Pria Muda Lebih Rentan Bunuh Diri Ketimbang Perempuan

  Selasa, 10 September 2019   Rahim Asyik
Pria muda lebih rentan bunuh diri ketimbang pria dewasa ataupun perempuan muda. Salah satu penyebabnya karena pria cenderung memendam masalahnya. (Ilustrasi dari Pixabay)***

Hasil survei yang dilakukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, pria muda lebih rentan bunuh diri ketimbang pria dewasa dan perempuan muda. Salah satu alasannya adalah karena pria muda lebih cenderung memendam masalahnya ketimbang perempuan. Bunuh diri bisa dilihat gejalanya dan karenanya bisa dicegah.

DOKTER SPESIALIS KESEHATAN JIWA menyebutkan bahwa pria muda lebih rentan memiliki untuk keinginan bunuh diri ketimbang perempuan. Alasannya, pria lebih cenderung memendam masalah ketimbang perempuan.

”Ketika seorang perempuan mengalami beban dalam hidupnya, dia cenderung mencari teman untuk sampaikan keluh kesah. Kalau pria tidak,” kata Dian Pitawati, dokter kesehatan jiwa dari RSUP Fatmawati di Jakarta, Senin (9/9/2019).

Dian juga menyebutkan, pria muda memiliki risiko lebih besar untuk bunuh diri ketimbang pria dewasa. Hal itu selaras dengan data, bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor 10 bagi pria dewasa. Bandingkan dengan pria muda dalam rentang usia 10-24 tahun, bunuh diri menjadi penyebab kematian di urutan dua.

Dilihat dari mudanya usia pria yang berkeinginan bunuh diri, atau usia anak-anak yang masih dalam pola asuh orangtua, Dian mengatakan, tingkatan stres pada anak justru datang dari orangtua. ”Pola asuh orangtua yang kurang asertif dalam mendidik anak, kurang memberikan pujian, kurang memberikan apresiasi, sehingga anak merasa dirinya tidak berguna dan tidak bisa memberikan suatu penghargaan kepada orangtuanya,” kata Dian.

Selain itu sikap orangtua yang membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain juga membuat anak yang cenderung rapuh akan terlukai perasaannya.

Pria yang memasuki usia dewasa muda hingga 24 tahun juga dinilai mudah depresi manakala cita-cita dan idealismenya tidak tercapai.

Bundir4

Menurut Dian, bunuh diri disebabkan oleh faktor-faktor seperti biologis, psikologis, sosial, kultural, dan spiritual. Biologis yaitu kondisi medis seseorang merasa putus asa atau ada faktor genetik lain. Faktor psikologis yaitu gangguan mental. Faktor sosial seperti kurang dukungan, secara kultur atau budaya yang mempengaruhi keinginan melakukan bunuh diri. Sementara faktor spritual yaitu di mana semakin rendah spiritualitas orang akan semakin orang itu berkeinginan mengakhiri dirinya.

Data Badan Kesehatan Dunia menyebutkan jumlah kasus kematian akibat bunuh diri dunia saat ini mencapai 1,8 per 100.000 kejadian. Angka itu ditaksir akan naik pada 2020 menjadi 2,4 per 100.000 kejadian.

AYO BACA: Inilah Ukuran Kawin Kontrak Masuk Kategori Prostitusi

AYO BACA : Pengalaman Para Mahasiswa Mantan Pencandu Narkoba

AYO BACA: Inilah Pendapat Para Pakar dan Ulama tentang Kawin Kontrak

Cegah Bunuh Diri, Kenali Tanda-tandanya

Dian Pitawati menganjurkan masyarakat untuk mencegah sesegera mungkin orang yang ingin bunuh diri dengan mengenali tanda-tandanya.

Orang yang berkeinginan untuk bunuh diri, kata Dian, bisa dilihat dari adanya perubahan sikap yang drastis. ”Sebenarnya mudah. Lihat teman kita yang sudah ada perubahan mood, cenderung sedih, sering menangis, menarik diri, mudah marah, agresivitas yang belum pernah kita lihat sebelumnya,” kata Dian.

Selain itu, kata dia, perhatikan pula ide-ide lain yang berkaitan dengan bunuh diri atau keputusasaan seperti lebih senang memegang pisau atau menulis surat dan pesan-pesan yang sifatnya putus asa.

Sebagai seorang teman atau keluarga yang paling dekat dengan seseorang seperti demikian, kata Dian, hendaknya jangan menuduh orang itu kurang keimanan dan menyuruhnya untuk rajin beribadah. Hal yang harus dilakukan adalah mendampinginya dan mendengarkan keluhannya untuk mengurangi beban orang tersebut hingga depresinya berkurang.

”Kalau masalah yang dihadapi cukup berat, sebaiknya ditemani untuk datang ke tenaga medis agar mendapat penanganan segera,” kata Dian.

Bundir2

Ia tidak menampik bahwa di era teknologi di mana seseorang bebas mengekspresikan dirinya di internet, seseorang yang tengah depresi juga memungkinkan untuk menyuarakan isi hatinya di media sosial. Kalau melihat kondisi seperti demikian, Dian menyarankan agar warganet yang mengetahui hal tersebut memberikan informasi mengenai lembaga atau organisasi yang memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan jiwa.

”Hotline maupun LSM yang peduli terhadap kesehatan jiwa sudah ada banyak seperti Peduli Remaja Indonesia, Into The Light, dan lain-lain,” kata Dian.

AYO BACA : Jangan Biarkan Anak Belajar tentang Seks dari Temannya atau Internet

AYO BACA: Olahraga yang Baik dan Tak Baik Bagi Kesehatan

AYO BACA: Sport-artainment: Mengawinkan Olahraga, Seni, dan Hiburan

Setiap 40 Detik, 1 Orang Melakukan Bunuh Diri

Data WHO menunjukkan, setiap 40 detik satu orang di dunia melakukan bunuh diri atau lebih banyak orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya dibandingkan dalam perang.

Menggantung diri, minum racun dan penembakan adalah bentuk bunuh diri paling umum. ”Bunuh diri adalah masalah kesehatan masyarakat global. Seluruh usia, jenis kelamin, dan wilayah dunia terpengaruh (dan) setiap kehilangan adalah satu terlalu banyak,” kata WHO seperti dikutip Reuters dan dilaporkan Antara di Jakarta, Senin (9/9/2019) malam.

Bunuh diri adalah penyebab utama kedua kematian di kalangan pemuda yang berusia antara 15 dan 29 tahun, setelah kecelakaan di jalan. Di kalangan remaja putri berusia 15 sampai 19 tahun, bunuh diri adalah pembunuh terbesar kedua setelah saat kelahiran. Pada remaja lelaki, bunuh diri menempati posisi ketiga di belakang luka di jalan dan kekerasan antarmanusia.

Secara keseluruhan, hampir 800.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Angka itu lebih banyak daripada orang yang tewas akibat malaria atau kanker payudara, atau akibat perang atau pembunuhan. Angka itu mengalami penurunan 9,8% antara 2010 dan 2016. Namun pada periode yang sama, angka bunuh diri malah naik sampai 6% di Amerika.

Bundir3

Laporan itu juga mendapati hampir 3 kali lebih banyak lelaki dibandingkan perempuan tewas akibat bunuh diri di negara kaya. Sedangkan di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah, angkanya sama.

”Bunuh diri bisa dicegah,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. ”Kami menyeru semua negara agar menggabungkan strategi pencegahan bunuh diri yang terbukti menjadi program pendidikan dan kesehatan nasional.”

Caranya, kata WHO, dengan membatasi akses orang ke pestisida. Pestisida paling umum digunakan dan biasanya mengakibatkan kematian sebab zat itu sangat beracun, tidak memiliki penangkal, dan sering digunakan di daerah terpencil. WHO menunjuk kepada studi di Sri Lanka, tempat larangan atas pestisida telah membawa kepada penurunan 70% pada angka bunuh diri dan memperkirakan 93.000 nyawa diselamatkan antara 1995 dan 2015.

AYO BACA: Kominfo Tangguhkan 3 Video Vulgar Kimi Hime

AYO BACA: Plastik Oxo Beda dengan Bioplastik dari Singkong Asli

AYO BACA : Gaya Hidup Lari: Antusias Warganya, Tidak Siap Infrastrukturnya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar