Risma: Putus Sekolah Biang Keladi Anak Jadi Nakal di Surabaya

  Selasa, 10 Desember 2019   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Republika/Wihdan)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengungkapkan bahwa putus sekolah menjadi penyebab utama kenakalan anak-anak.

Dari banyak kasus yang ditangani Pemkot Surabaya, lajut dia, anak-anak putus sekolah itu terlibat dalam berbagai kenakalan remaja, mulai tawuran hingga terjerat masalah lain.

Hal itu diungkapkan Risma saat menerima kunjungan kerja dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawanti belum lama ini.

AYO BACA : Kediri Raih Penghargaan Kota Peduli HAM

Risma memaparkan upaya-upaya Pemkot Surabaya dalam menangani anak-anak itu. Terutama soal pendidikan. Mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu dibantu pemkot. Tetapi, pemkot sekarang hanya punya kewenangan untuk penanganan pendidikan hingga tingkat SMP.

”Karena SMA dan SMK diambil alih provinsi, banyak anak putus sekolah,” ungkap Risma seperti dilansir dari Jawapos.com, Selasa (10/12/2019).

Risma menceritakan bahwa kepala organisasi perangkat daerah sempat urunan untuk membantu pembiayaan siswa tersebut. Tetapi, karena jumlah siswa putus sekolah sangat banyak, akhirnya dicari format yang lebih bagus. Dengan demikian, didirikanlah sanggar kegiatan belajar negeri yang memberikan pendidikan keterampilan untuk siswa tersebut. Siswa juga bisa mendapatkan ijazah.

AYO BACA : Polda Jatim-Bakesbangpol Bentuk Tim Antiradikalisme

”Sekolah untuk anak putus sekolah. Ini yang kita buat di Surabaya. Kita ajari life skill,” ujar dia.

Berdasar temuan pemkot, salah satu penyebab utama kasus kenakalan remaja hingga kriminal yang melibatkan anak itu adalah putus sekolah.

”Kalau putus sekolah, anak itu akan cenderung nakal. Jadi, kita menemukan banyak bandit, penjambret, dan perampok itu dari anak putus sekolah,” imbuh Risma.

Yang juga diperhatikan adalah kondisi anak di luar sekolah. Siswa biasanya berada di sekolah selama delapan jam. Nah, 16 jam sisanya itu, siswa mendapat perhatian dari pemkot agar mereka punya kegiatan positif lainnya.

”Kita amankan lingkungan di kampung mereka. Diberi kesibukan menari, bela diri, olahraga, musik, dan sebagainya. Diberi ruang positif itu,” ujar Risma.

Menteri Bintang mengatakan tertarik dengan upaya-upaya Pemkot Surabaya dalam perlindungan anak-anak. Dia menyebutkan, langkah Risma tersebut bisa menjadi role model bagi Kementerian PPPA untuk diterapkan di seluruh negeri. Misalnya, soal pemenuhan hak anak.

AYO BACA : Besok, KPU Surabaya Undang Bakal Calon Wali Kota

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar