Alasan Korban Pemerkosaan Aktivis Malang Tak Lapor Polisi

  Minggu, 29 Desember 2019   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi kekerasan seksual (Pixabay)

MALANG, AYOSURABAYA.COM -- Dua korban dugaan kekerasan seksual oleh aktivis Malang Corruption Watch (MCW) masih enggan membawa kasusnya ke ranah hukum.

Melansir dari Detik.com, Dina Putri Pratiwi, satu dari lima pendamping korban menyatakan alasan penyintas tak melapor kasus ini ke polisi atas dasar beberapa pertimbangan.

Hal itu yang kemudian mendasari untuk menggalang solidaritas melalui media sosial dengan menyebar pernyataan sikap bersama atas kasus yang menimpa kedua korban. Dan menyertakan sejumlah tuntutan yang dialamatkan kepada pelaku.

"Belum untuk melaporkan ini ke polisi, karena mulai diproses awal memang tidak mengarah ke sana dan itu yang diinginkan oleh korban. Karena untuk ke jalur hukum juga menyangkut kesiapan korban, prosesnya jauh lebih panjang belum lagi kondisi mental korban yang saat ini lagi down," kata Dina saat memberikan keterangan resmi kepada wartawan, Sabtu (28/12/2019).

"Seperti yang diharapkan oleh korban, ingin agar pelaku dipecat dari jabatannya di MCW dan restitusi tanggung jawab pelaku untuk pemulihan korban dengan melaporkan kasus ini kepada lembaga," sambung Dina.

Ia mengatakan, sebelum menggalang solidaritas di media sosial untuk membentuk aliansi beserta advokasi terhadap korban, pihaknya beberapa kali menggelar pertemuan dengan MCW. Itu dalam rangka melaporkan kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelaku.

Namun, kata dia, dari beberapa pertemuan yang digelar bersama MCW hanya satu tuntutan yang dapat terpenuhi dan seketika itu disampaikan oleh pelaku. Yakni memberikan restitusi tanggung jawab pemulihan terhadap korban.

"Untuk memecat pelaku dari jabatanya belum bisa dilakukan. Padahal, MCW secara lembaga bertanggung jawab atas persoalan ini. Karena status pelaku melekat dan aktif sebagai anggota badan pekerja. Dan harapannya tidak terjadi kasus serupa di kemudian hari," ujarnya.

AYO BACA : PDIP Respons Aksi Risma Pimpin Pemadaman di UFO

Dina menegaskan, pelaporan kasus dugaan kekerasan seksual yang dialami korban bukan bertujuan untuk menjatuhkan MCW, akan tetapi bagaimana menciptakan ruang aman bagi perempuan.

"Kita bukan berniat menjatuhkan lembaga, tetapi bagaimana bisa menciptakan ruang aman bagi perempuan dengan memberikan hak-haknya. Agar peristiwa serupa tidak terulang kembali," tegasnya.

Dia menambahkan, dari awal memang berniat melaporkan kekerasan seksual yang dialami korban kepada lembaga tempat pelaku aktif bekerja. Berdasarkan keinginan korban, agar MCW memberikan sanksi berupa pemecatan. Berdasarkan informasi bagaimana mekanisme pelaporan dilakukan, maka tahapan itu kemudian dilakukan oleh pendamping.

"Nyatanya kami tidak mendapatkan respon baik dari MCW, dengan tidak memecat pelaku. Bahkan, dalam pertemuan terakhir pendamping justru diancam Undang-Undang ITE. Surat pernyataan kami ditolak, dan karena itu kami kemudian memilih untuk menggalang solidaritas melalui media sosial," imbuh Dina.

Mahasiswa

Dua perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual aktivis antirasuah Malang tersebut ternyata masih berstatus mahasiswa.

Korban pertama yang disebut X datang dan mengenal pelaku untuk mencari data demi memenuhi tugas kuliah. Korban berikutnya disebut dengan Y merupakan jurnalis yang aktif di pers mahasiswa.

"Dua korban berstatus mahasiswi, satu merupakan jurnalis yang aktif di persma. Pertemuan dengan pelaku karena tugas peliputan. Sedangkan korban satunya bertemu untuk kebutuhan data tugas kuliah," ungkap Dina.

AYO BACA : Mangkir Interpelasi, Pemakzulan Bupati Jember Makin Nyata

Dia menyebut, jika kedua korban kini tengah berada di luar kota. Kondisinya benar-benar tertekan atas beberapa hal yang terjadi belakangan ini.

"Kondisi korban down banget, belum stabil, dan posisinya sekarang tengah berada di luar Kota Malang," sebutnya.

Dia mengatakan pemulihan atas kondisi korban menjadi fokus utama. Sambil mencari langkah-langkah penyelesaian kasus pada ruang mediasi.

"Fokus sekarang adalah pemulihan korban. Cukup banyak tekanan hingga membuat korban down. Dan kita masih memikirkan langkah berikutnya, untuk penyelesaian kasus ini melalui ruang mediasi," terangnya.

Jika status korban dengan pelaku berinisial AF, tambah dia, adalah pacar dan kekerasan seksual yang diungkap, terjadi ketika hubungan asmara itu terjalin.

"Status korban dengan pelaku AF adalah pacar, ada konsensus selama hubungan berjalan. Terjadi paksaan dan itu merupakan kekerasan seksual, korban memiliki bukti-bukti untuk itu," ungkapnya.

Sikap MCW

Sebelumnya, MCW telah memberikan sikap resmi atas tuduhan dugaan kekerasan seksual itu. Mereka juga tidak mempersoalkan jika korban melapor ke polisi, harapannya agar dugaan kasus yang terjadi bisa diusut tuntas.

"Kami tidak menghalang-halangi atau menutup-nutupi. Justru kami sangat terbuka. Apalagi jika korban melapor ke polisi, dengan mengusut tuntas dugaan kasus yang dialami oleh korban," tegas Koordinator Badan Pekerja MCW M Fahrudin, Jumat (27/12/2019).

AYO BACA : Remaja di Jombang Tewas Saat Latihan Silat

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar