Dosen di Malang Ciptakan Drone untuk Pertanian Modern

  Minggu, 12 Januari 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi drone untuk pertanian (Istimewa)

MALANG, AYOSURABAYA.COM -- Wahono Dosen Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menciptakan tiga jenis pesawat tanpa awak atau drone berteknologi canggih yang bisa mendukung dunia pertanian.

Wahono menjelaskan, drone pertamanya bernama Motodoro MX berjenis Flying Wing. Drone ini mempunyai kemampuan lebih efisien karena sekali terbang bisa memetakan sekitar 700 hektare (ha). Pesawat kedua, Farm Mapper yang memiliki kemampuan terbang serta landing vertikal dengan daya jangkau 400 hingga 500 hektar.

Ketiga, drone Spraying Robot Indonesia (SRI) yang berfungsi untuk aplikasi pupuk dan pestisida. Aplikasi untuk pupuk dan pestisida oleh SRI ini canggih. Sebab, alat ini bisa menyemprot dalam jumlah yang diperlukan dengan kapasitas 23 liter dan jangkauan 10 ha per satu jam.

AYO BACA : Gagalkan Pernikahan Ponakan, Paman dan Calon Pengantin Bacok-bacokan

"Sedangkan data tanaman yang membutuhkan pupuk serta pestisida itu kita dapatkan dari Farm Mapper maupun Motodoro MX,” kata Wahono seperti dilansir dari Republika.co.id, Sabtu (11/1/2020).

SRI juga memiliki sistem kerja yang mewakili mata. Dalam hal ini berfungsi melakukan pemilahan atas tanaman yang sehat dan berpenyakit. Hal ini karena SRI memiliki sensor yang lebih presisi dan lebih akurat secara kuantitatif.

“Jadi dari sensor itu bisa menganalisis tingkat kesehatan tanaman, sehingga lebih objektif. Tanpa perlu turun ke lapangan,” ungkap Wahono.

AYO BACA : Jatim Kembangkan Teknologi Fiber Optik Sekolah Kejuruan

Wahono berharap, inovasi dronenya mampu menyelesaikan berbagai persoalan pertanian di Indonesia. Kemudian bisa meningkatkan produktifitas tanaman serta mengefisiensi biaya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko-PMK), Profesor Muhajir Effendy mengaku sangat mengapresiasi temuan dosen UMM. Dia menilai, temuan ini hanya perlu dimanfaatkan di dunia luas. Kemudian bisa diadopsi oleh para petani karena kecepatannya berlipat ganda dibandingkan dengan tenaga manual.

"Saya rasa sudah layak untuk di diseminasikan ke masyarakat dan harus segera dipatenkan,” kata Muhadjir.

Rektor UMM, Fauzan menerangkan, Farm Mapper maupun Motodoro MX telah diproduksi massal sejak awal 2017. Kapasitas produksinya sebanyak 40 buah tiap tahun. Alat tersebut dijual dengah harga dimulai dari Rp 62 juta hingga 250 juta.

Untuk drone SRI, kata Fauzan akan diproduksi masal setelah selesai tahap pengembangan. Menurut Fauzan, temuan drone karya dosen UMM ini akan sangat penting bagi pertanian ke depannya.

AYO BACA : Tabrak Kereta Api, Mobil di Nganjuk Terseret 5 Meter

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar