Terjepit Kebutuhan Ekonomi, Pasutri di Kediri Buka Layanan Jasa Swinger

  Rabu, 12 Agustus 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi (Istimewa)

KEDIRI, AYOSURABAYA.COM -- Kalah dengan kebutuhan ekonomi, pasutri di Kediri nekat buka layanan swinger atau bertukar pasangan.

Mereka MZN (43) dan istrinya KSH (40) warga Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri. Keduanya dibekuk petugas dari sebuah penginapan di Kediri.

Kapolresta Kediri, AKBP Miko Indrayana mengatakan, terbongkarnya kasus tersebut bermula dari patroli siber Satreskrim.

“Tersangka suami istri menawarkan layanan berganti pasangan atau threesome di akun Facebook. Apabila ada yang berminat mereka akan memberikan layanan tersebut dengan bayaran berbeda,” kata AKBP Miko Indrayana seperti dilansir Beritajatim.com dan Suara.com, Selasa (11/8/2020).

Tersangka telah melakoni aktivitasnya sejak 2018 lalu. Mereka mematok tarif antara Rp 700 sampai Rp 800 untuk sekali kencan. 

Perbuatan tersebut dilatar belakangi oleh adanya motif perekonomian.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat pasal 296 LKUHP atau pasal 506 KUHP tentang perbuatan pidana untuk mempermudah seseorang melakukan perbuatan cabul.

Ahli 

Satuan Reskrim Polresta Kediri tengah melakukan penyidikan terkait perilaku tak lazim yang dilakukan oleh pria berinisial MZN (43) dan istrinya KSH (40) dengan memberikan layanan esek-esek tukar pasangan atau swinger dan threesome.

Nantinya polisi bakal mendatangkan saksi ahli untuk memeriksa perilaku seks para pelaku.

“Suami menjual istrinya. Dan istrinya ini juga mau. Ini sudah terjadi sejak tahun 2018. Nanti dari ahli yang bisa mengetahui mereka,” ujar Kasat Reskrim Polresta Kediri, AKP Verawati, Selasa.

Kasus prostitusi online pasutri MZN dan KSH ini terbongkar dari patroli cyber Satreskrim Polresta Kediri.

Kedua pelaku diamankan bersama tiga orang lain di sebuah penginapan di Kota Kediri.

Polisi menetapkan keduanya sebagai tersangka. Pasalnya, mereka memiliki peran yang sama dalam kasus tersebut.

Baik sang suami maupun istri saling mencari pelanggan, sekaligus memberikan pelayanan esek-esek. Sedangkan tiga lainnya hanya berstatus sebagai saksi 

Dari penyidikan yang dilakukan petugas, tersangka asli Kediri. Tetapi, mereka memiliki KTP Jakarta. Keduanya memanfaatkan media sosial seperti twitter dan facebook untuk menawarkan bisnis syahwat tersebut.

Diakui AKP Verawati, kasus serupa memang sudah banyak terjadi. Saat ini akun-akun yang menawarkan jasa prostitusi berseliweran di media sosial, sehingga sangat gampang diakses oleh masyarakat. Untuk itu, pihaknya akan meningkatkan peran tim cyber dalam patroli di dunia maya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar