Korban Fetish Bungkus Kain Jarik Berjumlah 25 Orang

  Sabtu, 08 Agustus 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Barang bukti yang di sita polisi dari kamar kos tersangka dan korban. (Suara.com/Arry Saputra)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Gilang, pelaku fetish kain jarik mengaku, selama lima tahun telah menjaring sebanyak 25 korban.

Selama itu pula, Gilang melakukan fetish secara visual dan berhadapan langsung.

“Totalnya 25 korban dan kita masih dalami. Selama lima tahun ini pelaku melakukan fetish secara visual dan berhadapan langsung bersama korban,” ujar Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Jhonny Eddizon Isir, saat gelar perkara di Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (8/8/2020).

Melansir Beritajatim.com, Gilang juga mengaku merasakan adanya rangsangan, terlebih jika pelaku melihat secara langsung korban maupun tidak.

Hampir sama dengan Bondage and Discipline, Dominant and Submission, Sadism and Masochism (BDSM) yang secara terang-terangan terangsang melihat korban yang menurutnya, tersiksa dan terikat.

Hanya saja, dari kasus ini kepolisian menerapkan pasal UU ITE lantaran pelaku lebih memenuhi unsur tindak pidana ini.

“Untuk unsur kekerasan seksual masih di dalami apakah bisa memenuhi unsur atau tidak. Yang pasti pelaku kita jerat UU ITE dengan ancaman penjara paling lama 6 tahun,” tegasnya. 

Lebih lanjut Kapolrestabes Surabaya menjelaskan, sejauh ini sudah ada 20 korban yang melaporkan ke pusat pelaporan di Unair. 

Sedangkan korban lain akan melapor atau tidak pihak kepolisian masih menunggu.

Barang Bukti

Sementara itu, polisi menemukan beberapa barang bukti berupa kain jarik, lakban dan tali, di kamar kamar kos Gilang. Barang itu ditemukan dari hasil penggeledahan pihak kepolisian. 

Dalam aksinya, dia meminta korban membungkus diri untuk memenuhi hasrat seksualnya. Adapun Barang bukti tersebut diperlihatkan saat konferensi pers di Mapolrestabes Surabaya.

"Ini sebagian kita sita saat menggeledah kamar kos tersangka," ujar Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Jhonny Eddizon Isir, seperti dilansir dari Suara.com-jaringan AyoSurabaya.com.

Isir mengungkapkan kenapa bisa ada barang-barang tersebut di kamar kos Gilang, karena jika sewaktu-waktu ada korban yang bisa dibujuk olehnya dan terperangkap permainannya tersebut dia bisa melalukamnya secara langsung di sana.

Contohnya saja, salah satu kejadian yang menimpa korban berinisial W pada 2015 lalu. Tahun itu adalah awal di mama Gilang mulai mempraktekan bungkus membungkus orang dengan kedok penelitian dan riset.

"Kalau korban yang dibungkus secara langsung ini juga mengalami tindakan-tindakan (pelecehan seksual) lain dari tersangka," katanya.

Tak hanya barang bukti dari kamar kos mantan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) saja, polisi juga meminta kain jarik dari korban inisial MFS. Ia adalah korban yang membuat utas di twitter hingga kasus ini mencuat.

Barang yang disita berupa tiga lembar jarik, lakban, dan tali temali yang menjadi bukti ketika MFS dipaksa untuk membungkus diri memenuhi fantasi seks dari Gilang.

"Kami juga mengamankan device sebagai alat komunikasi korban dan tersangka sesuai pasal yang dikenakan yaitu UU ITE," pungkasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar