Usai Baghdadi Tewas, ISIS Tiada?

  Minggu, 03 November 2019   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Abu Bakr Al Baghdadi mengakui kekalahan ISIS di benteng terakhirnya, Baghouz, Suriah. [AFP]

ISTANBUL, AYOSURABAYA.COM -- Pemerintah Turki akan mendeportasi para anggota ISIS ke negara asal mereka masing-masing.

Pernyataan tersebut dikatakan oleh Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu, Sabtu (2/11/2019) kemarin. Ia juga menyampaikan keluhan soal lambannya negara-negara Eropa dalam menangani masalah tersebut.

"Hal ini tak dapat diterima oleh kami. Tindakan tersebut juga tidak bertanggung jawab," kata Soylu soal Eropa yang meninggalkan Turki sendiri untuk berurusan dengan para tahanan.

"Kami akan mengirim para tahanan anggota Daesh kembali ke negara mereka," kata dia kepada para wartawan. Daesh merupakan nama lain yang digunakannya untuk ISIS.

Pada bulan lalu, Turki telah menangkapi anggota ISIS di wilayah Suriah Timur Laut. Penangkapan itu dikerahkan Turki setelah penyerbuan militer ke sana.

Sebelumnya, Turki juga menangkap dua orang berkewarganegaraan Rusia yang ikut bergabung menjadi anggota kelompok ISIS. Penangkapan dilakukan di perbatasan Suriah. Menurut berita dari radio pemerintah TRT Haber, Jumat (1/11/2019), kedua orang itu ditangkap aparat Turki setelah mereka memasuki negaranya secara ilegal.

AYO BACA : Bebani Rakyat, Pemerintah Diminta Tinjau Ulang Kenaikan BPJS

Kedua perempuan itu ditangkap di provinsi, perbatasan selatan, Kota Kilis. Keduanya adalah orang yang dicari interpol. Kedua tahanan itu diserahkan ke petugas berwenang di keimigrasian provinsi. Menurut TRT Haber, ada tiga orang anak ikut bersama dua perempuan itu.

Penahanan kedua orang tersebut terjadia beberapa hari setelah pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi tewas terbunuh di Suriah barat laut dekat perbatasan Turki. Baghdadi tewas dalam serbuan tentara khusus Amerika Serikat (AS) di sana.

Pada Sabtu juga terjadi ledakan dari mobil yang berada di sebuah pasar di Kota Tel Abyad. Sekitar 10 orang tewas dan lebih dari 30 orang terluka di kota perbatasan Turki-Suriah itu, Sabtu (2/11/2019). Kejadian itu disampaikan media resmi Turki dan Observator Suriah untuk Hak Asasi Manusia (HAM). Media Turki Anadolu Agency juga menyebutnya sebagai serangan bom di Tel Abyad.

Di tempat terpisah, tentara Turki dan Rusia yang lengkap dengan kendaraan bersenjata terus menggelar patroli darat pertama di Suriah Timur Laut pada Jumat. Mereka sepakat mengusir kelompok Kurdi dan pejuangnya (YPG) dari wilayah perbatasan Turki. Pekan lalu, Ankara dan Moskow sepakat membersihkan area sekurangnya 30 km selatan perbatasan dan Rusia telah mengatakan kepada Turki bahwa YPG telah meninggalkan daerah tersebut.

Menurut laporan televisi Reuters yang difilmkan dari perbatasan di sisi Turki, kendaraan bersenjata Turki bergabung dengan rekannya dari Rusia. Sekitar empat jam kemudian, mereka kembali ke Turki. Patroli ini melibatkan unit darat dan udara di kota perbatasan Suriah, Darbasiya.

Pada Rabu, Presiden Erdogan mendapatkan informasi bahwa YPG yang disebut teroris oleh Turki yang berhubungan dengan milisi Kurdi, belum menuntaskan penarikan mundurnya dari daerah perbatasan. Karena itulah, kedua negara bekerja sama untuk membersihkan wilayah tersebut dari sisa-sisa YPG dan milisi.

AYO BACA : Suara Bulat, Eks Kapolda DKI-Jabar Iwan Bule Jadi Ketum PSSI

ISIS tetap berkembang

Dalam laporan tahunan tentang terorisme yang dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri AS, disebutkan bahwa keberadaan jaringan global ISIS terus berkembang pada 2018 lewat jaringan dan para anggota yang bergabung di dalamnya. Sementara itu, pemerintahan Trump menyampaikan jajarannya telah menundukkan kelompok jihad itu di Suriah dan menewaskan pemimpinnya dalam serangan tentara khusus AS.

Dalam laporan itu, Iran disebutkan tetap sebagai negara sponsor utama dengan nilai mendekati miliaran dolar AS per tahun. Hal itu dilakukan, walau AS telah menjatuhkan sanksi tegas terhadap Teheran.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan, Iran masih tetap menjadi negara sponsor terorisme terburuk di dunia. Hal itu dikatakan dalam rilis tahunan tentang "Laporan Negara tentang Terorisme untuk tahun 2018".

"Rezim telah menghabiskan hampir 1 miliar dolar per tahun untuk mendukung kelompok-kelompok teroris yang berfungsi sebagai proksi dan memperluas pengaruh jahatnya di seluruh dunia," demikian pernyataan Departemen Luar Negeri seperti dilansir Al Arabiya, Sabtu (2/11/2019).

"Teheran telah mendanai kelompok teroris internasional seperti Hizbullah, Hamas, dan Jihad Islam Palestina. Ia juga terlibat dalam rencana terorisnya sendiri di seluruh dunia, khususnya di Eropa," tambah laporan tersebut.

Berbicara kepada Al-Arabiya, Perwakilan Khusus AS untuk Iran Brian Hook mengatakan, Washington telah mempersulit Iran untuk melakukan operasi campur tangan asing, sebab Iran tidak memiliki uang seperti dulu. "Ini adalah uang yang dihabiskan rezim di tempat-tempat seperti Lebanon, Suriah, Irak, Yaman," kata Hook.

Koordinator Kontraterorisme AS Nathan Sales ikut berkomentar soal ini. "Meski ISIS kehilangan hampir semua teritorial fisiknya, kelompok itu membuktikan kemampuannya untuk beradaptasi, khususnya melalui upayanya untuk menginspirasi atau berhubungan langsung ke pengikutnya secara daring," kata dia yang kantornya mengeluarkan laporan yang dimandatkan oleh kongres. "Teroris yang bertarung keras akan pulang dari zona perang di Suriah dan Irak atau bepergian ke negara ketiga, dan menempatkan bahaya baru," ujar dia.

Pemimpin ISIS Baghdadi tewas dalam serangan tentara AS dan hal itu diakui pada Kamis (31/10/2019) dalam rekaman yang disiarkan secara daring. Mereka juga menyatakan telah menunjuk seorang pengganti yang diidentifikasi bernama Abu Ibrahim al-Hashemi al-Quraishi. Kelompok itu berjanji akan membalas dendamnya kepada AS.

AYO BACA : Benarkah Ada Perpecahan di Pemkot Surabaya Jelang Pilkada 2020?

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar