Deteksi Mutasi Covid-19, RSUD dr Soetomo Usulkan Lab Baru

  Sabtu, 05 September 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi virus corona (MgIt03/Republika)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- RSUD Dr Soetomo Surabaya mulai khawatir terhadap potensi mutasi virus corona atau SARS-CoV-2. 

Kekhawatiran tersebut tak berlebihan mengingat jika Covid-19 bermutasi maka akan muncul potensi baru penularan dan kematian.

Dirut RSUD dr Soetomo Joni Wahyuhadi mempercayai virus corona bisa bermutasi. Oleh sebab itu sebagai rumah sakit rujukan utama bagi pasien Covid-19 ingin ada laboratorium baru yang digunakan untuk mendeteksi virus corona.

Joni berpendapat semakin lama virus akan semakin pintar atau beradaptasi. Bentuk virus corona yang berupa RNA dengan single-stranded memudahkan proses mutasi.

"Jadi semakin lama virus akan makin pintar menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dalam artian supaya bisa menyakiti orang itu. Teorinya kalau virus masuk dalam satu komunitas lama-lama virusnya kalah, dari kekalahan itu dia sadar diri dan akhirnya merubah diri," ujarnya, Jumat (4/9/2020).

Joni melanjutkan, mutasi virus juga bisa berpengaruh pada gejala tiap pasien. Misalnya ada pasien yang kehilangan penciumannya namun tidak demam, atau bisa juga sebaliknya. Hal itu bisa dipengaruhi oleh susunan protein RNA virus yang berubah akibat mutasi sel.

"Kayak Si A dan si B kan ada pasien kehilangan baunya nonjol sekali, atau ada panasnya yang nonjol sekali. Ada juga yang tidak panas, mungkin strain-nya beda, virusnya mutasi," katanya.

Untuk bisa mendeteksi adanya mutasi virus, Joni meminta kepada Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa agar bisa menyediakan Laboratorium Biosafety Level 3 (BSL-3). Hal ini berguna dalam perawatan pasien bisa lebih efektif dan efisien. Selain itu juga bermanfaat untuk perkembangan penelitian secara global.

"Karena RSU dr Soetomo kan rumah sakit pendidikan, dan kita upayakan untuk mendapatkan laboratorium yang namanya BSL-3 dengan tes kultur. Dengan kultur itu kita akan mengetahui oh ini beda, kalau beda kemungkinan bisa mermutasi, protein-proteinnya itu. Ada 4 protein itu akan beda susunannya atau profilnya," ujarnya.

Namun, kata Joni, sampai saat ini kebenaran mengenai mutasi virus di Jatim belum bisa dipastikan apakah memang ada. Untuk itu masyarakat tetap patuh terhadap protokol kesehatan untuk mengurangi risiko penularan.

"Kita tidak punya kemampuan kultur, yang ada di ITD Unair. Itu pun harus sequencing, dicek satu-satu. Nah makanya ke depan kami harap disupport oleh gubernur untuk punya alat seperti itu. Orang-orang juga harus lebih hati-hati patuh protokol kesehatan," katanya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar