11 Korban Ketua Ikatan Gay Tulungagung Bakal Didampingi

  Senin, 20 Januari 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Polda Jatim meringkus warga Kecamatan Gondang, Tulungagung, Hasan (41) yang akrab disapa Mami, atas dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur. (Republika/Dadang Kurnia)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi pihak kepolisian yang telah menangkap pelaku pencabulan terhadap 11 anak laki-laki di bawah umur di Tulungagung.

Khofifah mendorong para penegak hukum untuk menjerat pelaku dengan vonis berat sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Ia berharap hukuman berat dapat memberikan efek jera bagi predator seksual anak.

Khofifah mengatakan, apa yang dilakukan pelaku berdampak besar terhadap tumbuh kembang korban yang merupakan anak di bawah umur. Menurutnya, bukan hanya korban yang mengalami tekanan psikis, namun juga keluarga korban.

"Oleh karena itu, Pemprov Jatim melalui Dinas Sosial Jatim akan melakukan pendampingan sosial bagi seluruh korban. Hasil assesment, menjadi dasar penentuan intervensi atau aktivitas lanjutan kepada para korban," ujar Khofifah di Surabaya, Senin (20/1/2020).

Pendampingan

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, Sri Adiningsih menegaskan kesiapannya mendampingi anak di Tulungagung, yang menjadi korban pencabulan. Sri menyatakan akan berkoordinasi dengan LPA Tulungagung.

"Kebetulan di Tulungagung itu ada LPA Tulungagung. Kita akan koordinasi dengan daerah itu apakah sudah melakukan pendampingan. Kalau area itu bisa nangani ya ditangani jadi mulai pendampingan anak itu sampai persidangan," ujar Sri dikonfirmasi, Senin (20/1/2020).

AYO BACA : Ramai Dukungan Terhadap Pelajar SMA yang Bunuh Begal

Sri melanjutkan, jika nantinya diperlukan advokasi level tinggi, LPA Jatim siap turun mendampingi anak korban pencabupan tersebut. Artinya, jika nantinya ada penolakan dari para korban untuk bersaksi di persidangan, LPA Jatim akan langsung masuk ke ranah tersebut.

"Sering (LPA Jatim beri pendampingan hukum). Kadang kan Polda kesulitan, ketika si korban gak berani bersaksi atau cerita benar di pengadilan. Perlu pendampingan supaya adek-adek ini berani, enggak takut gitu dan keluarganya mau cerita. Itu yang kita diminta untuk membantu untuk menguatkan," ujar Sri.

Sri juga mengingatkan kepada hakim yang nantinya menyidangkan kasus tersebut, agar persidangan digelar berdasarkan perspektif anak. Yakni, sidang digelar secara tertutup.

Karena, kata dia, masih ada hakim yang menyidangkan kasus melibatkan anak, tanpa menggunakan perspektif anak. "Jadi hakimnya harus berwawasan perespektif ke anak. Jangan hakimnya ini tidak berperspektif anak. Kadang melemparkan kata-kata yang membuat anak trauma," ujar Sri.

Sri mengungkapkan, data pencabulan anak di Tulungagung memang terbilang tinggi dibanding daerah lainnya di Jatim. Namun, kata dia, tingginya angka tersebut karena masyarakat dan anak yang menjadi korban di Tulungagung lebih terbuka.

Artinya, mereka berani melaporkan kejadian ketika ada kasus pecehan seksual terhadap anak. "Mereka cepat tanggap dan anak-anak itu cepat membuka diri atas suatu perlakuan yang tidak benar. Kadang di daerah lain kan lebih tertutup. Setelah banyak korban baru berani melapor," kata Sri

Ketua Ikatan Gay Tulungagung

AYO BACA : Surabaya Rutin Normalisasi Sungai: Antisipasi Banjir

Sebelumnya, Ditreskrimum Polda Jatim menangkap warga Kecamatan Gondang, Tulungagung, Hasan (41) yang akrab disapa Mami, atas dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur.

Berdasarkan penyelidikan, setidaknya ada 11 anak yang diduga menjadi korban pencabulan dari tersangka. Tersangka yang merupakan pengelola kedai kopi tersebut, juga mengaku sebagai ketua Ikatan Gay Tulungagung.

"Dia adalah ketua Ikatan Gay di Tulungagung. Jadi gay ini ada ikatannya juga, dan dia ini ketuanya," ujar Dirreskrimum Polda Jatim, Kombes Pol R. Pitra Andrias Ratulangie di Mapolda Jatim, Surabaya, Senin (20/1/2020).

Pitra menjelaskan, pengungkapan kasus tersebut bermula dari laporan masyarakat, terkait dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan Mami H. Polisi kemudian melakukan pendalaman terhadap laporan tersebut. Setelah 12 hari melakukan penyelidikan, polisi akhirnya menangkap Mami H dan menetapkannya sebagai tersangka, atas dugaan kasus tersebut.

"Kita punya waktu sekitar 12 hari untuk melakukan penyelidikan. Pada saat penyelidikan, kami telah menemukan kurang lebih 11 korban anak-anak di bawah umur yang menjadi korban dari tersangka mami H ini. Usianya di bawah 17 tahun," kata Pitra.

Modus

Pitra kemudian menjabarkan modus yang digunakan tersangka untuk mengelabuhi korbannya. Mami H yang merupakan pengelola kedai kopi ini, manjadikan anak-anak yang nongkrong di kedainya sebagai korban. Para korban diiming-imongi dengan uang Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu.

"Kemudian anak yang terjebak dibawa ke rumah yang bersangkutan. Di sana lah dia melakukan pencabulan terhadap para korban. Barang buktinya banyak, ada 23 item. Mulai celana hingga CD berisikan gambar laki-laki telanjang," ujar Pitra.

Tersangka dikenakan Pasal 82 (1) Undang-Undang RI Nomor 17 tahun 2016 tentang perubahan ke dua atas Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Adapun ancaman hukumannya adalah maksimal 15 tahun penjara.

AYO BACA : Isi Acara MeMiles, Pinkan: Lumayan Buat Beli Tas

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar