Wamena, Permata dari Pegunungan Papua

  Jumat, 04 Oktober 2019   Rahim Asyik
Warga Desa Jiwika sedang memeragakan cara mengambil garam dengan pelepah pisang di kolam alam Iluagimo. (Iswan BM)***

Laut, lembah, dan pegunungan yang membentang dari barat ke timur Papua adalah permata yang sangat berharga. Salah kelola akan menyebabkan permata itu jadi bahan sengketa tak berujung. Tulisan diambil dari sini.

SEKIRA 500 KILOMETER DATARAN TINGGI MEMBENTANG dari barat ke timur di tengah Pulau Papua. Dataran tinggi ini terbagi jadi tiga pegunungan yang masing-masing puncaknya jadi yang tertinggi di Indonesia. Di paling barat pegunungan Jaya Wijaya, ada Puncak Jaya atau Carstenz Pyramid yang tingginya 4.884 meter di atas permukaan laut. Di bagian tengah, ada Pegunungan Tengah dengan puncak bernama Trikora atau Wilheminatop (4.750 mdpl). Sedangkan di paling timur, dekat dengan perbatasan Papua Nugini, ada Pegunungan Bintang dengan nama puncaknya Mandala atau Julianatop (4.760 mdpl).

Wamena terletak di sebuah lembah di Pegunungan Tengah. Dulu orang mengenalnya dengan nama Lembah Baliem. Walaupun lembah, letaknya sebenarnya lumayan tinggi, yakni 1.600-1.800 mdpl. Bandingkan dengan Gunung Tangkubanparahu di Jawa Barat yang tingginya 2.084 mdpl.

Tak heran kalau cuacanya sejuk di kala siang hari dan cukup dingin di malam hari. Saat pertama kali ke Wamena tahun 2012, Bandara Wamena masih darurat. Pintu X-ray tak berfungsi dan minim pemeriksaan. Terasa kurang aman untuk turis. Saat itu seorang turis asing berkelakar, ”kita bahkan bisa membawa nuklir ke dalam pesawat”. Akan tetapi kunjungan pertama itu membuat saya terkesan. Saya akhirnya balik lagi dan balik lagi ke sana.

Gunung

Puncak Trikora dipotret dari pinggiran Wamena. (Iswan BM)***

Banyak wilayah lain di sepanjang Pegunungan Tengah dan Pegunungan Bintang yang belum terekspose potensinya. Ibaratnya, masih berupa permata dalam batu. Wamena adalah batu permata yang baru digosok tapi belum diukir indah. Selain pemandangan Lembah Baliem, keaslian kehidupan penduduk setempat adalah daya tarik utama dan tentu saja itu termasuk tampilan kebudayaan dan adat istiadat mereka. Bagi traveler, Wamena adalah tempat yang wajib dikunjungi saat mengunjungi ke Papua.

Di dalam Kota Wamena sendiri bisa dibilang tak ada tempat menarik. Wamena layaknya kota kecil, hilir mudik mobil, ojek, becak anak sekolah, dan aktivitas warga biasa. Toko-toko dan kios umumnya milik pendatang. Aktivitas perdagangan warga Papua berlangsung di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Jibama atau pasar yang lebih kecil lainnya.

AYO BACA : Pencarian Topik Pariwisata di Google Naik 39%

Daya Tarik Wamena terletak di pinggiran kota, seperti Distrik Kurulu. Di sana setidaknya ada dua desa adat yang bersedia memperlihatkan mumi khas Suku Dani pada pengunjung. Keduanya adalah Desa Jiwika dan Desa Aikima.

AYO BACA: Wisata Korea Selatan: Pulau Nami di Republik Naminara

AYO BACA: Indonesia Masuk Peringkat Ketiga Negara Tujuan Turis Tajir China

Di Jiwika, traveler juga bisa meminta warga asli melakukan acara tradisional mereka seperti bakar batu. Dari desa ini, pengunjung bisa berjalan kaki sekira dua jam menuju sebuah bukit bernama Iluagimo. Di puncak bukit ini terdapat sebuah kolam alam, sumber garam warga setempat. Dulu, untuk mendapatkan garam dari kolam itu, warga menggunakan pelepah pisang yang ditumbuk halus. Pelepah pisang itu dimasukkan ke dalam air untuk menyerap airnya. Pelepah lalu dijemur atau dibakar untuk memisahkan air dan garamnya.

Honai

Pemandangan Lembah Baliem dengan rumah-rumah tradisional Suku Dani (honai). (Iswan BM)***

Tanpa garam, manusia tak bisa hidup. Dengan cara itulah selama ratusan tahun penduduk mendapatkan mineral alaminya. Mengapa ada garam di puncak bukit? Jangan heran. Jutaan tahun lalu, daerah itu memang berada di bawah laut. Jejak batuan dasar laut masih bisa diliihat di satu tempat bernama Pasir Putih, tak jauh dari Desa Aikima. Batuan yang terkikis dan hancur menjadi pasir putih layaknya pasir pantai. Tumbukan lempeng benua mengangkat dasar laut dan seluruh mineralnya ke atas permukaan.

Kontur Lembah Baliem adalah surga bagi penggemar trekking. Salah satu rute yang menarik bagi kelas pemula adalah rute menuju Distrik Kurima. Rutenya tak terjal lantaran menyusuri pinggiran Sungai Baliem yang legendaris itu. Pemandangan juga indah. Kadang dijumpai honai-honai atau rumah asli suku Papua yang tinggal di dataran tinggi. Sayangnya, acara trekking ini harus membawa perbekalan sendiri. Soalnya tak ada tempat singgah untuk mencicipi makanan asli wilayah setempat.

AYO BACA : Di Mana Spot Terindah di Raja Ampat?

Sementara trekker yang sudah berpengalaman dan ahli bisa mencoba ke rute Danau Habema. Lokasinya terletak di kaki Gunung Trikora, sekitar 42km dari kota. Danau dengan ketinggian 3.500 mdpl ini merupakan danau besar tertinggi di Indonesia. Lokasinya sering dijadikan tempat penelitian atau pengamatan satwa asli Papua.

Pasar

Suasana di Pasar Jibama. (Iswan BM)***

Sedangkan pendaki profesional bisa mencoba menaklukkan Puncak Trikora. Kalau cuaca sedang cerah, puncak setinggi 4.750 mdpl ini kadang terilhat dari pinggiran Wamena. Menjulang, menantang para petualang. Tahun 1960-an, puncaknya masih tertutup salju. Namun selaras dengan meningkatnya suhu bumi akibat pemanasan global, tempat itu hanya kadang-kadang saja tertutup salju tipis.

Bagaimana dengan sukunya? Pesona Suku Asmat jelas lebih dulu populer ketimbang Suku Dani. Namun seiring berjalannya waktu, situasinya mulai berbalik. Festival Budaya Asmat memang masih digelar, begitu juga Festival Danau Sentani. Namun bagi para turis, terutama fotografer, Festival Lembah Baliem adalah festival yang paling ditunggu. Alasannya, walau terletak di daerah pegunungan, Lembah Baliem relatif mudah dikunjungi. Cukup 40 menit dengan pesawat dari Jayapura, Anda akan tiba di Bandara Wamena. Pemandu wisata akan membawa Anda menuju tempat tempat yang saya sebutkan tadi.

Laut, lembah, dan pegunungan Papua adalah permata yang sangat berharga. Jangan sampai karena salah kelola, permata itu malah jadi bahan sengketa yang tak berujung.

ISWAN BUDHI M, Penggiat pariwisata. IG: [email protected]

AYO BACA: UNESCO Akan Deklarasikan Kawasan Samota Jadi Cagar Biosfer

AYO BACA: Inilah Saatnya Berwisata dengan Kepala Penuh Narasi

AYO BACA : Suku Komodo, Kalah Tenar dari Komodo dan Pulau Komodo

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar