Sejarah Koran Kaoem Moeda (1912-1941)

  Sabtu, 26 Oktober 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Gang Apandi di sekitar Jalan Braga. Nama Gang Apandi paling tidak sudah digunakan sejak 1908. Nama gang itu berasal dari nama juragan tanah dan percetakan Hadji Mohamad Affandi (1864-1942). (Foto: Anya Dellanita/dokumen Ayobandung.com)***

 

Kata-kata ”kaum muda” mulai berkumandang pada awal abad ke-20 di Indonesia. Hal ini antara lain didengungkan oleh jurnalis Abdoel Rivai (1871-1937) pada koran Bintang Hindia (1905). Dalam koran yang dikemudikan Clockener Brousson, sebagaimana yang saya baca dari tulisan Harry A. Poeze (”Early Indonesian Emancipation Abdul Rivai, Van Heutsz and the Bintang Hindia”, BKI Deel 145, 1989), itu Abdul Rivai menulis artikel bertajuk ”Kaoem Moeda”.

Menurut Poeze seperti dibaca di sini, istilah kaum muda dari Rivai merujuk kepada kelompok orang yang melepaskan diri dari gagasan-gagasan lama dan tradisi. Sebaliknya, kelompok kaum muda terbuka kepada pengetahuan Barat tanpa harus berpaling dari latar belakangnya. Saat itu Rivai baru menginjak usia 34 tahun, usia yang terbilang masih muda.

Dalam rumusan Abdul Rivai, antara lain: keharusan menghormati tradisi dan aturan hukum; munculnya aristokrasi spiritual; masyarakat pribumi harus secara bertahap terlibat dalam perdagangan dan industri; pribumi harus meningkatkan dirinya sendiri dalam solidaritas dan belajar memahami kekuatan persatuan; pribumi harus saling tolong menolong; kegiatan pribumi yang bermanfaat dan meningkatkan kesejahteraan harus didukung; semua kegiatan yang perlu dan bermanfaat bagi pribumi dan Hindia harus dilakukan dan didukung semua orang, sehingga melahirkan kesadaran; cara-cara yang bisa mengakhiri kondisi yang merusak nama pribumi harus diupayakan, demikian pula dengan semua aturan hukum dan kebiasaan yang membebani hidup pribumi.

Hal ini pula yang ditemukan oleh Yudi Latif (Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20, 2012). Menurut Yudi Latif, lahirnya istilah kaum muda berkaitan kelahiran intelegensia pribumi Indonesia pada dasawarsa pertama abad ke-20. Istilah yang digunakan untuk intelegensia awal tersebut adalah ”bangsawan pikiran”.

Istilah bangsawan pikiran, menurut Yudi, ”… merupakan sebuah kode untuk menamai generasi baru dari orang-orang Hindia Belanda yang terdidik secara modern dan ikut serta dalam gerakan menuju kemadjoean, berlawanan dengan istilah ’bangsawan usul’ yang dikaitkan dengan kebangsawanan yang lama”.

Kata kaum muda dimaksudkannya sebagai kelompok ”bangsawan pikiran”, sementara untuk ”bangsawan usul” adalah ”kaum tua” atau ”kaum kuno”.

Karena pendidikan, perkembangan literasi, kemajuan teknologi, di Bandung juga lahir kelompok kaum muda yang merupakan ”bangsawan pikiran”. Bahkan istilah tersebut dijadikan sebagai nama koran yang terbit cukup lama di ibu kota Jawa Barat ini: Kaoem Moeda (1912-1941).

AYO BACA: Sejarah dan Perkembangan Komik di Bandung

AYO BACA: Tokoh Pers Jawa Barat Dajat Hardjakusumah

Tangan Hadji Mohamad Affandi di Balik Kaoem Moeda

Di balik kelahiran Kaoem Moeda di Parijs van Java ada tangan juragan citak (drukker) yang berperan mewujudkan cita-cita para bangsawan pikiran itu. Juragan citak itu adalah Hadji Mohamad Affandi (1864-1942) seperti dapat dibaca di sini.

Affandi dikenal sebagai tuan tanah dan perintis percetakan media dan buku-buku Sunda. Data mengenai sepak terjangnya, antara lain, saya peroleh dari guntingan koran dan majalah berbahasa Belanda dan tulisan Ridwan Hutagalung, ”Kampung Apandi” (komunitasaleut.com, 2011).

AYO BACA : ​Kota Bandung dalam 2 Film Bisu

Bila saya ringkaskan dan susun maka diperoleh gambaran bahwa H.M. Affandi lahir sekitar tahun 1864 dan meninggal dan dikebumikan di Astana Anyar, Bandung, pada 25 Agustus 2042 atau 1942. Affandi adalah pemilik tanah luas di sebelah barat Jalan Braga, dari tengah hingga ke sekitar Viaduct. Bahkan namanya diabadikan sebagai nama Kampung Affandi dan Gang Affandi atau Gang Hadji Affandi paling tidak, menurut penelusuran saya, sejak 1908.

Selain itu, pada 1903, Hadji Affandi mendirikan Toko Tjitak Affandi, yaitu percetakan pribumi angkatan pertama yang menerbitkan buku-buku berbahasa Sunda. Salah satu terbitannya Wawacan Angling Darma (1906) karya R.A.A. Martanegara. Pada 1906, Affandi masih disebut pemilik drukkerij atau percetakan. Pada tahun 1910, usaha percetakannya dinyatakan berhenti. Sebagai gantinya, bulan Agustus 1910, ia berkongsi dengan Atmawidjaja dan M. Oesman mendirikan Bandoengsche Volksdrukkerij. Modalnya sebesar f. 25.000, dengan Affandi sebagai direkturnya dan Atmawidjaja dan M. Oesman sebagai komisarisnya.

Tugas yang dibebankan kepada perusahaan baru tersebut adalah mengambil alih dan melanjutkan usaha Boek- en Handelsdrukkerij milik H. M. Affandi, berdagang buku dan alat-alat tulis untuk dirinya sendiri atau pihak ketiga, dan mencetak koran, majalah, tulisan berkala, almanak, dan lain-lain. Dengan usaha baru tersebut, pada tahun 1911, Bandoengsche Volksdrukkerij menerbitkan koran berbahasa Melayu dan Sunda (Maleisch-Soendaneesch blad), Sinar Pasoendan, sejak 5 Desember 1911. Oplah koran ini mencapai 750 eksemplar dan diterbitkan tiga kali dalam sepekan. Percetakannya adalah Drukkerij Fortuna, di Kebondjatiweg, Bandung.

Namun, Sinar Pasoendan hanya bertahan beberapa bulan. Pada 2 April 1912, koran tersebut berganti nama menjadi Kaoem Moeda. Saat itu Affandi sudah memasuki usia 48 tahun, tentu bukan usia yang muda lagi. Barangkali karena tertarik dengan gagasan-gagasan baru yang dibawa oleh fajar modernitas atau bisa jadi pula karena memang demi tujuan mengadu untung di dunia ”bangsawan pikiran” yang baru merekah pada awal abad ke-20.

Atep1

Pemimpin redaksi pertama koran Kaoem Moeda A.H. Wignjadisastra (1887-1938). (Sumber: begroup.co)***

Yang jelas, Affandi memercayakan pengelolaan korannya ke tangan kaum muda. Yang dipilihnya adalah Amir Hasan Wignjadisastra (1887-1938), perintis pers Indonesia, aktivis Sarekat Islam dan Indische Partij, dan menantu Penghulu Besar Bandung Haji Hasan Mustapa.

Sejak awal, karier A.H. Wignjadisastra memang berkaitan erat dengan dunia jurnalistik. Lahir di Serang, Banten, pada 1 Juli 1887, Wignjadisastra mengembara ke Bandung sekitar tahun 1910. Tujuannya adalah bekerja sebagai wartawan pada koran Medan Priyayi yang dipimpin oleh R.M. Tirtoadisoerjo.

AYO BACA: Sejarah Kebun Binatang Bandung Tahun 1930-an

AYO BACA:Nomophobia, Ketakutan Saat Berada Jauh dari Gawai

Ketika Medan Priyayi gulung tikar, Wignjadisastra bekerja pada Hadji Affandi sebagai jurnalis koran Sinar Pasoendan. Setelah berubah menjadi Kaoem Moeda, Wignjadisastra diserahi untuk mengurusinya. Pada koran yang terbit sepekan tiga kali ini, Wignjadisastra dan RS Wigno Darmojo menjadi pengasuhnya, serta dan administrasinya oleh Vasques. Bahkan Wignjadisastra diangkat menjadi hoofdredacteur-nya. Saat bergabung dengan Kaoem Moeda, umur Wignjadisastra baru 25 tahun, hampir setengah umur Hadji Affandi.

Novel Soerapati Mula-mula Dimuat di Kaoem Moeda

Dengan tenaga kaum muda A.H. Wignjadisastra kemudian berkenalan dengan sesama bangsawan pikiran, yaitu Abdoel Moeis (1886-1959) yang baru berusia 26 tahun dan Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara (1889-1959) yang berusia 23 tahun. Mereka bertemu dalam himpunan Indische Partij di Bandung. Saat itu, Abdoel Moeis masih bekerja di koran Preanger-Bode, sebagai korektor dan Suwardi bekerja di koran De Expres di bawah pimpinan E.F.E. Douwes Dekker. Wignjadisastra mengajak Abdoel Moeis untuk pindah ke Kaoem Moeda.

Kaoem-Moeda

Kaoem Moeda edisi 10 Juli 1917. (Sumber: Perpustakaan Nasional RI)***

AYO BACA : Demam Piknik dan Klub Piknik di Bandung Tahun 1930-an

Salah satu ciri khas koran ini adalah adanya rubrik ”Iseng-Iseng” yang dijaga oleh penulis yang memakai nama samara ”Keok” pada 1913. Rubrik tersebut merupakan rubrik ’’pojok” pertama yang dikenal dalam dunia persuratkabaran Indonesia. Dalam perkembangannya, rubrik ’’Iseng-Iseng” ditiru oleh berbagai koran dengan nama ’’Pojok”, ”Sudut” , ”Sinambi kalane nganggur” , ’’Jamblang Kocok” , dan lain-lain.

Selain itu, koran ini seakan menjadi corong Sarekat Islam Cabang Bandung khususnya dan pengurus besar Sarekat Islam pada umumnya. Tidak mengherankan di dalamnya banyak dimuat berita mengenai kegiatan organisasi tersebut, termasuk perbenturannya kemudian dengan Sarekat Islam Merah.

Dari sisi perkembangan sastra, koran inilah yang mula-mula memuat cerita Soerapati karya Abdoel Moeis pada 1914, secara bersambung. Konon, cerita ini diilhami oleh bacaannya atas Babad Tanah Jawa, Geschiedenis van NI, Sedjarah Indonesia karya Sanusi Pane, dan Si Untung karya Melati van Java.

Pada 1914, dalam susunan redaksi Kaoem Moeda tertulis bahwa Directeur dan Hoofdredacteur-nya adalah A.H. Wignjadisastra, dengan K.H. Abd Gani dan R. Tjakraamidjaja, Mederedacteur-nya M. Kartawidjaja, dan Administrateur K.M. Joenoes. Penerbitnya N.V. Dagblad Kaoem Moeda di Bandung, dengan alamat redaksi dan alamat redaksinya di Jalana Kebonjati, Telefoon No. 395. Koran yang dicetak Fortuna ini diterbitkan ”setiap hari, kecuali hari Minggu dan hari besar”.

Setelah menjabat sebagai pemimpin redaksi hingga September 1917, Abdoel Moeis kemudian berhenti dan pindah bekerja pada koran Neratja di Batavia. Perpisahannya diungkapkannya dalam tulisan bertajuk ”Selamet Tinggal” dalam Kaoem Moeda edisi 9 September 1917. Di situ, antara lain, ia menulis, ”Berhubung dengan pekerjaan, maka mulai hari ini saya berpindah ke Betawi. Oleh karena waktu amat tersesak, maka banyaklah kiranya kaum keluarga serta handai dan taulan yang tida sempat didatangi lagi ke rumahnya.”

AYO BACA: Pengalaman Terbang dan Mendarat di Bandara Kertajati di Jawa Barat

AYO BACA: Wartawan di Balik Kisah Nyata Sinetron ”Sayekti dan Hanafi"

Sebagai gantinya, Wignjadisastra kembali memegang jabatan tersebut. Lengkapnya, susunan redaksi Kaoem Moeda setelah September 1917, adalah Hoofdredacteur-Directeur A.H. Wignjadisastra, Plv. Hoofdredacteur Darnakoesoema, Redacteur M.A. Padmawiganda dan Redacteur di Betawi Abdoel Moeis. Sementara Administrateur K.M. Yunus dan Onder Administrateur H. Abdoelgani. Kantor redaksi dan administrasinya pindah ke Kanomanweg, Telefoon 395. Demikian pula percetakannya menjadi Snelpresdruk Kaoem Moeda.

Pada 1920, Wignjadisastra masih bertindak sebagai pemimpin redaksi Kaoem Moeda, di samping aktivitasnya sebagai Ketua Cabang Sarekat Islam Bandung. Saat ia ikut rapat “De Sociaal-Economische Concentratie” di gedung PEB di Grooten Lengkongweg, Bandung dan buntutnya terjadi kisruh yang berkepanjangan. Karena kisruh tersebut, Wignjadisastra memilih keluar dari Kaoem Moeda pada November 1921.

Sebagai gantinya, pada 1921 itu, Kaoem Moeda dipimpin oleh S. Prawirasudirja, mantan wedana di Priangan. Pada tahun itu juga, pimpinan redaksi Kaoem Moeda dijabat oleh M.A. Padmawiganda. Tetapi pada tahun ini pula sosok Hadji Affandi mewarnai Kaoem Moeda. Ia terlibat lagi dalam pengusahaan koran yang dirintisnya. Sampai 1923, Padmawiganda masih menjabat sebagai pemimpin redaksi Kaoem Moeda.

Pada 1935, Kaoem Moeda sudah berubah kepemilikan. Sebagaimana yang nampak pada edisi No 231, 9 Oktober 1935, Koran ini diterbitkan oleh NV Mij. Vorkink, Bandung, dengan jadwal setiap hari kecuali hari Minggu dan hari besar. Alamat redaksinya di Groote Postweg 54-56, Telefoon No. 275, dan administrasinya di bawahan Toko Vorkink, yang sama alamatnya dengan alamat redaksinya. Sebenarnya, yang membelinya adalah Politiek Economische Bond (PEB), perhimpunan yang didirikan oleh seorang bekas asisten-residen bernama Engelberg. PEB yang mempunyai kaki tangan Sarekat Ijo itu memercayakan Kaoem Moeda untuk dicetak oleh Vorkink.

Sejak berpindah tangan tersebut, suara kaum muda yang digembar-gemborkan pentolan-pentolan Sarekat Islam terutama yang terlibat dalam pengelolaan Kaoem Moeda, seperti A.H. Wignjadisastra, Abdoel Moeis, dan Darnakoesoema, seakan ditelan ”kaum tua” dalam bentuk selubung Sarekat Hejo. Bahkan pada akhirnya, sejak 1942, masa pendudukan Jepang, koran yang ada di Bandung, antara lain Nicork Expres, Sipatahoenan, Sinar Pasoendan termasuk Kaoem Moeda, diputuskan untuk dilebur dan disatukan menjadi surat Tjahaja. Tamatlah riwayat Kaoem Moeda.

ATEP KURNIA, Peminat literasi dan budaya Sunda

AYO BACA: Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota

AYO BACA: Merias Jenazah, Cara Gloria Berterima Kasih kepada Tuhan

AYO BACA : Sejarah dan Asal-usul Julukan Parijs van Java

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar