Dugaan Kekerasan Seksual oleh Aktivis Malang, Ini Kata MCW

  Jumat, 27 Desember 2019   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Kordinator Badan Pekerja MCW Fahrudin Ardiansyah bersama Dewan Pembina MCW Luthfi J Kurniawan saat konferensi pers, Jumat (27/12/2019). (Aziz Ramadani/malangvoice.com)

AYO BACA : Risma Larang Camat dan Lurah Libur Tahun Baru

AYO BACA : DPRD Surabaya Minta Perbanyak Nama Jalan Pahlawan

MALANG, AYOSURABAYA.COM -- Jagat maya dibuat geger oleh seruan atau pernyataan sikap terkait kasus aktivis Malang Corruption Watch (MCW) berinisial AF yang diduga telah melakukan kekerasan seksual terhadap dua perempuan.

Adapun seruan itu mendapat respons dari organisasi antirasuah tersebut. MCW telah membentuk tim khusus untuk mendalami hal tersebut.

"Kami menyepakati dan meyakini bahwa pelanggaran kekerasan seksual itu harus dilawan. MCW tidak diam makanya kami bentuk tim kecil untuk mendalami informasi yang berkembang. Bisa disebut tim pencari fakta," kata Koordinator MCW M Fahrudin Ardiansyah saat konferensi pers di Malang Jawa Timur pada Jumat (27/12/2019).

Merespons tuntutan agar terduga pelaku AF dipecat atau diberhentikan dari jabatannya sebagai badan pekerja, MCW berjanji akan bertindak tegas terhadap siapapun pelaku kekerasan seksual. Namun, hal itu tidak dapat dilakukan serta-merta.

Fahrudin mengemukakan perlu melalui mekanisme internal organisasi disertai dengan data, bukti dan fakta yang valid.

"Hingga saat ini kami terus melakukan penggalian informasi. Sebab, ada banyak informasi yang kami terima itu berbeda-beda dan berkembang liar," sambungnya.

MCW, masih kata Fahrudin, tidak memiliki tendensi apapun terkait permasalahan ini. Apalagi menutup-nutupi kasus, bahkan cenderung proaktif. Salah satunya agar yang mengaku pendamping korban untuk menyusun data-data kronologis kasus yang dialami kedua korban.

"Kami tentu ingin menyelesaikan segera kasus ini, agar bisa mencocokkan informasi dari pihak pendamping korban. Sehingga menjadi dasar untuk memutuskan sesuatu kepada terduga pelaku," katanya.

Sementara itu, Dewan Pembina MCW Luthfi J Kurniawan menambahkan, pihaknya tidak ingin memvonis suatu perkara tanpa didasari bukti valid. Maka tahapan internal organisasi harus dilalui terlebih dahulu. Salah satunya dibentuklah tim khusus untuk mengecek kebenaran dan bukti-bukti, pascarapat bersama Dewan Pengawas MCW, pada Kamis malam (26/12/2019).

"Kami tidak segan kok, kalau memang data sudah terkonfirmasi, detik ini pun kami minta (terduga pelaku) mundur atau diberhentikan," katanya.

Luthfi berharap, kasus dugaan kekerasan seksual tersebut tuntas dalam sepekan. Namun, apabila tetap tidak ada hasil dari kerja tim khusus MCW, ada opsi atau pilihan untuk mendatangkan mediator dari eksternal organisasi.

"Ada sudah kami siapkan mediator ahli," katanya.

Untuk diketahui, viral pernyataan sikap terkait aktivis antikorupsi (MCW) yang diduga kuat melakukan kekerasan seksual terhadap dua korban dalam waktu yang berbeda melalui media sosial. Berikut ini isi pernyataan tersebut;

Pernyataan Sikap Bersama:

Pecat, berikan sanksi bagi pelaku kekerasan seksual dan bersihkan gerakan anti korupsi dari predator seksual!

Minggu tanggal 08 Desember 2019 dan 22 Desember 2019, dua orang yang menjadi pendamping korban mendapatkan laporan dari dua orang penyintas, terkait kekerasan seksual dalam kurun waktu yang berbeda-beda dan dilakukan berkali-kali (sebut saja korban sebagai X dan Y) oleh AF anggota sekaligus pekerja aktif di NGO anti korupsi di Malang

Setelah menganalisa seluruh dokumen, kronologis, pengakuan dan menemui lembaga dimana AF bekerja kami menuntut:

1. Memecat AF dari Lembaga Anti Korupsi
2. Menuntut pelaku untuk membayar biaya pengobatan bagi para penyintas
3. Melarang pelaku terlibat dalam gerakan rakyat
4. Melawan segala bentuk intimidasi dan ancaman kriminalisasi dari lembaga tempat pelaku bekerja.
5. Mendorong terbentuknya solidaritas seluas-luasnya bagi korban: aksi massa, kampanye, diskusi-diskusi dll agar lembaga tempat pelaku bekerja segera mengambil tindakan yang serius.

Pernyataan sikap bersama ini kami susun sebagai bentuk solidaritas bagi para korban sekaligus menunjukkan komitmen kami yang tergabung dari berbagai macam organisasi ataupun kolektif dalam memerangi predator seksual dalam tubuh gerakan sipil.

Kekerasan seksual bukanlah tindakan yang sepele, apalagi jika hal tersebut terjadi di dalam organisasi/lembaga yang fokus terhadap isu-isu rakyat dalam konteks kasus ini adalah LSM anti-korupsi. Terlebih lagi jika memperhatikan kronologis serta posisi korban, pelaku sengaja memanfaatkan jabatannya dan memanfaatkan kerentanan korban sehingga dengan mudah melakukan tindakan kekerasan seksual serta bentuk eksploitasi lainnya terhadap korban-korban tersebut. Kami sadar akan kebutuhan solidaritas yang luas, mengingat ada upaya untuk mendelegitimasi keterangan para korban dan ancaman kriminalisasi terhadap pendamping kasus mereka. Kami mendorong solidaritas seluas-luasnya agar gerakan sipil bersih dari para predator seksual dan dapat menjadi ruang aman bagi kawan-kawan perempuan.

Hidup perempuan yang melawan!

26 Desember 2019

AYO BACA : Punya Senjata Rakitan Setara M16, 2 Warga Lamongan Diringkus

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar