Jakarta Utara merupakan kawasan yang paling banyak menyumbangkan pelanggar aturan perluasan ganjil-genap di hari pertama. Tercatat, mobil yang ditilang mencapai 251 unit.

AYO BACA : Urbanisasi Berkelanjutan Bukan Pilihan, Tapi Keharusan

Perluasan

Petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyosialisasikan perluasan aturan ganjil-genap di Jalan Suryopranoto, Jakarta Pusat, Senin (12/8/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan uji coba perluasan dan memperpanjang durasi sistem pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan nomor polisi ganjil dan genap di 16 ruas jalan tambahan hingga 6 September selama Senin-Jumat dari pukul 06.00-10.00 serta pukul 16.00-21.00 WIB. (Aditya Pradana Putra/Antara Foto)***

Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Metro Jakarta Utara AKBP Agung Pitoyo menyebutkan berbagai alasan disampaikan oleh pengendara yang melanggar aturan perluasan ganjil-genap, mulai dari tidak tahu aturannya, belum ada sosialisasi, minim rambu-rambu lalu lintas hingga alasan ingin cepat sampai ke tujuan. ”Alasan mereka beragam, kita sudah melakukan sosialisasi jauh hari dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas di sejumlah titik, masih ada yang melanggar bisa jadi lalai dan abai dengan aturan,” kata Agung.

Tidak hanya di wilayah Jakarta Utara, hal serupa terjadi di empat wilayah lainnya di DKI Jakarta lainnya. Para pelanggar seakan punya alasan mengapa melanggar aturan ini. Contohnya seperti yang diakui oleh Soedarjono yang merasa tak pernah mendapatkan sosialisasi mengenai aturan perluasan ganjil-genap di Jalan Tomang Raya, Jakarta Barat, selama sebulan terakhir.

Pria yang berkantor di jalan yang terimbas aturan perluasan ganjil-genap itu mengaku tak pernah melihat langsung petugas Dinas Perhubungan maupun Satuan Polisi Lalu Lintas melaksanakan sosialisasi di jalan. Apalagi tak ada informasi ganjil-genap yang tampak jelas sebelum keluar dari pintu tol.

Hal serupa juga diakui oleh Syarifah. Mobil Syarifah dihentikan petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta lantaran berpelat nomor genap. Syarifah diminta untuk putar balik saat hendak melewati Jalan Pramuka di Jakarta Timur. ”Saya biasa melintas di sini sebulan terakhir tidak pernah distop. Ini persoalan komunikasi dua arah yang tidak baik,” kata Syarifah.

Berbeda dengan Soerdajono yang langsung ditilang saat melintasi daerah Tomang Raya, Syarifah hanya mendapatkan peringatan dari petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Syarifah tetap memaksakan mobilnya melewati jalur ganjil-genap.

Selain masalah sosialisasi, rambu peringatan kawasan ganjil-genap yang kurang besar turut menjadi alasan pelanggaran. Nurdin contohnya. Nurdin mengaku tak tahu kalau dia sudah melintasi jalur ganjil-genap karena rambu peringatan kawasan ganjil-genapnya terlalu kecil. ”Saya tidak tahu kalau di sini diberlakukan juga ganjil-genap. Seharusnya petugas pasang rambunya yang besar, jadi kelihatan dari jarak jauh. Ini kan tulisannya kecil-kecil,” kata Nurdin kepada petugas Dishub yang bertugas.

AYO BACA: Lebaran Betawi: Cara Betawi Mencintai Keberagaman Indonesia

AYO BACA : Deteksi Kandungan Boraks dan Formalin dengan Bunga Kencana Ungu

AYO BACA: Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota

Aturan Ganjil-Genap Turunkan Volume Polutan Sebanyak 9%

Semula, aturan perluasan ganjil-genap merupakan langkah pemerintah Dinas Perhubungan DKI Jakarta untuk menurunkan tingkat polusi udara di Jakarta. Datanya, 80% polusi udara di Jakarta berasal dari gas buang emisi kendaraan bermotor.

Hasil uji coba memang menunjukkan perbaikan. Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo, kondisi udara Jakarta membaik saat sosialisasi ganjil-genap berlangsung mulai tanggal 12 Agustus hingga 6 September lalu. Syafrin mengatakan telah terjadi penurunan volume polutan sebanyak 9% berdasarkan pos pemantau udara PM (Partikulate Meter) 2.5 di Bundaran HI dan Kelapa Gading. Ia mengatakan udara Jakarta tergolong dalam kategori baik karena berada di bawah 65 µg/m⊃3;.

Polusi

Pemandangan gedung-gedung bertingkat berselimut kabut polusi udara terlihat dari ketinggian di Jakarta, Jumat (9/8/2019). Untuk menekan tingkat polusi udara di ibukota, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerbitkan Instruksi Gubernur tentang Pengendalian Kualitas Udara dengan strategi antara lain perluasan aturan ganjil-genap, peralihan ke moda transportasi umum, dan mengoptimalkan penghijauan. (Aditya Pradana Putra/Antara Foto)***

Imbas positif lainnya, kata Syafrin, kecepatan kendaraan pun bertambah di daerah yang terimbas aturan perluasan ganjil- genap. Kalau semula kecepatannya 25,56 km/jam, kemudian meningkat di kisaran 28,03 km/jam atau naik 9,25%.

Walaupun demikian, pelanggaran masih saja terjadi dengan alasan belum terjamah sosialisasi dan ukuran rambu yang kelewat kecil.

Keluhan terakhir itu dikonfirmasi oleh Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur dan dijadikan sebagai bahan untuk perbaikan. ”Saya sedang buat laporan evaluasi dari penerapan sanksi hari pertama ganjil-genap di empat ruas jalan Jakarta Timur. Memang ada keluhan dari pengendara bahwa huruf dari rambu terlalu kecil,” kata Kepala Seksi Lalu Lintas Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur Andreas Eman mengenai keluhan rambu lalu lintas kawasan ganjil-genap di daerah Jakarta Timur.

AYO BACA: Pemindahan Ibu Kota Negara, Spekulan Tanah, dan Orang Kaya Baru

AYO BACA: Keribetan yang Harus Disiapkan Kalau Ibu Kota Negara Pindah ke Kalimantan

AYO BACA : Mereka yang Jadi Cahaya Bagi Kucing Liar

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar