Guru Pramuka Pasrah Dihukum Kebiri karena Cabuli 15 Anak

  Kamis, 28 November 2019   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Guru Pramuka cabul, Rachmat Slamet Santoso. (Jatimnet)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Rachmat Slamet Santoso, guru Pramuka yang cabuli belasan anak ini mengaku pasrah dan tak akan mengajukan banding usai divonis kebiri dan 12 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Surabaya.

Sebelumnya, vonis hukuman tersebut dijatuhkan Ketua Majelis Hakim Dwi Purwadi di ruang sidang Garuda 2 Pengadilan Negeri Surabaya, Senin 18 November 2019.

Melansir Suara.com dan Jatimnet.com, Kamis (28/11/2019), keputusan tidak mengajukan banding terdakwa Memet, sapaan pelaku tindak asusila kepada 15 siswa di Surabaya diketahui setelah masa banding hingga tujuh hari, berlalu.

AYO BACA : Kepala BPOM Bungkam Soal Wacana Menkes Cabut Hak Istimewanya

Kepala Humas Pengadilan Negeri Surabaya, Sigit Sutriyono bahkan mengatakan jika terdakwa tidak didampingi penasihat hukumnya di sepanjang persidangan.

Walaupun pihak pengadilan sudah menawarkan jasa pengacara negara, terdakwa menolak.

"Ya itu hak dari terdakwa," ungkap Kepala Humas Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu 27 November 2019.

AYO BACA : Nyaris Bugil, Janda Hamil Ditemukan Tewas di Waduk Mastrip

Terpisah, pendamping 15 korban anak, Moh Kahfi Dewangga mengkonfirmasi belum mengetahui informasi kepastian banding atau tidaknyanya pelaku kejahatan Asusila yang berakibat pada hukuman kebiri dan 12 tahun penjara bagi Memet.

"Mengenai bandingnya kami belum mengecek kepastiannya di Pengadilan Negeri," ungkap Kahfi, pendamping dari Surabaya Children Crisis Center, Rabu 27 November 2019.

Sebelumnya, Surabaya Children Crisis Center mengapresiasi putusan majelis hakim kepada Memet, pelaku asusila 15 siswa di Surabaya.

"Sebagai pendamping siswa (korban asusila), kami memberikan apresiasi terhadap putusan tersebut, supaya pelaku lain jera dan berpikir bila hendak melakukan tindakan asusila kepada anak," ungkap Direktur Eksekutif SCCC, Edward Dewaruci, Selasa 19 November 2019.

AYO BACA : Sidang Perdana Kasus Rasisme Mahasiswa Papua di Surabaya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar