Hakim Vonis Bebas Semua Terdakwa Kasus Jalan Gubeng Ambles

  Kamis, 12 Maret 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Persidangan kasus amblasnya Jalan Gubeng di PN Surabaya, Senin (7/10/2019). [Suara.com/Achmad Ali]

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Enam terdakwa kasus amblesnya Jalan Raya Gubeng, Surabaya, akhirnya menerima putusan hakim pada Kamis (12/3/2020). Enam orang dari 2 perusahaan berbeda itu divonis bebas.

Sidang putusan ini dibagi dalam dua sidang yang berbeda. Pertama, yaitu sidang untuk PT Nusa Konstruksi Engineering (NKE). PT NKE merupakan kontraktor pelaksana proyek Gubeng Mixed Use Development yang terletak di lokasi longsornya Jalan Raya Gubeng.

Tiga terdakwa dari PT NKE adalah Budi Susilo selaku Direktur Operasional PT NKE, lalu Rendro Widoyoko sebagai Manager PT NKE, dan Aris Proyanto selaku Side Manager dari PT NKE.

Ketua Majelis Hakim PN Surabaya R. Anton Widyopriono membacakan amar putusan atas PT NKE. Setelah menjelaskan jalannya persidangan yang menjadi pertimbangan hakim, ia pun memutuskan 3 terdakwa dari PT NKE tidak bersalah dan divonis bebas

"Menyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah dalam dakwaan satu dan dua, membebaskan terdakwa dari dakwaan satu dan dua. Memulihkan hak terdakwa harkat dan martabatnya. Melimpahkan biaya perkara ini pada negara," ujar Anton.

Ketiga terdakwa pun menerima putusan tersebut. Sementara Jaksa Pentuntut Umum (JPU) mengambil kesempatan 7 hari untuk memikirkan apakah menerima putusan tersebut atau mengajukan banding.

"Kami pikir-pikir yang mulia," jawab JPU, Rahmat Hari Basuki.

Sidang berikutnya untuk tiga terdakwa lain dari PT Saputra Karya (SK) yaitu Ruby Hidayat selaku project manager PT SK, Adittya Kurniawan Eko Yuwono selaku Project Civil Structure Supervisor PT SK, Lawi Asmar Andrian selaku struktur enginering atau struktur teknik PT SK. Setali tiga uang, tiga terdakwa dari PT SK juga diputus tak bersalah dan menerima vonis bebas.

"Menyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyaknikan bersalah melakukan dakwaan satu dan dua. Membebaskan terdakwa dari dakwaan satu dan dua. Memulihkan hak terdakwa dalam harkat dan martabat. Membebankan biaya perkara ini kepada negara," tutur Anton.

Setelah berunding dengan kuasa hukum, terdakwa dari PT SK pun menerima putusan. Sementara lagi-lagi, JPU memutuskan untuk pikir-pikir selama sepekan.

"Kami mewakili terdakwa, puji syukur dan terima kasih telah adil. Kami terima putusan, yang mulia," ungkap kuasa hukum terdakwa PT SK, Martin Suryana.

Sidang pun ditutup dengan putusan yang belum berkekuatan hukum tetap menanti keputusan JPU apakah mengajukan banding atau tidak.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar