Sejarah Toko Buku Legendaris MI Prawira-Winata

  Kamis, 31 Oktober 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Gerai Toko Buku MI Prawira-Winata saat mengikuti Jaarbeurs. (Sumber: KITLV)***

 

Sudah lama saya mencari keterangan ihwal toko buku dan penerbit MI Prawira-Winata. Soalnya, namanya dulu terkenal sekali. Budayawan Ajip Rosidi, seperti ditulis di sini, termasuk orang yang sering menyebut-nyebut nama Toko Buku MI Prawira-Winata.

Ajip membicarakannya paling tidak dalam buku Ngalanglang Kasusastran Sunda (1983), Sjafruddin Prawirangegara Lebih Takut Kepada Allah Swt (1986), Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana (1989), Sastera dan Budaya (1995), Eundeuk-eundeukan (1998), Masadepan Budaya Daerah (2004), dan Hidup tanpa Ijazah (2008).

Ada tiga hal yang sering ditulis Ajip tentang toko buku itu. Pertama, popularitas MI Prawira-Winata sebagai toko buku baru dan bekas serta penerbit buku Sunda pada Zaman Normal. Kedua, judul buku-buku Sunda yang diterbitkan oleh MI Prawira-Winata. Ketiga, pemerolehan gelar raden MI Prawira-Winata pada tahun 1930-an.

Sejarah Singkat MI Prawira-Winata

Akan tetapi sejauh ini tak ada yang tahu riwayat hidup MI Prawira-Winata. Beruntung, pada 8 Maret 2018, saya memperoleh kesempatan untuk melihat dan membaca fotokopi naskah tulisan tangan Raden Ibrahim Prawira-Winata. Naskah tebalnya 87 halaman beserta ketikannya setebal 37 halaman. Naskah yang dibawa Madroji Suud itu berjudul Sadjarah Mama (Raden Ibrahim Prawira-Winata).

Pada halaman dua naskah, terdapat keterangan: ”Ieu seratan Radén Ibrahim Prawira-Winata kapendakna di bumi Nyi Rd. Yuhana Prawira-Winata di Jalan Taman Cibunut 13, Bandung, tina peti buku titipan Rd. Jerman Prawira-Winata, dina taun 1978. Hanjakal buku-buku anu sanésna reksak pisan teu tiasa diaos.”

”Buku aslina ayeuna diropéa ku Rd. Cornel Prawira-Winata, putra Rd. Kornélli Prawira-Winata.”

”Ieu buku di antawaisna janten sumber kanggo nyusun stamboom Silsilah Leluhur Karawang anu terasna ka Rd. Maliki Singawinata (karuhun Nyi Rd. Lasmini/garwa Radén Ibrahim Prawira-Winata) sareng stamboom Silsilah Panembahan Dalem Wangsagoparana anu terasna ka Mas Wirabrata (karuhun Radén Ibrahim Prawira-Winata).”

AYO BACA: Wamena, Permata dari Pegunungan Papua

AYO BACA: Gelar Empu Ageng untuk Oscar Motuloh

Disebutkan bahwa naskah buku ditemukan di rumah Nyi Rd. Yuhana Prawira-Winata di Bandung, dari koleksi buku Rd. Jerman Prawira-Winata, pada 1978. Naskah diedit oleh Rd. Cornel Prawira-Winata, putra Rd. Kornelli Prawira-Winata. Naskah selanjutnya dijadikan sebagai bahan untuk menyusun silsilah leluhur Karawang yang menurunkan Nyi Rd. Lasmini, istri Raden Ibrahim, dan silsilah Panembahan Dalem Wangsagoparana yang menurunkan Raden Ibrahim.

MI-Prawira-Winata

Potret diri MI Prawira-Winata. (Sumber: Dokumentasi M. Ryzki Wiryawan)***

Pada kolofon naskah tertulis, ”Sadjarah Mama (Radén Ibrahim Prawira-Winata), Mantri Guru Hormat Sakola Kl. II No. 2 Léngkong-Bandung jeung jadi Sudagar Buku anu mashur satanah Indonésia”. Dengan titimangsa Purwakarta, 15 Januari 1946, 11 Sapar 1365/1877. Di bawahnya ada contoh paraf dan tanda tangan R.I. Prawira-Winata.

Dalam pengantarnya Raden Ibrahim menulis, ”Ieu Sadjarah mimiti ditulisna dina poé Salasa peuting (malem Rebo) pukul 10, tanggal 15 Januari 1946 atawa Pahing tanggal 11 Sapar 1365/1877” (naskah Sadjarah mulai ditulis pada hari Selasa malam (malam Rabu) pukul 22.00, tanggal 15 Januari 1946 atau Pahing tanggal 11 Sapar 1365/1877).

Keterangan tersebut dilanjutkan dengan titimangsa kelahirannya. Katanya, ”Ari Mama dibabarkeun dina poé Rebo tanggal 27 Fébruari 1889, jadi ieu Sadjarah mimiti ditulisna téh dina keur yuswa Mama 56 taun 11 bulan” (Mama dilahirkan pada hari Rabu tanggal 27 Februari 1889, jadi naskah ini mulai ditulis saat Mama berusia 56 tahun 11 bulan”).

Namanya semula memang Mas Ibrahim Prawira-Winata yang sering disingkat MI Prawira-Winata. Ayahnya adalah mantri Gudang Garam dan onder-collecteur di Cabangbungin, Rengasdengklok, Mas Wirabrata, dan ibunya Nyi Mas Sitiyamah. Saudara-saudara seayah dan seibunya adalah Mas Ambrah Wirasukarya, Nyi Mas Uniyamah, Nyi Mas Ukiyamah, Mas Uca, Mas Adak, Mas Suminta Kartadinata, Mas Panji Prawiradireja, Nyi Mas Kartomi, Nyi Mas Kastori, dan Mas Suar. Saudara lain ibunya adalah Mas Ekeh Wiraguna dan Nyi Mas Sukiah.

AYO BACA : Sejarah Koran Kaoem Moeda (1912-1941)

Mas Ibrahim mulai bekerja sejak 1910. Mula-mula ia bekerja sebagai candidaat-onderwijzer Sakola Kelas II di Purwakarta yang saat itu dikepalai oleh Raden Maliki Singawinata. Mas Ibrahim kemudian menikah dengan Nyi Raden Lasmini Singawinata di Jalan Tengah, Purwakarta, pada 6 Desember 1910.

Pasangan ini dikaruniai 15 orang anak. Ke-15-nya masing-masing yaitu Raden Afiatin, Raden Baginda, Raden Kornelli, Raden Jerman, Raden Engeland, Raden Gurnita, Nyi Raden Hidayati, Nyi Raden Ihtiarsih, Raden Fransman (Maman), Nyi Raden Yuhana, Raden Kurnia, Raden Lasmana, Nyi Raden Maria, Nyi Raden Nani, dan Raden Utara. Semuanya berakhiran nama Prawira-Winata.

AYO BACA: Sejarah dan Asal-usul Julukan Parijs van Java

AYO BACA: Sejarah dan Perkembangan Komik di Bandung

Pada 1911, Mas Ibrahim pindah ke Bandung dan menetap di Jalan Balonggede No 1. Dua tahun kemudian, pada 1913, ia dipindahkan ke Sumedang untuk mengajar di HIS Sumedang, dalam posisi sebagai Eerste Candidaat-Onderwijzer. Selama di Sumedang, ia menetap di Kampung Cangkudu, Sumedang.

Mas Ibrahim diangkat menjadi kepala sekolah Kelas II di Rengasdengklok dari 1916 hingga 1918. Pada akhir 1918, Mas Ibrahim dipindahkan ke Sukabumi, sebagai kepala sekolah selama beberapa bulan. Kemudian pada akhir 1919, ia dipindahkan ke Bandung, menjadi kepala sekolah Kelas II No 2 di Lengkong-leutik dan menjadi guru bahasa Melayu di MULO, di Javastraat. Saat itu ia menetap di rumah kontrakan di Jalan Pungkur yang harga sewanya f 15,- per bulan.

Dari Jalan Pungkur Mas Ibrahim pindah ke Kebon-kalapaweg dekat HIS. Pada akhir 1920, Mas Ibrahim sekeluarga pindah ke Balonggedeweg No 1, ke rumah pensiunan Hoofdpanghulu Bandung Haji Hasan Mustapa. Ia mengontrak rumah tersebut sebesar f 45,- per bulan.

Pada 1922, Mas Ibrahim menjadi kepala HBS di Jalan Lengkong dan mengajar bahasa Melayu di MULO Jalan Jawa. Rumahnya saat itu berada di Jalan Pungkur No 40. Setahun kemudian, pada 1923, ia pindah rumah ke Jalan Balonggede No 1 hingga Januari 1942. Di sela-sela itu, pada 15 Desember 1938, ia mulai dapat menggunakan gelar ”raden” sesuai dengan SK Gubernur Jawa Barat No c 54/17/22.

Penganugerahan gelar itu dilatarbelakangi oleh kehendak anaknya, Fransman. Saat itu Fransman sedang sekolah di HBS yang sebagian besar terdiri dari anak-anak yang bergelar ”raden” dan banyak orang yang menyapa Fransman juga dengan sebutan ”aden” atau ”raden”, sehingga menyebabkannya rikuh dan malu (”Maman ari aya nu nyebut ‘adén’ téh lain atoh, ieu mah kalah ka éra nepi ka sok beureum beungeut”). Oleh karena itu, Fransman bersikeras kepada Mas Ibrahim untuk memeriksa garis keturunan dan menguruskan gelar raden tersebut.

Tulisan-Tangan-MI-Prawira-Winata

Naskah tulisan tangan R.I. Prawira-Winata. (Sumber: Sadjarah Mama (1946))***

Agen Volkslectuur dan Toko Buku MI Prawira-Winata

Publikasi paling tua mengenai MI Prawira-Winata berasal dari koran De Preanger-Bode edisi 21 Agustus 1919. Di koran itu diberitakan bahwa MI Prawira-Winata bekerja sebagai guru sekolah umum pribumi pertama di Bandung. Pada 1920, Mas Ibrahim mulai mendirikan toko buku merangkap sebagai agen Volkslectuur alias Balai Pustaka di Bandung. Pada De Preanger-Bode edisi 23 September 1922, Mas Ibrahim masih tetap dikenal sebagai agen Balai Pustaka dan tinggal di daerah Pungkur.

AYO BACA: Tokoh Pers Jawa Barat Dajat Hardjakusumah

AYO BACA: Sejarah Kebun Binatang Bandung Tahun 1930-an

Pada buku yang disusunnya sendiri, Pemimpin Hitoengan, bagi Segala Orang jang hendak toeroet oejian Sekolah Goeroe, Goeroe bantoe, Kweekschool, Sekolah-Noormaal dan Goeroe-desa (1922), ada keterangan bahwa Mas Ibrahim adalah ”Kepala Sekolah Kl II No 2 Lengkong-Bandoeng”. Namun, informasi yang dapat dipetik lainnya adalah di belakang buku tersebut disertakan iklan Toko Buku MI Prawira-Winata yang berdomisili di Poengkoerweg 46, Bandung.

Selanjutnya, hampir selama setahun pada 1924 Toko Buku MI Prawira-Winata memasang iklan pada De Preanger-Bode. Di situ ada informasi menarik bahwa toko itu membeli dan menjual buku-buku bekas berbahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman. Tokonya disebutkan beralamat di Groote Lengkongweg 1.

Antara 1935-1936, dari iklan yang dipasang pada majalah Mooi Bandoeng edisi No 12, Juni 1935 dan edisi No 8, Februari 1936 diketahui bahwa Toko Buku MI berusaha di bidang penjualan buku, percetakan, penjilidan buku, encadreerinrichting, dan penyewaan buku (bibliotik). Selain itu, alamatnya juga pindah ke Oude Hospitaalweg 32, Bandung, dan punya cabang di Laksanaweg 2.

AYO BACA : Kota Bandung dalam 2 Film Bisu

Memasuki zaman Jepang, informasi seputar Toko Buku MI Prawira-Winata didapat dari koran Asia Raya edisi 6 Mei 1942. Di situ ada pengumuman bahwa ”Asia Raya di Bandoeng dapat beli dan minta berlangganan kepada: Agentschap Pengoeroes tn. R Moh Soepardi Natoenaweg 47 dan pada 1. Restoran Banjoemas Pangeran Soemedangweg 33 telp No 53, 2. Kantor OL Mij Boemipoetra telp No 2546, 3. Coenstraat 6, dan 4. Boekhandel ”Prawira-Winata” Katja-katja Wetan No 80A”.

Sementara dari naskah Sadjarah Mama, terdapat keterangan bahwa pada akhir 1941 sebagian keluarga R.I. Prawira-Winata pindah ke Kampung Simpang, Desa Nagri-Kidul, Purwakarta (Jalan Gembong 70-71), karena istri Raden Ibrahim sakit ”Beroerte” atau ”Hersenschudding”.

Sementara toko buku dan penerbitannya di Jalan Kaca-kaca Wetan 70 masih diurus oleh R.I. Prawira-Winata. Ia baru ikut pindah ke Purwakarta pada 10 Januari 1942, sedangkan tokonya diurus oleh anaknya, Raden Gurnita.

Selama malang melintang di dunia penerbitan, Toko Buku MI Prawira-Winata tercatat sudah menerbitkan 69 judul buku. Sebanyak 24 judul berupa wawacan dan 45 judul buku umum. Buku dimaksud berupa roman, agama, lelucon, perjalanan, dan wayang. Semuanya dalam bahasa Sunda dan diterbitkan dalam rentang 1920-1945.

Iklan-Toko-Buku-MI-Prawira-Winata

Iklan Toko Buku MI Prawira-Winata di media. (Sumber: Mooi Bandoeng No 12, Juni 1935)***

AYO BACA: Korupsi Jalan Terus, Bagaimana Menghentikannya?

AYO BACA: Nomophobia, Ketakutan Saat Berada Jauh dari Gawai

Toko Buku Kecil di Ajang Internasional

Salah satu prestasi yang menjadi prestise bagi Toko Buku MI Prawira-Winata adalah ikut berpameran dalam pekan raya tahunan (jaarbeurs) yang berskala internasional. Toko buku ini paling tidak mengikuti Jaarbeurs di Bandung itu sejak tahun kedua, yaitu pada 1921. Hal ini dapat kita baca dalam majalah Bibliotheekleven edisi 11 November 1921.

Di situ, ada reportase bertajuk ”Het Boekwezen op de 2de Nederlandsch Indische Jaarbeurs” yang di dalamnya antara lain menyatakan bahwa Prawira Winata, toko buku kecil di Bandung yang menjual buku Belanda, Melayu, Jawa, Sunda serta kerajinan ikut pameran yang bertempat di Gedung G 7, bersama dengan Theosofische boekhandel ”Minerva”, Bond van Evangelisatie, serta Commissie voor de Volkslectuur.

Toko Buku MI Prawira-Winata juga ikut Jaarbeurs pada 1922, 1923, dan 1925. Keikutsertaannya pada Jaarbeurs 1922 dilaporkan De Preanger-Bode dan mingguan Indie: Geillustreerd Weekblad voor Nederland en Kolonien. Dari De Preanger-Bode edisi 23 September 1922, ada tulisan ”Inheemsche Stands” atau Gerai Pribumi yang menyatakan bahwa agen Volkslectuur yang dalam hal ini diwakili oleh MI Prawira-Winata berpameran di gedung aula untuk mesin, bersama organisasi teosofi. Di gerainya, MI Prawira-Winata menyediakan buku berbahasa Belanda, Melayu, Sunda, Jawa, juga pelat dan hasil karya foto yang dikerjakan oleh Raden Moehamad Didi dan Danamihardja.

Sementara dari mingguan Indie edisi No 5, 3 Mei 1922, dapat kita petik informasi bahwa Prawira-Winata bersama-sama dengan Theosophischen Boekhandel, Bond van Evangelisatie, Visser & Co, Commissie voor de Volkslectuur, Partadinata ikut berpameran buku dan penjilidan bertempat di Gedung G 7.

Demikian pula untuk penyelenggaraan Jaarbeurs 1923, Indie edisi No 40, 3 Januari 1923, memberitakan bahwa Gedung 6 yang semi permanen digunakan sebagai tempat pameran perusahaan lampu milik orang Serbia di Surabaya, Joseph Rute & Co, serta gerai buku Bond van Evangelisatiën, Theosophischen Boekhandel, India Semper Florens, dan Prawira-Winata.

Terakhir, informasi keterlibatan Toko Buku MI Prawira-Winata pada Jaarbeurs adalah tahun 1925. Hal ini dapat dibaca misalnya dalam keterangan yang diberikan mingguan Indie edisi No 12, 2 September 1925. Di situ kita baca bahwa di Gedung D 2 bagian sayap, Prawirawinata berpameran buku dengan mewakili Volkslectuur.

Dengan demikian, meskipun berjuluk penerbit partikelir kecil, Toko Buku MI Prawira-Winata bisa mengikuti kegiatan tahunan berskala internasional secara berkesinambungan. Dalam pameran itu, buku-buku Sunda dan mancanegara ikut dipamerkan. Barangkali catatan riwayat hidup R.I. Prawira-Winata dan prestasinya dalam mengelola toko buku bisa menjadi catatan penting bagi Ajip Rosidi, termasuk tentu sekalian pembaca budiman.

ATEP KURNIA, peminat literasi dan budaya Sunda

AYO BACA: Pengalaman Terbang dan Mendarat di Bandara Kertajati di Jawa Barat

AYO BACA: Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota

AYO BACA : Demam Piknik dan Klub Piknik di Bandung Tahun 1930-an

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar